JAKARTA, suarapembaharuan.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut normalisasi Sungai Juwana menjadi solusi berkelanjutan mengatasi banjir di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
![]() |
| Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto. (Ist) |
Hal ini, sejalan dengan permintaan masyarakat Kabupaten Kudus yang terdampak bencana hidrometeorologi pada pertengahan Januari 2026.
“Masyarakat meminta normalisasi Sungai Juwana, supaya bencana serupa tidak te0rjadi di kemudian hari,” kata Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, dalam keterangan tertulisnya yang diterima Sabtu (17/1/2026).
Dia menambahkan, BNPB telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) terkait penanganan jangka panjang daerah aliran sungai (DAS) Juwana. Normalisasi sungai juga telah menjadi program dan perhatian BBWS Juwana.
Menurut Suharyanto, penanganan bencana banjir yang pernah terjadi di Jawa Tengah telah dilakukan secara optimal, seperti penanganan banjir di Kota Semarang pada 2025 lalu. Saat itu, wilayah sekitar Genuk-Kaligawe dikepung banjir selama lebih dari sepekan. Namun, dengan adanya penanganan yang semakin baik, saat ini wilayah Kota Semarang aman dari banjir.
Kemudian, periode 2023-2024 terjadi banjir besar di Demak, akibat jebolnya tanggul Sungai Wulan, yang kemudian ditangani agar tidak kembali banjir.
Segala upaya berorientasi pada pencegahan dan mitigasi akan dilakukan dalam penanganan banjir di Kabupaten Kudus ini.
“Kali Juwana, normalisasinya yang utama untuk jangka menengah dan jangka panjangnya ini bisa segera terealisasi. Tahun depan, tidak terjadi lagi banjir di titik atau daerah yang sama seperti saat ini,” ungkapnya.
Selain penanganan jangka panjang, BNPB melakukan penanganan jangka pendek berupa operasi modifikasi cuaca (OMC). Operasi ini dilakukan atas rekomendasi BMKG. Satu pesawat disiagakan untuk OMC di wilayah Jawa Tengah.
“Untuk Jawa Tengah, atas arahan dari BMKG kita melakukan OMC. Ada satu pesawat yang terus melaksanakan OMC,” imbuhnya.
Berdasarkan data sementara per Jumat (16/1/2026), sebanyak 38 desa di tujuh kecamatan terdampak banjir. Adapun sebanyak 5.890 rumah terendam, termasuk 11 tempat ibadah dan 45 fasilitas pendidikan.
Sementara untuk korban jiwa ada dua orang akibat kecelakaan air dan sebanyak 1.805 jiwa terpaksa harus mengungsi di 11 titik.
Berikutnya, fenomena tanah longsor terjadi di 127 titik yang tersebar di 14 desa dan menyebabkan satu orang meninggal dunia.
Fenomena angin kencang juga terjadi dan berdampak di 15 desa. Puluhan pohon tumbang menghalangi jalan raya, menimpa rumah warga dan kendaraan.
Atas arahan Presiden Prabowo Subianto, Kepala BNPB juga meninjau Kabupaten Jepara serta meninjau penanganan darurat bencana di Kabupaten Pati, yang juga terdampak banjir di awal tahun ini. (MAN)
Kategori : News
Editor : ARS

Luar biasa BNPB kerja2 tanpa batas2 tetap semangat bravo Sahabat Tangguh BNPB
BalasHapusPosting Komentar