Ayah dan Ibu, Berbakti Sebelum Pergi

Oleh Imam Nur Suharno

Penulis Buku Keluarga Samara Sehidup Sesurga dan Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat



Bangsa Indonesia kembali memperingat hari ibu yang sebelumnya hari ayah. Setiap 12 November diperingati sebagai hari ayah, dan 22 Desember sebagai hari ibu. Bagi kaum Muslimin, setiap hari adalah sebagai hari ayah dan ibu. Karenanya, Islam mewajibkan kepada anak untuk birrul walidain, berbuat baik kepada kedua orang tua (ayah dan ibu).


Saking pentingnya, sehingga perintah untuk berbuat baik kepada orang tua ditempatkan setelah perintah untuk menyembah (beribadah) kepada Allah SWT. Hal ini karena peran dan jasa orang tua terhadap anak. 


“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS al-Isra [17]: 23). 


Jasa orang tua apalagi ibu begitu besar. Mulai saat mengandung, ia mesti menanggung berbagai penderitaan, pun ketika melahirkan. Begitu pula saat menyusui, yang sebenarnya waktu istirahat baginya, namun ia rela lembur di saat si bayi kecil kehausan dan membutuhkan air susunya. Karenanya, jasanya sangat sulit untuk dibalas, meskipun dengan mengendongnya untuk berhaji dan mengelilingi Ka’bah (thawaf).


Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang itu bersenandung, sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh. Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari. Lalu, orang itu berkata, “Wahai Ibnu Umar apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Engkau belum membalas budinya, meskipun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.” (Lihat dalam Adabul Mufrod). 


Abu Laist Samarqandi dalam kitab Tanbihul Ghafilin menyebutkan, setidaknya terdapat sepuluh hak orang tua yang harus dipenuhi oleh anak selama orang tua masih hidup. Yaitu, jika orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan makan dan minum, anak wajib menyediakannya; jika orang tua membutuhkan pakaian untuk menutupi aurat tubuhnya atau sekedar melindungi tubuhnya dari cuaca dingin, anak wajib memenuhinya.


Jika orang tua butuh dilayani karena sudah renta atau tidak mampu melakukan sesuatu untuk dirinya, anak wajib melayaninya. Jika orang tua memanggil, anak wajib menjawabnya dengan baik dan menghampirinya. Jika orang tua menyuruh sesuatu hendaknya lakukan perintahnya selama itu untuk kebaikan.


Anak berbicara lembut kepada orang tua, dan tidak berbicara kasar yang dapat melukai perasaannya. Tidak memanggil orang tua dengan menyebut namanya secara langsung, gunakan panggilan yang mengandung kasih sayang dan penghormatan. Anak berjalan di belakang orang tua dan tidak mendahuluinya. Melakukan sesuatu yang orang tua ridha, dan menghindari hal-hal yang membuat orangtua murka. Dan, senantiasa memohonkan ampunan untuk kedua orang tua sebagaimana memohon untuk dirinya sendiri.


Kebalikan dari birrul walidain adalah uququl walidain (durhaka kepada kedua orangtua). Uququl walidain merupakan akhlak yang tercela dan dapat menjadi penghalang bagi seseorang untuk masuk surga. Karena itu, waspadalah!


Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga macam dosa yang diharamkan Allah bagi yang melakukannnya untuk masuk surga, yaitu yang selalu minum-minuman khamr, mendurhakai kedua orangtua, dan orang yang membiarkan istrinya melacur atau orang yang sengaja menjadi pelacur.” (HR Ahmad, Nasa’i, dan Hakim).


Selain itu, akibat dari uququl walidain ini adalah, pertama, hidup menjadi terhina. Nabi SAW bersabda, “(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, tetapi justru ia tidak masuk surga.” (HR Muslim).


Kedua, mendapat murka Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Ridha Allah ada di dalam ridha kedua orang tua dan murka Allah ada di dalam murka kedua orang tua.” (HR Tirmidzi).


Ketiga, ditolak amal kebaikannya. Rasulullah SAW bersabda, “Tiga macam dosa yang akan menyia-nyiakan segala amal lainnya, yaitu mempersekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, dan lari dari medan jihad.” (HR Thabrani).


Keempat, disegerakan balasannya di dunia. Nabi SAW bersabda, “Semua dosa akan Allah tunda hukumannya menurut kehendak-Nya sampai hari kiamat nanti, kecuali hukuman terhadap perbuatan zina dan durhaka kepada kedua orang tua atau memutus silaturrahim. Sesungguhnya Allah akan memperlihatkan kepada pelakunya di dunia sebelum datang kematian.” (HR Bukhari).


Semoga Allah membimbing kita kaum muslimin agar menjadi anak yang selalu birrul walidain bukan uququl walidain sehingga terhindar dari ancaman di atas. Karena itu, jadikanlah bahwa setiap hari adalah hari ayah dan hari ibu. Ayah dan ibu, berbakti sebelum pergi. Buktikan!


Kategori : Opini


Editor     : ARS

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama