Oleh: Imam Nur Suharno
Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat dan Alumni Pesantren Raudlatul Ulum Pati Jawa Tengah
Badan Gizi Nasional (BGN) akan menerapkan aturan empat jam makanan wajib dikonsumsi setelah matang serta seluruh dapur SPPG wajib memiliki Sertifikat Laik Higienis Sanitasi (SLHS). Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya keracunan dan menjaga kualitas gizi anak bangsa.
Namun aturan teknis saja tidak cukup. Agar MBG tidak menjadi sekadar program, ia butuh ruh. Ruh itu kita temukan dalam pengelolaan makan di pesantren. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika SPPG melakukan "studi tiru" ke pesantren terkait tata kelola dapur umum yang baik dan profesional yang dapat diterapkan dalam program MBG.
Tata kelola dapur umum yang baik sangat penting untuk memastikan bahwa program MBG berjalan efektif dan efisien. Beberapa prinsip tata kelola yang baik antara lain adalah transparansi. Bahwa pengelolaan dana dan kegiatan dapur umum harus transparan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Kemudian, akuntabilitas. Pengelola dapur umum harus bertanggung jawab atas kegiatan dan penggunaan dana. Dan, efisiensi. Pengelolaan dana dan kegiatan dapur umum harus efisien dan efektif.
Studi Tiru di Pesantren
Pesantren dapat menjadi contoh bagi para pengelola program MBG dalam mengelola dapur umum yang baik dan profesional. Mengapa pengelola MBG perlu melakukan studi tiru di pesantren? Beberapa alasan mengapa pesantren dapat menjadi contoh nyata.
Pertama, pengalaman mengelola makan dalam jumlah besar. Pesantren sudah terbiasa mengelola makan dalam jumlah besar untuk santri, sehingga mereka memiliki pengalaman dan pengetahuan yang cukup dalam mengelola dapur umum. Sementara pengelola MBG pada umumnya belum memiliki pengalaman yang cukup, maka wajar jika terjadi permasalahan di sana sini.
Kedua, efisiensi dan efektivitas. Pesantren telah mengembangkan sistem pengelolaan dapur yang efisien dan efektif untuk memenuhi kebutuhan santri. Di pesantren mengelola makan santri tiga kali dalam sehari, pagi siang dan sore atau malam. Sementara pengelola MBG hanya sekali dalam sehari.
Ketiga, kualitas makanan yang baik. Pesantren juga telah mengembangkan resep dan menu bervariasi dalam sehari tiga menu yang berbeda, yang bergizi dan lezat untuk santri. Sementara pengelola MBG hanya mengelola satu variasi menu makan dalam sehari.
Implementasi Studi Tiru
Dengan mempelajari tata kelola dapur umum di pesantren yang telah teruji, program MBG dapat meningkatkan kualitas pelayanannya dan memastikan bahwa dana yang digunakan efektif dan efisien.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan setelah melakukan studi tiru di pesantren antara lain: pengelolaan dana program MBG harus transparan dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik; dana program MBG harus digunakan secara efektif dan efisien untuk membeli bahan makanan yang bergizi dan berkualitas; dan makanan yang disajikan harus halal, bergizi dan berkualitas untuk meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup penerima manfaat.
Investasi Pendidikan Karakter
Sejatinya di balik penyelenggaraan MBG terdapat investasi pendidikan karakter. Hal ini karena dilakukan secara masif, terukur, dan terstruktur, serta dilakukan secara berulang, setiap hari di seluruh sekolah dan di seluruh wilayah Indonesia.
Investasi pendidikan karakter ini adalah upaya untuk menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik sejak dini. Pendidikan karakter yang baik dapat menjadi fondasi kuat bagi anak-anak untuk meraih kesuksesan di berbagai aspek kehidupan.
Intisari dari pendidikan karakter adalah pembiasaan. Untuk pengembangan potensi diri peserta didik diperlukan pendidikan pembiasaan. Dalam syair dikatakan, “Anak akan tumbuh pada apa yang dibiasakan ayahnya kepadanya. Ia tidak dapat tunduk oleh akal, tetapi kebiasaanlah yang dapat menundukkannya.”
Dalam pepatah Arab, man syabba ’ala syai’in, syaaba ’alaihi, barangsiapa yang membiasakan sesuatu (di waktu mudanya), maka akan terbiasa melakukannya (di masa tuanya). Dalam proses pembiasaan, peserta didik perlu dihindarkan cara-cara kekerasan dalam pendidikan.
Berkaitan hal tersebut, Nabi SAW telah menegaskan dalam sabdanya, “Perintahkanlah anak-anakmu untuk salat ketika umurnya telah mencapai tujuh tahun, pukulah mereka (jika tidak mau salat) jika telah berumur sepuluh tahun. Dan, pisahkanlah tempat tidur di antara mereka.” (HR Abu Dawud).
Islam mengalokasikan waktu selama tiga tahun berturut-turut untuk mengajarkan salat pada anak didik. Hal ini merupakan rentang waktu yang leluasa untuk membiasakan shalat. Jika masih belum terbiasa melakukannya selama rentang waktu pembiasaan tersebut, langkah tegas (bukan keras) harus diambil untuk menjamin mapannya kebiasaan itu.
Jika dihitung, perintah salat berdasarkan hadis di atas, setiap orang tua menyuruh anaknya untuk mengerjakan salat selama tiga tahun dan pada setiap waktu salat akan menghasilkan jumlah hitungan yang sangat banyak. Hitungan itu adalah 5 waktu x 365 hari x 3 tahun = 5.475. Sekiranya angka tersebut memiliki arti, maka hal itu menunjukkan pentingnya pengulangan dalam mendidik anak didik. Jika hal ini dapat dilakukan akan dapat melahirkan peserta didik yang beriman dan berakhlak mulia sebagai modal dalam mengelola bangsa dan negara.
Selain pembiasaan, diperlukan keteladanan dalam pendidikan karakter. Keteladanan sesuatu yang prinsipil dalam pendidikan. Tanpanya, proses pendidikan ibarat jasad tanpa roh. Naluri untuk meneladani merupakan naluri yang kuat dan berakar dalam diri manusia. Dan, naluri ini akan semakin menguat lewat melihat.
Sejalan dengan pendapat para ahli psikologi yang mengatakan, 75 persen proses belajar didapatkan melalui penglihatan dan pengamatan, sedangkan yang melalui pendengaran hanya 13 persen. Pendidikan itu by doing, bukan by lips: pendidikan adalah dengan teladan bukan dengan verbal.
Dalam penyelenggaraan program MBG di sekolah, pendidik dan tenaga kependidikan mestinya turut serta dalam membersamai dan ikut makan bareng sehingga peserta didik dapat melihat langsung teladan dari civitas sekolah. Sehingga, pendidik dan tenaga kependidikan benar-benar mampu menjadikan dirinya sebagai ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani.
Nilai Keberkahan
Implementasi program MBG ini juga untuk penguatan karakter peserta didik. Karenanya ada beberapa upaya yang perlu dilakukan agar benar-benar dapat membentuk karakter peserta didik dan melahirkan keberkahan melalui MBG ini.
Pertama, memastikan MBG bersumber dari anggaran yang halal. Hal ini ditegaskan dalam Alquran, “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah [2]: 168).
Kedua, implementasi nilai-nilai spiritual. Para pendidik dan pendamping program MBG benar-benar memperhatikan dan membiasakan peserta didik untuk berdoa sebelum dan sesudah makan. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan rasa syukur dan menanamkan kebiasaan baik yang mendukung pembentukan karakter. Doa sebelum makan Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar (Ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka). Doa selesai makan Alhamdulillahilladzi ath-amanaa wa saqoonaa wa ja'alanaa minal muslimiin (Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum serta menjadikan kami termasuk dari kaum muslimin).
Ketiga, etika makan dan minum. Etika makan dan minum ini hendaknya ditempel agar peserta didik membaca dan mempraktekkannya. Jika etika ini setiap hari dibaca dan dipraktekkan maka peserta didik akan sangat hafal. Berikut etikanya: mencuci tangan ketika hendak makan, membaca basmalah sebelum makan, membaca hamdalah setelah makan, berkumur setelah makan, makan dengan tangan kanan, makan menggunakan tiga jari, mengambil makanan yang terdekat, tidak makan sambil berbaring, tidak mencaci makanan, tidak membiarkan makanan yang jatuh, tidak berlebih-lebihan dalam makan, minum dengan tiga tegukan dan membaca basmalah, tidak bernafas dalam bejana (tempat minum), tidak makan dan minum dengan berdiri, toleransi dan tenggang rasa.
Keempat, nilai tanggung jawab. Sebagai upaya untuk menanamkan nilai tanggung jawab, peserta didik diajarkan untuk membawa peralatan makan dari rumah, yang kemudian mereka cuci sendiri setelah selesai digunakan. Tujuannya untuk meningkatkan rasa tanggung jawab terhadap barang pribadi, membiasakan hidup bersih dan mandiri.
Dengan melakukan studi tiru di pesantren, program MBG dapat meningkatkan kualitas pelayanannya dan mencapai tujuannya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam tata kelola program MBG. Semoga.
Kategori : News
Editor : AHS

Posting Komentar