Pelajaran Perjalanan Isra Mi'raj Nabi SAW

Oleh : Imam Nur Suharno

Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat


Kini kita telah memasuki bulan Rajab. Selama bulan Rajab kaum muslimin senantiasa melantunkan doa, Allahumma barik lana fî rajaba wasya’bana waballighna ramadlana (Duhai Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan).


Imam Nur Suharno

Setiap bulan Rajab kaum Muslimin selalu memperingati peristiwa perjalanan Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Isra adalah perjalanan Nabi dari Masjidil Haram (di Makkah) ke Masjidil Aqsha (di al-Quds, Palestina). Mi’raj adalah kenaikan Nabi menembus lapisan langit tertinggi sampai batas yang tidak dapat dijangkau oleh ilmu semua makhluk. Semua itu ditempuh dalam semalam.

 

Jumhur sepakat bahwa perjalanan ini dilakukan oleh Nabi SAW dengan jasad dan ruh. Oleh karena itu, ia merupakan salah satu mukjizatnya yang mengagumkan yang dikaruniakan Allah SWT kepadanya.


Peristiwa Isra Mi’raj terjadi pada tahun ke 10 dari Nubuwah, ini pendapat al-Manshurfury. Menurut riwayat Ibnu Sa’d di dalam Thabaqat-nya, peristiwa ini terjadi 18 bulan sebelum hijrah. Dengan tujuan untuk menentramkan perasaan Nabi, sebagai nikmat besar yang dilimpahkan kepadanya. 


Agar Nabi merasakan langsung adanya perlindungan dari-Nya, yang sebelumnya, Nabi mengalami kesulitan dan penderitaan selama menjalankan dakwah dan kehilangan orang yang dicintai, Abu Thalib dan Khadijah binti Khuwailid; untuk menunjukkan pada dunia bahwa Nabi merupakan Nabi teristimewa; untuk menunjukkan keagungan-Nya (Q.S. al-Isra’ [17]: 1, Q.S. al-An’am [6]: 75, dan Q.S. Thaha [20]: 23); dan untuk menguji keimanan umat manusia.


Mengapa perjalanan Isra Mi’raj dimulai dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha? Peristiwa ini memberikan isyarat, kaum Muslimin di setiap tempat dan waktu harus menjaga dan melindungi Rumah Suci (Baitul Maqdis) dari keserakahan musuh Islam. Hal ini juga mengingatkan kaum Muslimin zaman sekarang agar tidak takut dan menyerah menghadapi kaum Yahudi yang selalu menodai dan merampas Rumah Suci.


Dalam perjalanan Isra Mi’raj, Nabi dipertemukan dengan para nabi terdahulu, hal ini merupakan bukti nyata adanya ikatan yang kuat antara Nabi SAW dengan nabi-nabi terdahulu. Sabda Nabi SAW, “Perumpamaan aku dengan nabi sebelumku adalah seperti seorang laki-laki yang membangun sebuah bangunan, lalu ia memperindah dan mempercantik bangunan itu, kecuali satu tempat batu bata di salah satu sudutnya. Ketika orang-orang mengitarinya, mereka kagum dan berkata, “Amboi indahnya, jika batu batu ini diletakkan?” Akulah batu bata itu, dan aku adalah penutup para nabi.” (H.R. Bukhari dan Muslim).


Dalam hadis shahih diriwayatkan, Nabi SAW mengimami para nabi dan rasul terdahulu dalam shalat jamaah dua rakaat di Masjidil Aqsha. Kisah ini menunjukkan pengakuan bahwa Islam adalah agama Allah terakhir yang diamanatkan kepada manusia. Agama yang mencapai kesempurnaannya di tangan Nabi SAW.


Pilihan Nabi SAW terhadap minuman susu, ketika Jibril menawarkan dua jenis minuman, susu dan khamr, merupakan isyarat secara simbolik bahwa Islam adalah agama fitrah. Yakni, agama yang akidah dan seluruh hukumnya sesuai dengan tuntunan fitrah manusia. Tidak ada sesuatu pun yang bertentangan dengan tabiat manusia.


Oleh-Oleh Isra Mi’raj

Sekembalinya seseorang dari menempuh perjalanan jauh selalu membawa oleh-oleh untuk keluarga, sanak famili, dan tetangganya. Pun dengan perjalanan Isra Mi’raj Nabi SAW.


Nabi SAW membawa oleh-oleh untuk umatnya. Setiap oleh-oleh yang dibawa Nabi pasti memiliki manfaat bagi manusia. Oleh-oleh yang dimaksud adalah perintah shalat lima waktu.


Sungguh merugi orang yang shalat, namun ia tidak dapat merasakan manfaatnya. “Maka, kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (Yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (Q.S. al-Maa’un [107]: 4-5).


Di antara manfaat shalat itu, pertama, sebagai pembuka pintu surga. Nabi bersabda, “Kunci surga adalah shalat dan kunci shalat adalah wudhu.” (H.R. Tirmidzi).


Kedua, sebagai penerang hati. Shalat mendidik jiwa, menajamkan nurani, dan menerangi hati melalui lentera kebesaran dan keagungan. Nabi bersabda, “Shalat itu adalah cahaya penerang bagi seorang Mukmin.” (H.R. Ibnu Majah).


Ketiga, meraih ketenangan dan kebahagiaan. Seseorang yang mendirikan shalat berarti sedang menghadap Allah secara langsung tanpa perantara. Dengan keadaan seperti itu, perasaan dekat kepada-Nya menyelimuti jiwa, kebersamaan dengan-Nya memenuhi dada yang diiringi rasa tenteram, percaya diri, dan penuh keyakinan.


Kondisi itu pula yang mengantarkan seseorang untuk sujud dan rukuk dengan penuh khusyuk, seraya memohon pertolongan-Nya. “Sesungguhnya beruntunglah orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (Q.S. al-Mukminun [23]: 1-2).


Keempat, menghapus dosa. Setiap manusia tidak luput dari salah dan dosa. Salah satu sarana untuk menghapus dosa adalah dengan menjaga shalat lima waktu. Nabi bersabda, ”Begitulah seperti halnya shalat lima waktu yang menghapuskan dosa-dosa.” (H.R. Muslim).


Kelima, mencegah perbuatan keji dan mungkar. Dengan kata lain, menjalankan shalat dengan benar dapat mencegah berbagai bentuk kemungkaran. Hal ini menunjukkan, shalat dapat mempercantik perilaku dan memperindah diri dengan akhlak mulia. “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (Q.S. al-Ankabut [29]: 45).


Dalam hadis Nabi disebutkan, ”Barang siapa yang mendirikan shalat tetapi dirinya tidak terhindar dari perbuatan keji dan munkar maka hakikatnya dia tidak melaksanakan shalat.” (H.R. Thabrani).


Keenam, menjadi pembeda antara Mukmin dengan kafir. Nabi bersabda, “Sesungguhnya batas antara seseorang dan kemusyikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (H.R. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).


Dalam hadis lain, “Kesepakatan yang mengikat kita dengan mereka adalah shalat. Barang siapa yang meninggalkan shalat berarti telah kafir.” (H.R. Nasai, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).


Oleh karena itu, kewajiban shalat tidak akan pernah lepas dari seorang Muslim. Ia tidak dapat gugur hanya karena sakit atau bepergian. Di mana pun seorang Muslim berada, ia tetap berkewajiban mendirikan shalat. 


“Dan, bumi ini dijadikan untukku baik dan suci sebagai tempat bersujud. Jika waktu shalat datang pada setiap umatku, hendaknya ia mendirikannya di manapun ia berada.” (H.R. Bukhari dan Muslim).


50 Menjadi 5 Waktu Shalat

Dalam perjalanan Isra dan Mi’raj, Nabi SAW menerima perintah shalat lima waktu yang awalnya lima puluh waktu sehari semalam yang wajib dikerjakan oleh umat Islam.


Syaikh Shafiyyur Rahman al-Mubarakfury dalam kitabnya ar-Rahiqul Makhtum menjelaskan prosesi penerimaan perintah shalat yang diterima secara langsung oleh Nabi SAW tanpa melalui perantara. 


Pada malam itu, dari Baitul Maqdis Nabi naik ke langit dunia bersama Jibril. Jibril meminta izin agar dibukakan. Maka, pintu langit dibukakan baginya. Nabi bertemu Adam AS, bapak sekalian manusia. Nabi mengucapkan salam, dan Adam menyambut kedatangan Nabi, menjawab salam dan menetapkan nubuwah. Allah memperlihatkan roh orang-orang yang mati syahid di sebelah kanan dan roh orang-orang yang sengsara di sebelah kiri.


Lalu, naik lagi ke langit ke dua. Jibril meminta izin bagi Nabi. Setelah dibukakan, Nabi bertemu Yahya bin Zakaria AS dan Isa bin Maryam AS. Nabi mengucapkan salam, dan keduanya menjawab, menyambut kedatangan Nabi dan menetapkan nubuwah Nabi.


Lalu, naik lagi ke langit ke tiga. Nabi bertemu Yusuf AS. Nabi mengucapkan salam, dan Yusuf menjawabnya, menyambut kedatangan Nabi dan menetapkan nubuwah.


Lalu, naik lagi ke langit ke empat. Nabi bertemu Idris AS. Nabi mengucapkan salam, dan Idris menjawabnya, menyambut kedatangan Nabi dan menetapkan nubuwah.


Lalu, naik lagi ke langit ke lima. Nabi bertemu Harun bin Imran AS. Nabi mengucapkan salam, dan Harun bin Imran menjawabnya, menyambut kedatangan Nabi dan menetapkan nubuwah Nabi.


Lalu, naik lagi ke langit ke enam. Nabi bertemu Musa AS, mengucapkan salam, dan Musa menjawabnya, menyambut kedatangan Nabi dan menetapkan nubuwah Nabi.


Ketika Nabi SAW hendak berlalu darinya, Musa menangis. “Mengapa engkau menangis?” Musa menjawab, “Aku menangis karena ada seorang pemuda yang diutus sesudahku, yang masuk surga bersama umatnya dan lebih banyak daripada umatku yang masuk surga.”


Lalu, naik lagi ke langit ke tujuh. Nabi bertemu Ibrahim AS, mengucapkan salam, dan Ibrahim menjawabnya, menyambut kedatangan Nabi dan menetapkan nubuwah.


Naik lagi ke Sidratul Muntaha, lalu di bawa naik lagi ke al-Baitul Ma’mur. Lalu, di bawa naik lagi untuk menghadap Allah, hingga jaraknya tinggal sepanjang dua ujung busur atau lebih dekat lagi. Lalu, Allah mewahyukan apa yang diwahyukan kepada hamba-Nya. Allah mewajibkan kepada Nabi shalat lima puluh kali.


Nabi kembali hingga bertemu Musa. “Apa yang diperintahkan kepadamu?” tanya Musa. “Shalat lima puluh kali.” jawab Nabi. “Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup melakukannya. Kembalilah menemui Rabb-mu dan minta keringanan kepada-Nya bagi umatmu.” kata Musa.


Nabi SAW memandang ke arah Jibril, meminta pendapatnya. Maka, Jibril mengisyaratkan, dengan berkata, “Itu benar, jika memang engkau menghendaki.”


Bersama Jibril, Nabi naik lagi hingga menghadap Allah SWT. Jumlah shalat itu dikurangi sepuluh. Kemudian, Nabi turun hingga bertemu Musa dan menyampaikan kabar kepadanya.


“Kembalilah lagi menemui Rabb-mu dan minta keringanan kepada-Nya.” kata Musa. Begitulah Nabi mondar-mandir menemui Musa dan Allah SWT, hingga shalat itu ditetapkan lima kali.


Sebenarnya Musa menyuruh Nabi kembali lagi menemui Allah dan meminta keringanan. Namun, Nabi bersabda, “Aku sudah malu kepada Rabb-ku. Aku sudah ridha dan bisa menerimanya.”


Setelah beberapa saat, ada seruan yang terdengar, “Kewajiban dari-Ku telah Ku-tetapkan dan telah Ku-ringankan bagi hamba-Ku.” 


Nilai-Nilai Shalat 

Peringatan Isra dan Mi’raj merupakan momentum bagi kaum Muslimin untuk mengevaluasi kualitas dan untuk mengambil pelajaran dari nilai-nilai shalat. Sehingga, shalat yang dilakukan dapat mengubah seseorang menjadi lebih bermakna dalam kehidupan pribadi dan sosial. 


Pertama, shalat mendidik kaum Muslimin untuk mensucikan diri dari sifat-sifat buruk. Hal ini dijelaskan melalui firman Allah SWT, ”Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (Q.S. al-Ankabut [29]: 45).


Kedua, shalat mendidik kesatuan dan persatuan umat. Orang yang melaksanakan shalat menghadap ke satu tempat yang sama, yaitu Baitullah. Hal ini menunjukkan pentingnya mewujudkan persatuan dan kesatuan umat. Perasaan persatuan ini akan menimbulkan saling pengertian dan saling melengkapi antar sesama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.


Ketiga, shalat mendidik disiplin waktu. Setiap yang shalat selalu memeriksa masuknya waktu shalat, dan menjaga serta berusaha untuk menunaikannya tepat pada waktunya, sesuai ketentuan syara, dan menaklukkan nafsunya untuk tidak tenggelam dalam kesibukan duniawi yang melalaikan. 


Keempat, shalat mendidik tertib organisasi. Menyangkut tertibnya jamaah shalat yang baris lurus di belakang imam dengan tanpa adanya celah kosong (antara yang satu dengan jamaah di kanan kirinya) mengembalikan kaum Muslimin pada perlunya nidzam (tertib organisasi). Dalam falsafat organisasi dikatakan, kebenaran yang tidak terorganisir dapat dikalahkan dengan kebatilan yang terorganisir. 


Kelima, shalat mendidik ketaatan kepada pemimpin. Mengikuti gerakan imam, tidak mendahuluinya walau sesaat, menunjukkan adanya ketaatan dan komitmen atau loyal, serta meniadakan penolakan terhadap perintahnya, selama perintah tersebut tidak untuk bermaksiat. Nabi SAW bersabda, ”Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah SWT.” (H.R. Ahmad).


Keenam, shalat mendidik keberanian untuk mengingatkan pimpinan. Jika imam lalai, diharuskan bagi makmum untuk mengingatkannya (dengan membaca subhanallah), hal ini menunjukkan keharusan rakyat untuk menegur atau mengingatkan pemimpinnya jika lalai atau melakukan kesalahan. 


Ketujuh, shalat mendidik persamaan hak. Pada shalat berjamaah, dalam mengisi shaf tidak didasarkan pada status sosial jamaah, tidak pula memandang kekayaan atau pangkat, walau dalam shaf terdepan sekalipun. Gambaran ini menunjukkan adanya persamaan hak tanpa memperdulikan tinggi kedudukan maupun tuanya umurnya.


Kedelapan, shalat mendidik hidup sehat. Dalam shalat pun memberikan kesan kesehatan, yang diwujudkan dalam gerakan di setiap rakaat shalat, yang setiap harinya minimal 17 rekaat secara seimbang. Hal ini merupakan olah-raga fisik dalam waktu yang teratur dengan cara yang sangat sederhana dan mudah dalam gerakannya.


Jika pelajaran perjalanan Isra dan Mi’raj Nabi SAW ini diimplementasikan dalam kehidupan maka dapat mengantarkan kepada kehidupan bangsa dan negara ke arah yang lebih baik dan dapat terwujud baldatun thayyibatun warabbun ghafur. Semoga.


Kategori : News


Editor      : AHS

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama