Keren, Kini Dokter Bisa Monitor Pasien Gagal Jantung Jarak Jauh

TANGERANG, suarapembaharuan.com – Dunia kesehatan terus berkembang dan maju berkat teknologi kecerdasan buatan AI (artificial intelligence) sehingga mempermudah dokter memeriksa pasiennya.



Kolaborasi Primaya Hospital bersama Space Singapore menghadirkan HFM (Heart Failure Monitor), teknologi untuk memonitor pasien gagal jantung dari jarak jauh yang pertama di Indonesia.


Heart Failure Monitor (HFM) merupakan teknologi atau perangkat digital guna memonitor pasien gagal jantung dari jarak jauh. Primaya Hospital Tangerang sendiri menjadi yang pertama menggunakan HFM untuk pasien-pasien gagal jantung.


Ahli Jantung dari Primaya Hospital, dr Rony M Santoso SpJP (K) FIHA mengatakan HFM merupakan sebuah perangkat digital yang bermanfaat untuk pemantauan jarak jauh pasien gagal jantung. Alat tersebut bekerja dengan cara mendeteksi gejala yang signifikan, sehingga dapat dilakukan tindakan intervensi atau penanganan dengan cepat dan tepat.


“Sudah lebih dari 100 pasien gagal jantung saya telah menggunakan HFM untuk memantau kondisi penyakitnya di rumah secara berkala. Jadi sewaktu ada kekhawatiran terkait kondisinya, maka alat tersebut akan memberikan notifikasi kepada dokter yang merawatnya ketika dibutuhkan,” katanya di Primaya Hospital Tangerang, Selasa (30/1/2024).



Jadi, ini bakal menenangkan pasien setelah mereka pulang dari rumah sakit dan saat dalam kondisi sendiri di rumah maupun saat dalam perjalanan.


“HFM juga bermanfaat untuk para dokter karena mereka diberikan data-data mengenai keluhan pasiennya, yang bertujuan bukan hanya untuk intervensi sesaat, namun juga manajemen penyakit dengan lebih efektif, dimana pada saat ini masih sulit dilakukan,” kata dr Rony yang juga salah satu peneliti yang mengembangkan HFM.


Menurutnya, penyakit gagal jantung ditandai dengan keluhan sesak nafas dan bengkak pada kedua kaki, yang disebabkan oleh berkurangnya fungsi pompa jantung. Dikarenakan saat ini belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan secara total, kondisi gagal jantung hanya dapat dimonitor secara berkala serta menjaga gaya hidup untuk mencegah terjadinya kemunduran.


HFM merupakan sebuah perangkat medis berbasis AI (Artificial Intelligence) berbentuk seperti stetoskop yang disambungkan ke aplikasi handphone. Alat ini bekerja dengan mendeteksi kelebihan cairan pada paru-paru, yang merupakan gejala umum gagal jantung hanya dalam kurun waktu 30 detik setelah diletakkan di dada pasien.


Hasil deteksi dari perangkat tersebut akan masuk ke dalam aplikasi handphone untuk kemudian dapat dianalisa oleh dokter dan diberikan penanganan yang tepat. HFM telah dites dengan lebih dari 3.000 rekaman dari pasien gagal jantung dari Tan Tock Seng Hospital yang merupakan bagian dari Singhealth Group dari Singapore dan Primaya Hospital, dengan hasil akurasinya mencapai lebih dari 90%.


“Saat ini standar perawatan jarak jauh pasien gagal jantung dengan mengukur berat badan secara berkala, namun hal tersebut dianggap kurang efektif dikarenakan penambahan berat badan dapat dipengaruhi oleh banyak hal,” papar dr Rony.



Profesor Wee Ser, Co-Founder dan CEO Space Singapore menjelaskan gelombang start-up teknologi medis yang selanjutnya akan melihat proloferasi yang masif pada perangkat medis pintar yang mengandalkan teknologi AI dan teknologi dengan sensor, seperti perangkat yang dibuat.


“Jadi dapat dilakukan asesmen dan pengelolaan secara mandiri dan dipersonalisasi, serta memungkinkan untuk melakukan skrining kardiopulmonari termasuk penyakit lainnya. Hal ini merevolusi pengelolaan layanan kesehatan di masa depan,” urai Wee Ser yang juga Emeritus Faculty di Nanyang Technological University Singapore.


Sementara Leona A. Karnali, CEO Primaya Hospital Group menuturkan pihaknya terus mengembangkan teknologi dan peralatan medis untuk membantu para dokter spesialis mengembangkan keahliannya ke prosedur dan layanan yang lebih advanced.


Diakui, layanan jantung dan pembuluh farah merupakan salah satu layanan unggulan Primaya Hospital Group dan melayani 1.000 tindakan setiap bulannya. 


“Kami melayani berbagai tindakan menggunakan teknologi advanced berbasis teknologi artificial intelligence. Semoga dengan hadirnya Heart Failure Monitor di Indonesia dapat menjadi solusi bagi masyarakat khususnya pasien gagal jantung, dan dapat membantu pasien mendapatkan penanganan yang tepat dan cepat,” urai dia.


Primaya Hospital melayani berbagai tindakan menggunakan teknologi advanced seperti Optical Coherence Tomography (OCT) yang berguna untuk melihat kondisi arteri koroner secara 3D dan real time dan Rotablator yang digunakan untuk mengikis plak yang mengeras pada pembuluh darah, PCI (Percutaneous Coronary Intervention) Kompleks dengan Cath Lab berbasis teknologi Artificial Intelligence, tindakan PCI dengan IVUS (intravascular Ultrasound) yang merupakan perangkat pemeriksaan jaringan lunak menggunakan gelombang suara, Renal Denervasi, Ablasi untuk Aritmia, hingga bedah jantung atau Coronary Artery Bypass Graft (CABG). 


"Untuk semakin meningkatkan kenyamanan pasien, layanan kami didukung oleh tenaga medis profesional dan berpengalaman, dokter spesialis yang lengkap, teknologi yang mumpuni, fasilitas yang bersih dan pelayanan yang aman, ramah, dan cepat," tutup Leona.


Kategori : News


Editor     : AHS

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama