Pemerintah Perlu Tanggulangi Keracunan Timbal di Indonesia melalui Kurikulum

JAKARTA, suarapembaharuan.com - Lebih dari 8 juta anak di Indonesia memiliki kadar timbal melebihi batas kadar bahaya yang dapat menyebabkan gangguan pada sistem saraf dan dampak jangka panjang. 


Ist

Pada skala global, keracunan timbal menyebabkan 21,7 juta tahun kehilangan paruh hidup akibat sakit, kecacatan, dan kematian, atau yang lebih dikenal sebagai DALYs (disability-adjusted life years).


Indonesia termasuk negara di wilayah global burden disease, spesifiknya pada region Asia, dengan jumlah kematian dan rasio DALY tertinggi ke-3.


Melihat tantangan yang besar ini dan minimnya upaya pencegahan, CIMSA bersama UNICEF dan Vital Strategies berkolaborasi untuk melakukan kajian berbasis bukti mengenai pengetahuan mahasiswa kedokteran tentang keracunan timbal, yang kemudian disusun menjadi panggilan untuk aksi bagi pemangku kepentingan terkait.


CIMSA menyelenggarakan konferensi pers hasil kajian tersebut yang berupa policy brief berjudul “Penguatan Sistem Pendidikan Kedokteran dalam Upaya Penanggulangan Keracunan Timbal di Indonesia” pada 30 Januari 2023 di Jakarta.


Dalam konferensi pers, Tasya Nabiila Edlin, President CIMSA 2022/2023 mengatakan, “Mahasiswa kedokteran, sebagai calon tenaga kesehatan masa depan, juga memiliki andil dalam upaya preventif dan promotif mengenai keracunan timbal. 


CIMSA telah melakukan survei kepada 168 mahasiswa kedokteran di seluruh Indonesia angkatan 2019–2022, yang hasilnya tercantum pada Policy Brief dan didapatkan bahwa 61.9% responden mendapat hasil dibawah rata-rata (4,32 dari 11 poin), dan termasuk kategori “buruk” pada pemahaman mahasiswa terkait pemahaman, deteksi, pencegahan, serta penanganan keracunan timbal.”


Aryanie Amellina, Spesialis Aksi Lingkungan dan Iklim UNICEF Indonesia, menambahkan “tenaga kesehatan banyak yang tidak mengetahui adanya pencemaran timbal dan risiko yang ditimbulkannya, terlebih lagi terhadap anak-anak, sehingga edukasi terkait pencemaran lingkungan (termasuk timbal) beserta pencegahan dan tata kelolanya perlu dimasukkan ke dalam edukasi formal.”


“Kajian ini dapat ditindaklanjuti sebagai bahan untuk perbaikan kurikulum terkait dengan isu lingkungan dengan mengirim surat kepada Kolegium Dokter Indonesia, dengan tembusan ke Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset Teknologi, dan Pendidikan Tinggi), KKI (Konsil Kedokteran Indonesia), dan seluruh Institusi Pendidikan di Indonesia sebagai kurikulum inti atau kurikulum tambahan. 


"Kami siap mendukung CIMSA dalam memperbaiki kurikulum Pendidikan Dokter terkait masalah kesehatan lingkungan." – tegas dr. Putu Moda Arsana, SpPD-KEMD, Ketua Konsil Kedokteran Indonesia.


Para panelis menyampaikan apresiasi terhadap usaha CIMSA dalam penanganan masalah keracunan timbal dan pengarusutamaan isu timbal ke dalam kurikulum kedokteran. Diharapkan ada tindak kolaboratif yang dilakukan oleh berbagai pihak untuk mengatasi tantangan keracunan timbal.


Termasuk memperoleh data yang menyeluruh mengenai pencemaran timbal di Indonesia dan pengecekan kadar timbal dalam darah terutama pada daerah risiko tinggi seperti Tegal dan Bogor, sebagaimana disampaikan oleh Ferhad Alsadad, Program Manager Vital Strategies, bahwa kedua daerah tersebut merupakan daerah dengan tingkat kontaminasi timbal yang tinggi dari kegiatan peleburan aki bekas pada masa lalu.


Kategori : News

Editor     : ARS


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama