KLB Demokrat, Jabatan SBY Sebagai Majelis Tinggi "Diamputasi"

DELI SERDANG, suarapembaharuan.com - Selain resmi memilih Moeldoko yang merupakan Kepala Staf Kepresiden (KSP) sebagai Ketua Umum Demokrat, Kongres Luar Biasa (KLB) Demokrat di Hotel The Hill, Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut), juga memutuskan membubarkan posisi majelis tinggi, yang saat ini dijabat oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).




Jhoni Allen Marbun selaku pimpinan sidang menyebutkan, KLB Demokrat menyepakati mengembalikan aturan partai ke AD/ART yang disahkan pada Kongres 2005. Dengan putusan tersebut, sejumlah aturan baru yang ada di Partai Demokrat, secara otomatis dibubarkan. Posisi majelis tinggi ditiadakan. 



Menurut Jhoni sesuai keputusan KLB, selama ini keberadaan majelis tinggi sudah mengamputasi kewenangan yang dimiliki oleh para DPC maupun DPD Partai Demokrat. Padahal, pimpinan DPC maupun DPD Demokrat seharusnya memiliki hak suara dalam kongres. 



Seperti diketahui, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal Purn Moeldoko ditetapkan sebagai Ketua Umum Partai Demokrat oleh peserta Kongrew Luar Biasa (KLB) di Hotel The Hill, Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut), Jumat (5/3/2021).



Selain menetapkan mantan Panglima TNI itu sebagai Ketua Umum Partai Demokrat periode 2021 - 1025, KLB itu juga menyatakan kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjadi demisioner. Moeldoko berhasil mengalahkan Marzuki Alie, yang juga mencalonkan diri sebagai ketua umum dalam KLB itu.



Jhoni Allen Marbun sebagai pemimpin sidang menyebutkan, hasil voting dari peserta KLB memutuskan dukungan terhadap Moeldoko untuk menjadi Ketua Umum Demokrat. Setelah ketua umum terpilih, Demokrat memilih Marzuki Alie sebagai Ketua Dewan Pembina. 



Meski telah ditetapkan sebagai Ketua Umum, Moeldoko ternyata belum tiba di lokasi KLB. Berdasarkan panitia KLB, Moeldoko masih dalam perjalanan menuju Hotel The Hill. Petinggi Demokrat pendukung KLB itu kemudian menghubungi Moeldoko, dan memberitahukan hasil KLB.



Dengan menggunakan pengeras suara, oleh petinggi Demokrat pengusung kongres memberikan kesempatan kepada Moeldoko untuk berbicara. Saat itu, Moeldoko menanyakan keseriusan peserta KLB Demokrat tersebut.



"Apakah KLB ini sesuai dan serius apa tidak memilih saya sebagai Ketum," ucapnya bertanya. Saat itu, seluruh peserta dengan spontan menyatakan serius. Kemudian, Moeldoko menanyakan apakah serius menempatkan kepentingan merah putih di atas kepentingan lain. 



Hal ini juga dijawab dengan serius peserta KLB. "Oleh karena itu saya terima, Terima kasih," tutur Moeldoko.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama