Oleh: Debby Lufiasita
Praktisi Komunikasi / Public Relations
Menjadi viral di media sosial kini semudah mengunggah konten pada waktu yang tepat. Namun, bertahan setelah viral? Itu cerita yang berbeda. Di era media sosial, viral telah menjadi bagian dari gaya hidup digital. Konten hiburan, musik, fesyen, hingga kisah personal dapat menarik jutaan perhatian dalam hitungan jam. Namun, di balik derasnya arus viralitas, muncul satu realitas penting bahwa tidak semua yang viral mampu bertahan.
Fenomena viral memang membawa euforia tersendiri. Apa yang ramai diperbincangkan hari ini bisa dengan cepat tergantikan oleh tren baru esok hari. Pola ini membentuk cara pandang baru terhadap popularitas yang serba instan dan cepat berlalu. Akibatnya, viral sering disamakan dengan keberhasilan, meski keduanya tidak selalu sejalan.
Kecepatan informasi di media sosial menciptakan siklus perhatian yang sangat singkat. Algoritma dirancang untuk terus menyajikan konten baru, mendorong pengguna untuk terus bergerak dari satu topik ke topik lainnya. Dalam ekosistem seperti ini, viral menjadi fenomena yang sangat rapuh, mudah tergantikan oleh gelombang konten berikutnya yang lebih segar atau lebih sensasional.
Di industri kreatif dan lifestyle, validasi kerap diukur melalui angka likes, views, followers. Padahal, perhatian digital tidak selalu mencerminkan keterikatan audiens yang sesungguhnya. Banyak konten yang viral karena sensasi, bukan karena relevansi jangka panjang. Ketika sensasi mereda, audiens pun beralih ke tren berikutnya. Jutaan views tidak selalu berarti jutaan orang yang benar-benar peduli. Ribuan shares tidak menjamin ribuan orang yang memahami pesan yang disampaikan. Engagement rate yang tinggi pun bisa jadi hanya refleksi dari kontroversi atau perdebatan terhadap konten.
Praktisi komunikasi dan branding menilai, viralitas seharusnya tidak menjadi tujuan utama dalam strategi digital. Yang lebih penting adalah bagaimana sebuah brand atau figur memiliki cerita, nilai, dan konsistensi yang kuat. Tanpa fondasi tersebut, viral hanya akan menjadi fenomena yang berlalu begitu saja. Banyak brand yang terjebak dalam siklus menciptakan konten sensasional demi viral, tetapi kehilangan identitas mereka di tengah jalan. Mereka menjadi reaktif terhadap tren, bukan proaktif dalam membangun narasi mereka sendiri. Hasilnya adalah brand yang tidak memiliki karakter yang jelas, mudah dilupakan begitu buzz-nya mereda.
Banyak brand dan figur publik yang mengalami kebingungan setelah mendadak viral. Mereka tidak memiliki strategi lanjutan yang jelas untuk mempertahankan momentum. Di sinilah terlihat bahwa bertahan jauh lebih menantang daripada sekadar mendapat perhatian sesaat. Brand dan figur publik yang mendadak dikenal luas menghadapi dilema serupa. Tanpa identitas yang jelas dan komunikasi konsisten, viralitas justru berubah menjadi beban. Ekspektasi publik meningkat drastis, sementara fondasi belum cukup kuat untuk menopang pertumbuhan tersebut.
Permasalahan ini sering terlihat pada creator atau brand yang tiba-tiba meledak karena satu konten yang viral. Mereka mendapat tekanan untuk terus menghasilkan konten dengan performa serupa, namun tidak memiliki sistem, tim, atau bahkan pemahaman yang cukup untuk mempertahankan kualitas tersebut. Akibatnya, kualitas konten menurun, audiens kecewa, dan momentum pun hilang. Tekanan untuk terus viral justru kerap menjadi jebakan. Banyak pihak terjebak dalam siklus mengejar tren demi tren, tanpa membangun substansi yang sesungguhnya dibutuhkan untuk keberlanjutan. Mereka lupa bahwa viralitas adalah hasil sampingan dari konten yang baik, bukan tujuan utamanya.
Jika kita melihat lanskap digital Indonesia, ada perbedaan yang sangat jelas antara mereka yang viral sesaat dengan mereka yang viral dan bertahan. Creator atau brand yang bertahan biasanya memiliki beberapa kesamaan: mereka konsisten dalam niche mereka, mereka memiliki value proposition yang jelas, mereka membangun komunitas bukan hanya audiens, dan mereka berinvestasi dalam kualitas jangka panjang.
Sebaliknya, mereka yang hanya viral sesaat cenderung mengandalkan shock value, sensasi, atau mengikuti tren tanpa filter. Mereka tidak memiliki identitas yang kuat, sehingga ketika tren berubah, mereka kehilangan relevansi.
Dalam lanskap digital yang serba cepat, audiens kini semakin selektif. Mereka tidak hanya mencari sesuatu yang ramai, tetapi juga yang terasa autentik dan relevan dengan kehidupan mereka. Konsistensi pesan, kejujuran dalam bercerita, serta keberanian untuk tidak selalu mengikuti tren menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan. Generasi digital saat ini telah terekspos dengan begitu banyak konten sehingga mereka mengembangkan semacam “detector” untuk membedakan mana yang autentik dan mana yang sekadar mengejar viral.
Bertahan dalam dunia digital bukan soal mengejar exposure semata, melainkan membangun hubungan yang bermakna dengan audiens. Ketika audiens merasa dekat dan percaya pada sebuah brand atau figur, mereka akan tetap setia meski sorotan media sudah berpindah ke tempat lain.
Ada perbedaan fundamental antara memiliki followers dan memiliki komunitas. Followers adalah angka, komunitas adalah hubungan. Followers bisa datang dan pergi seiring tren, komunitas bertahan karena ikatan emosional dan nilai bersama.
Brand dan creator yang fokus membangun komunitas cenderung lebih resilient terhadap perubahan algoritma atau pergeseran tren. Mereka memiliki core audience yang loyal, yang akan terus mendukung bahkan ketika mereka sedang tidak dalam sorotan utama media sosial. Membangun komunitas membutuhkan waktu dan dedikasi. Ini tentang konsisten berinteraksi, mendengarkan feedback, memberikan value yang genuine, dan menciptakan ruang di mana audiens merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar konsumsi konten.
Para ahli strategi digital menyarankan beberapa pendekatan untuk mengubah momentum viral menjadi keberlanjutan jangka panjang. Pertama, definisikan identitas dan nilai inti sejak awal. Kedua, diversifikasi platform dan jangan terlalu bergantung pada satu kanal. Ketiga, investasikan dalam kualitas konten dan storytelling yang bermakna. Keempat, bangun sistem dan proses yang scalable. Kelima, fokus pada metrik yang benar-benar penting seperti engagement rate, retention, dan conversion.
Yang tidak kalah penting adalah memiliki long-term vision. Viral adalah sprint, bertahan adalah marathon. Keduanya membutuhkan strategi yang berbeda. Brand atau creator yang sukses adalah mereka yang bisa menyeimbangkan keduanya, memanfaatkan momentum viral untuk membangun fondasi yang kuat untuk pertumbuhan jangka panjang.
Pada akhirnya, viral bisa menjadi pintu masuk untuk dikenal publik, tetapi bukan jaminan keberlanjutan. Dalam gaya hidup digital yang serba cepat, bertahan berarti memilih untuk membangun makna, bukan hanya mengejar momentum sesaat.
Perhatian bisa datang dan pergi dengan cepat. Namun kepercayaan membutuhkan waktu, konsistensi, dan dedikasi untuk tumbuh. Di tengah dunia yang terus bergerak dan berubah, kesuksesan tidak lagi diukur dari seberapa cepat seseorang atau sebuah brand menjadi viral, melainkan seberapa konsisten mereka mampu bertahan dan tetap relevan di mata audiens.
Ini berarti mendefinisikan ulang apa arti kesuksesan di era digital. Bukan hanya tentang angka, tetapi tentang dampak. Bukan hanya tentang reach, tetapi tentang resonansi. Bukan hanya tentang seberapa banyak orang yang melihat, tetapi seberapa banyak orang yang benar-benar peduli.
Viralitas adalah percikan api yang cepat menyala. Keberlanjutan adalah bara yang terus membara. Dan dalam permainan jangka panjang, bara yang konsisten akan selalu lebih bernilai daripada percikan yang sesaat.
Bagi mereka yang ingin membangun sesuatu yang bermakna di dunia digital, pelajaran ini sangat penting. Jangan terlalu terpesona dengan viral. Gunakan itu sebagai momentum, tetapi investasikan energi utama untuk membangun fondasi yang kuat, identitas yang jelas..
Karena pada akhirnya, dalam dunia yang penuh dengan noise dan distraksi, yang bertahan adalah mereka yang memiliki substansi. Yang diingat adalah mereka yang memberikan value genuine. Dan yang dicintai adalah mereka yang tetap konsisten pada nilai-nilai mereka, terlepas dari tekanan untuk selalu viral.
Di era di mana semua orang bisa viral dalam semalam, keberanian sejati adalah memilih untuk bermain dalam permainan jangka panjang, membangun sesuatu yang bertahan, dan menciptakan legacy yang lebih dari sekadar trending topik sesaat.
Kategori : Opini
Editor : AHS


Posting Komentar