Prof Abdurrahman Guru Besar UINSU Siap Perbaiki Pengelolaan BKI di Madrasah dan Pesantren

MEDAN, suarapembaharuan.com - Salah seorang calon Dekan Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UIN Sumatera Utara Prof Dr Abdurrahman, M.Pd, resmi menerima surat keputusan Guru Besar yang diserahkan langsung Sekjen Kemenag Prof Nizar Ali, bersama 17 Guru Besar lainnya, Rabu (3/7/2022).


Prof Abdurrahman (tiga dari kanan). Ist

Nizar berharap agar para guru besar memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengembangan mutu dan daya saing PTKIN. Ia juga meminta para guru besar untuk dapat menarasikan moderasi beraga ke dalam karya ilmiah yang dihasilkan sesuasi dengan keilmuan masing-masing terhadap paham-paham yang berkembang.


“Sehingga tidak menutup jalan untuk berkreasi dan secara spesifik keilmuan itu dikoneksikan dengan moderasi beragama karena mandatori kita penguatan moderasi beragama sebagai butir dari amanah RPJMN 2020-2024 kepada Kementerian Agama," katanya.


Sosok Prof Abdurrahman menjadi salah satu penerima SK Guru Besar itu. Saat ini, setelah meraih Guru Besar Rahman punya kewajiban yang lebih besar. 


Selain membantu Rektor UINSU sebagai salah satu Ketua Pusat Pengembangan Mahasiswa LPM UINSU, Rahman saat ini adalah salah satu Calon Dekan FIS UINSU yang diharapkan Rektor dapat memperkuat fakultas tersebut.


"Ke depan, saya juga siap berkontribusi untuk memperbaiki praktik dan pengelolaan Bimbingan Konseling Islam di madrasah-madrasah atau pesantren yang di bawah binaan Kemenag," kata Rahman, Kamis (4/8/2022).


Kemudian kata dia, kompetensi guru-guru Bimbingan Konseling Islam juga harus kita tingkatkan. "Termasuk juga kepangkatan dan kesejahteraannya," ujar pria yang aktif di Asosiasi Bimbingan dan Konseling Islam (ABKI) ini.


Mengenal Prof Rahman YZ

Bagi kalangan UINSU, pria kelahiran Tanjung Balai ini cukup dikenal sepak terjangnya. Rahman YZ sejatinya sama dengan anak-anak lainnya. Punya cita-cita, membahagiakan orang tua dan lainnya. 


Keterbatasan hidup di masa kecil tak membuat anak dari pasangan Yahya Simanjuntak dan Zurmiah Manurung, berpatah arang. Ia ke Medan untuk kuliah pada tahun 1988. Rahman meyakini pendidikan adalah jalur yang dapat ditempuh untuk meraih cita di masa depan.


Ia berhasil menuntaskan kuliahnya di Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Medan sebagai wisudawan terbaik atau cumlaude pada 1993. Lalu ia melamar menjadi dosen PNS di IAIN Medan dan lulus. Sejak itu, jalur Rahman menapak ke atas. Perlahan tapi pasti, seperti kata petuah orang tua dulu.


Rahman menyiapkan dirinya untuk menapak jalur akademik itu. Tak lupa ia tetap berbakti pada orang tua dan keluarga. Ia bahkan menjadi tulang punggung untuk menyekolahkan sejumlah keponakannya, hingga saat ini mereka semua berhasil dalam pekerjaan masing-masing.


Sembari itu, dengan karir di UINSU dia melanjutkan pendidikan S2 Bimbingan Konseling di Universitas Negeri Padang dan pada 2018 ia meraih Doktor di UINSU. Puncaknya, tentu saja gelar Guru Besar yang diraihnya ini. 


Capaian Ayah tiga putri ini bukan sesuatu yang terjadi begitu saja. Sebagai anak yang lahir dan besar dalam keluarga Batak yang budaya daya juang tinggi serta hidup di kawasan pesisir yang identik dengan budaya Keislaman, Rahman tahu persis tentang falsafah hidup yang bisa mengawalnya meraih keberkahan hidup. 


Kemampuan Guru Besar Ilmu Bimbingan Konseling Islam ini dalam merawat persahabatan, menghormati senior dan membina junior tak bisa dinafikan menjadi bagian yang identik dalam sosok Rahman YZ. Dalam keseharian, Rahman kerap menyampaikan falsafah dan petuah, yang ia yakini, kepada lawan bicaranya.


Kalimat "Jangan hapus garis orang lain, buat garis mu sendiri" atau "Only diamond cut the Diamond",adalah beberapa falsafah yang pernah ia sampaikan saat menyampaikan pendapat pada orang yang berdiskusi dengannya.(red)


Kategori : News

Editor     : AHS


Lebih baru Lebih lama