Penanganan Kanker di RSPP Lebih Komprehensif Berkat Pendekatan Multidisiplin

JAKARTA, suarapembaharuan.com - Penanganan kanker di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) kini lebih komprehensif, karena menggunakan pendekatan multidisiplin. Melibatkan tak hanya satu, tetapi 6 ahli sekaligus.



Hal itu dikemukakan Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Hematologi & Onkologi Medik RSPP, Alvin T Harahap kepada media dalam Silaturahmi Sehat, di Jakarta, Rabu (27/3/24).


Dr Alvin menyebut, 6 ahli yang masuk dalam Tim Kanker Multidisiplin RSPP yaitu Ahli Onkologi Medis, Ahli Onkologi Radiasi, Ahli Bedah Onkologi, Perawatan Onkologi, Ahli Gizi dan Psikolog.


"Tim Kanker Multidisiplin ini akan bertemu secara teratur guna membahas kasus pasien dan rencana perawatan yang dipersonalisasi," ujarnya.


Selain itu, Tim juga akan memantau kemajuan pasien dan membuat penyesuaian pada rencana perawatan. Serta memberi dukungan dan informasi kepada pasien dan keluarganya.


Dengan demikian, lanjut dr Alvin, penanganan pasien kanker akan lebih komprehensif dan terkoordinasi. Karena akses ke berbagai macam keahlian, maka pengambilan keputusan menjadi lebih baik.



"Diharapkan terjadi peningkatan hasil dan kualitas hidup pasien kanker. Karena pasien terhindar dari stress yang berlebihan akibat penanganan yang tidak optimal," katanya.


Data Kementerian Kesehatan tahun 2022 memperlihatkan angka kejadian penyakit kanker di Indonesia sebesar 136 orang per 100.000 penduduk dan menempati urutan ke-8 di Asia Tenggara. Sedangkan di Asia berada di urutan ke-23.


Angka kejadian tertinggi di Indonesia untuk laki-laki adalah kanker paru yaitu sebesar 19,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 10,9 per 100.000 penduduk. Lalu diikuti kanker hati sebesar 12,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 7,6 per 100.000 penduduk. 


Sedangkan angka kejadian untuk perempuan yang tertinggi adalah kanker payudara yaitu sebesar 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk yang diikuti kanker leher rahim sebesar 23,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 13,9 per 100.000 penduduk.


Ditanya soal bolehkah pasien kanker berpuasa, dr Alvin menjelaskan dari sudut pandang medis, pasien yang sedang menjalani pengobatan terapi sistemik kanker dan memerlukan cairan infus mungkin tidak dapat berpuasa karena cairan infus mungkin diberikan pada siang hari. 



"Kecuali terapinya dilakukan pada malam hari, hal itu memungkinkan  dilakukan, namun perlu diingat ada efek samping pengobatannya," tuturnya.


Ditegaskan, efek samping terapi sistemik tidak ringan dan dapat menimbulkan masalah seperti  mual dan muntah. Karena itu, disarankan pasien untuk tidak berpuasa selama menjalani terapi sistemik.


"Jika pasien sedang menjalani pengobatan secara oral (minum obat), periksa apakah obat tersebut dapat disesuaikan dan dirotasi. Misalkan, harus diminum pagi dan sore, bisa diubah menjadi buka puasa dan sahur," katanya.


Perhatikan juga efek sampingnya, apakah sangat serius. Dr Alvin menyarankan, jika pasien merasa tidak kuat lebih baik dibatalkan atau tidak berpuasa.


Kategori : News


Editor     : AHS

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama