Menemukan Makna Hidup: Menjalankan Tugas Dengan Penuh Kesadaran

Oleh Imam Nur Suharno

Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat


Setiap manusia harus mengetahui siapa dirinya dan apa tugas hidupnya? Untuk dapat menjawab nya seseorang harus memahami Alquran. Allah yang menciptakan manusia, sudah barang tentu Allah yang Maha Tahu akan ciptaan-Nya.


Imam Nur Suharno

Manusia diciptakan untuk mengabdi kepada-Nya, salah satu cara penghambaan seseorang kepada Rabbnya dengan melihat proses penciptaan dirinya sebagai bahan renungan dalam hidupnya. Mengapa demikian? Seseorang tidak akan pernah kuasa bisa hadir di dunia dengan kehendaknya sendiri.


Sesungguhnya, Allah adalah pencipta segala sesuatu (QS az-Zumar [39]: 62), manusia diciptakan dari air (QS al-Furqan [25]: 54), manusia diciptakan dari (air) mani, (QS an-Nahl [16]: 4), dan manusia diciptakan dari tanah liat kering (lumpur) (QS al-Hijr [15]: 28). Kemudian, secara rinci Alquran menjelaskan proses penciptaan manusia (QS al-Mukmin [40]: 67).


Alquran menjelaskan bahwa manusia adalah hasil ciptaan Allah dan anugerah yang diberikan kepada manusia sangatlah banyak. Alquran memberikan petunjuk mengenai proses penciptaan manusia. 


Dalam proses penciptaan manusia terjadi dengan dua tahapan yang berbeda. Tahapan pertama, tahapan primordial. Pada tahapan ini, manusia pertama diciptakan pertama kali dari saripati tanah dan diberikan ruh hingga membentuk dengan bentuk yang seindah-indahnya. Hal ini dijelaskan dalam beberapa ayat, antara lain QS al-An’am [6]: 2, QS Shaad [38]: 71, dan QS al-Hijr [15]: 28. 


Dalam ayat-ayat tersebut dijelaskan, manusia diciptakan dari bahan dasar tanah kemudian dengan kekuasaan dan hukum-hukumnya dibentuk rupa dan beragam fungsi dari fisik yang ada dalam tubuh manusia. Hal ini dilakukan pada manusia pertama yaitu Nabi Adam AS. Hingga setelah itu ada proses penciptaan manusia berupa hukum biologis.


Kedua, tahapan biologi. Tahapan biologi adalah sunnatullah atau hukum Allah melalui proses biologis yang terdapat dalam fisik atau tubuh manusia beserta segala perangkatnya. Proses biologi ini membedakan hakikat manusia menurut Islam dengan makhluk lainnya yang tidak memiliki ruh dan akal untuk mengambil keputusan saat dewasanya. 


Proses tersebut adalah sebagai berikut: proses setetes mani dipancarkan (QS al-Qiyamah [75]: 36-37). Dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa proses penciptaan manusia berawal dari air mani atau sperma yang terpancar. Namun hanya setitik yang menjadi manusia. Lalu, segumpal darah yang melekat di rahim (QS al-Alaq [96]: 2), dan pembungkusan tulang oleh otot (QS al- Mu’minun [23]:14).


Dalam hadis, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya tiap kalian dikumpulkan ciptaannya dalam rahim ibunya, selama 40 hari berupa nutfah (air mani yang kental), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama itu juga, lalu menjadi mudghah (segumpal daging) selama itu, kemudian diutus kepadanya malaikat untuk meniupkannya ruh, dan dia diperintahkan mencatat empat kata yang telah ditentukan: rezekinya, ajalnya, amalnya, kesulitan atau kebahagiannya.” (HR Bukhari dan Muslim).


Manusia diciptakan bukan tanpa tujuan. Ada dua tujuan diciptakannya manusia, pertama, beribadah kepada Allah. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS al-Dzariyat [51]: 56). Dalam Tafsir Ibn Katsir dijelaskan, Allah menciptakan jin dan manusia dengan tujuan untuk menyuruh mereka beribadah kepada-Nya, bukan karena Allah membutuhkan mereka.


Kedua, sebagai khalifatullah. “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS al-Baqarah [2]: 30). Dalam ayat ini, khalifah adalah manusia di bumi yang bertugas mengemban amanat dari Allah. Manusia mengemban amanat kekhalifahan karena kualitas kemampuannya dalam berpikir, menangkap dan mempergunakan simbol-simbol komunikasi.


Dalam Tafsir Ibn Katsir dijelaskan mengenai ayat ini, bahwa Allah SWT memberitahukan ihwal penganugerahan karunia-Nya kepada anak cucu Adam, yaitu berupa penghormatan kepada mereka dengan membicarakan mereka di hadapan para malaikat, sebelum mereka diciptakan.


Selain itu, ada tugas manusia terhadap diri sendiri. Antara lain: sabar. Yaitu prilaku seseorang terhadap dirinya sendiri sebagai hasil dari pengendalian nafsu dan penerimaan terhadap apa yang menimpanya. Sabar ketika melaksanakan perintah, menjauhi larangan dan ketika ditimpa musibah.


Kemudian, syukur. Yaitu sikap berterima kasih atas pemberian nikmat yang tidak bisa terhitung banyaknya. Syukur diungkapkan dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Syukur dengan ucapan adalah memuji Allah dengan bacaan alhamdulillah, sedangkan syukur dengan perbuatan dilakukan dengan menggunakan dan memanfaatkan nikmat Allah sesuai dengan aturan-Nya.


Tawadhu. Yaitu rendah hati, selalu menghargai siapa saja yang dihadapinya, orang tua, muda, kaya atau miskin. Sikap tawaduk melahirkan ketenangan jiwa, menjauhkan dari sifat iri dan dengki yang menyiksa diri sendiri dan tidak menyenangkan orang lain


Dan, tugas terhadap lingkungan. Yaitu segala sesuatu yang di sekitar manusia, baik binatang, tumbuhan maupun benda-benda yang tidak bernyawa. Pada dasarnya akhlak yang diajarkan Alquran terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah. Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam. Kekhalifahan mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, serta bimbingan, agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaanya.


Hal ini membuktikan Islam adalah agama yang ramah terhadap lingkungan. Agama yang dengan jelas mengatur hubungan antara manusia dan Tuhannya, manusia dan manusia, serta manusia dan alam.


Hubungan manusia dengan alam, merupakan hubungan yang dibingkai dengan konsep hukum yang sama-sama tunduk dan patuh kepada-Nya. Dalam konsep ini, manusia memperoleh konsesi dari Sang Maha Pencipta memperlakukan alam semesta dengan rahmatan lil alamin.


Karena itu, usaha pelestarian lingkungan harus dipandang sebagai salah satu tuntunan agama yang wajib dipatuhi. Sebaliknya, setiap tindakan yang mengakibatkan rusaknya lingkungan dapat dikategorikan sebagai perbuatan mungkar yang harus dicegah.


 “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS al-A'raf [7]: 96). 


Dengan memahami proses penciptaan manusia, seseorang termotivasi untuk menjalankan tugas yang dibebankan kepadanya dengan penuh kesadaran, sehingga menjadi manusia yang taat kepada-Nya. Amin.


Kategori : Opini


Editor      : AHS

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama