Alumni SMAN 68 Angkatan 84, Bantu Turunkan Anemia Siswa

JAKARTA, suarapembaharuan.com - Alumni SMAN 68 Jakarta angkatan pertama tahun 1984 (84) kembali ke almamater melakukan sejumlah kegiatan sosial, termasuk pengecekan kesehatan guna membantu menurunkan anemia siswa di sekolah tersebut yang didukung oleh Puskesmas Kecamatan Senen.


Foto: Alumni SMAN 68 Jakarta angkatan pertama tahun 1984 (84) melakukan pengecekan kesehatan guna membantu menurunkan tingkat kekurangan darah (anemia) siswa di sekolah tersebut yang didukung oleh Puskesmas Kecamatan Senen di Jakarta. (ist)

"Kegiatan ini sungguh bermanfaat bagi murid-murid. Terlebih murid-murid kami sebagian besar penerima Kartu Jakarta Pintar (KJP) sesuai zonasi," Kepala Sekolah SMAN 68, Yunidar dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (22/6/2023).


Sebelumnya pada Maret lalu telah dilakukan pengecekan kualitas kesehatan murid SMAN 68, untuk memastikan generasi muda yang akan tampil berperan dalam Indonesia Emas 2045 betul-betul dalam kondisi sehat. Hasilnya diketahui 22 murid terdampak kekurangan darah (anemia).


Setelah itu, di Juni ini dilanjutkan guna menurunkan angka anemia yang saat ini tinggal tujuh siswa lagi yang masih mengalami anemia. Untuk memitigasi sejumlah hasil negatif ini akan diberikan lagi penyuluhan yang akan dilakukan oleh Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI yang merupakan alumni 68 angkatan 84, dr Jusuf Kristanto.


Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) KLHK yang merupakan angkatan pertama SMAN 68, Ade Palguna menjelaskan edukasi berkelanjutan mengenai keseimbangan gizi dan kesehatan remaja juga dilakukan oleh Duta Remaja 68. Kegiatan ini melibatkan dan memperoleh dukungan dari banyak para alumni untuk ikut membantu kegiatan tersebut.


Vice President Head of Social Investment Dept PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, R Artsanti yang juga alumnus pertama SMAN 68 mengatakan sejumlah mitigasi yang dilakukan telah memberikan hasil yang sangat menggembirakan. 


Melalui program intervensi yang telah dilakukan sejak pemeriksaan kesehatan sebanyak 22 orang murid mengalami anemia berhasil ditekan menjadi hanya tinggal tujuh orang di bulan Juni 2023.




“Kami berharap murid-murid tak ada lagi yang mengalami anemia di bulan Agustus, setelah program ini selesai,” ujar Artsanti.


Kegiatan peningkatan kecukupan gizi dan kesehatan murid ini dilaksanakan oleh alumni SMAN 68 angkatan pertama yang merasa beruntung dapat menimba pengetahuan di SMA itu. Yusnaini Yusuf yang juga founder Desa Bukit Indah Foundation menambahkan bahwa dirinya selaku alumni SMAN 68 angkatan pertama senang bisa bekerjasama kembali dengan teman-teman masa SMA lebih empat dekade yang lalu.


"Kami juga berusaha untuk menurunkan tingkat obesitas murid, yang di bulan Maret tercatat sejumlah 39 siswa, menjadi nihil di akhir program," tutur Yusnaini Yusuf.


Menurut Ria Endon yang memimpin Program Sosial SMAN 68 angkatan 84, kemungkinan besar obesitas itu terjadi karena murid-murid tak banyak bergerak karena terlalu asyik dengan gawai mereka.


“Karena itu kami perlu mendorong sekolah untuk menggiatkan kegiatan ekstra kurikuler di luar ruang, seperti kegiatan pramuka, olahraga atau kegiatan pecinta alam,” ungkapnya.



Sesama alumni seperti Rias Martafari, Ping Nurisya, dokter Ira Safitri Tanjung Sp.KJ (K) psikiater anak dan remaja yang juga Ketua PDSKJI Bogor serta drg Riska Yuliani bersama turut andil dalam kegiatan sosial tersebut untuk berperan dalam pemenuhan status kecukupan gizi di SMA 68.


Satu Abad Indonesia merdeka merupakan masa emas bagi kehidupan bangsa. Di tahun itu produk domestik bruto (PDB) mencapai 9.100 miliar dolar AS dan PDB per kapita sebesar 30.000 dolar AS. Indonesia menurut IMF (International Monetary Fund) akan menjadi negara dengan perekonomian keempat terbesar di dunia.


Agar hal itu dapat diraih dan berkelanjutan, sejak kini perlu dipersiapkan para remaja yang akan berkiprah dan berperan di masa itu. Untuk itu status kecukupan gizi mereka menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Ibaratnya, dalam pertandingan sepak bola atau basket, tak mungkin memenangkan pertandingan jika gizinya kurang.


Kecukupan gizi anak dan remaja merupakan bagian dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Seiring peningkatan populasi remaja di Indonesia diperlukan perhatian khusus karena akan berdampak pada tumbuh kembang, pemikiran dan nalar mereka.


Hal yang penting ini menjadi pemikiran alumni SMAN 68 Jakarta yang dipimpin oleh Ade Palguna R yang merupakan angkatan pertama di sekolah itu.


Kategori : News


Editor      : AHS


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama