Jangan Fitnah Ijeck dengan Segala Bentuk Kebohongan

MEDAN, suarapembaharuan.com - Langkah Ketua DPD I Partai Golkar Sumatera Utara (Sumut), Musa Rajekshah bersama Sekretaris Golkar Sumut, Datok Ilhamsyah, untuk membesarkan partai, mulai diganjal 'kerikil' di dalam partai.


Ist

Seperti kata pepatah yang mengatakan 'beriak tanda tak dalam' tampaknya berarti beda bagi Partai Golkar. Pasalnya, bagi Golkar, beriak bisa juga berarti sesuatu yang bergerak dan itu baik untuk kemajuan partai.


Setidaknya hal ini diyakini oleh Zulkifli, seorang kader di partai berlambang pohon beringin itu. "Begini, kerja di partai itu kan dinamis, bergerak terus. Yang bahaya itu kalau diam dan tak berbuat apa-apa," katanya di Medan, Rabu (19/7).


"Lebih bahaya lagi kalau tak berbuat tapi banyak cakap dan malah bicara yang bukan-bukan," tambahnya sambil tersenyum tipis.



Zul, sapaan akrab Zulkifli, tampak santai. Padahal, dia berbicara demikian terkait ada riak yang ditimbulkan seorang kader Golkar di sebuah media di Medan. 


Diberitakan kalau kader tersebut tidak puas dengan kepemimpinan Musa Rajekshah dan Ilhamsyah di Golkar Sumut. Ketidakpuasan tersebut muncul akibat sang kader yang tidak lagi menjabat di kepengurusan.


"Ini yang saya bilang tadi soal dinamis, riak yang baik. Jadi, pergantian adalah sesuatu yang wajar. Itu semua demi kebaikan partai dan usaha mewujudkan target. Kalau masalah pribadi dibawa ke kerja partai, ya, itu namanya riak yang tak baik," jelas Zul.



Adalah Ernawati Sitepu kader yang dimaksud. Sebelumnya perempuan ini menjabat Wakil Sekretaris DPD Partai Golkar Sumatra Utara. Selain pergantian posisi pada struktur organisasi Erna juga mengaku ada kasus adu domba pada partainya. Akibatnya, dia yang bekerja malah menjadi korban.


“Buktinya, kami dari pengajian Al Haura diadudomba dengan pengajian lain sesama kader Golkar Sumut. Kesannya, politik adu domba,” kata Erna seperti disiarkan medanbisnisdaily.com, Rabu (19/7/2022).


"Saya dibuang dari kepengurusan Partai Golkar Sumut. Kini, kami emak-emak pengajian Al Haura dengan tegas menyatakan menarik kembali dukungan,” tambahnya.



Terkait dengan pernyataan itu, Zul, mengaku prihatin. Baginya, Erna mungkin tak menyadari kalau segala keputusan pimpinan itu adalah demi kemajuan partai. Erna seakan menebar kebohongan, memfitnah.


"Lucu juga kalau kita bawa sentimen pribadi. Tidak dewasa sekaligus menunjukkan diri kalau tidak siap bergiat di partai. Pergantian itu kan untuk memperkuat kinerja ke depan. Pertanyaannya sekarang, dia mau tidak partai ini semakin kuat dan besar hingga mencapai target?" jelas Zul.


Lelaki plontos yang juga dikenal sebagai jurnalis ini pun menambahkan Golkar di bawah kepemimpinan Musa Rajekshah sudah berjalan di rel yang benar. 



"Lalu ketika menuding banyak kader yang tidak kerja, itu kan tidak benar. Kami ada 200 orang di kepengurusan, semuanya kerja dan Bang Ijeck (Musa Rajekshah) tahu semua itu karena koordinasinya benar. Lalu, klaim itu dari mana? Pergantian pengurus itu biasa dan wajar, semua demi kemajuan partai, jadi jangan bawa-bawa pribadi. Lucu dibaca orang," tambah Zul sambil tertawa kecil.


Zul sejatinya tak mau ambil pusing soal pernyataan dan sikap Erna. Namun dia merasa perlu bicara karena apa yang disampaikan Erna banyak tidak benarnya. Kepemimpinan Musa Rajekshah dan Ilhamsyah, baginya, sangat mumpuni. Bahkan, karena keberadaan dua tokoh itulah, Zul memilih bergabung dengan Golkar.


"Beliau-beliau itu orang hebat, pintar, peduli, dan memiliki rencana yang hebat untuk Golkar di Sumut ini. Orang lain masih memikirkan, Bang Ijeck dan Datok Ilhamsyah malah sudah selesai berbuat," tegasnya.


Dengan kata lain, Zul mengatakan, di bawah kepemimpinan keduanya dia yakin Golkar akan semakin hebat dan besar.


"Jadi partai ini beriak bukan karena tak dalam. Dia dinamis. Terus bergerak menuju yang lebih baik. Kalau ada yang beriak tanda tak dalam, ya, itu bukan kami," pungkasnya.


Kategori : News

Editor     : AHS


Lebih baru Lebih lama