Oleh KH. Imam Nur Suharno, SPd, SPdI, MPdI
Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat
Idul Fitri identik dengan mudik. Mudik menjadi tradisi tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Serasa kurang sempurna jika di momentum lebaran tidak mudik. Dengan mudik, tali persahabatan akan kembali terjalin. Saking pentingnya menjaga tali persahabatan, berikut penulis sajikan kisah yang menginspirasi yang bisa dijadikan pelajaran berharga.
Suatu ketika, Abdullah bin Umar RA sedang mengendarai keledainya. Tiba-tiba lewatlah seorang Arab gunung. Beliau bertanya pada orang itu, “Bukankah engkau anaknya Fulan bin Fulan?” Dia menjawab, “Benar.” Serta-merta Ibnu Umar RA memberikan keledainya sembari berkata, “Naiklah.” Beliau juga memberikan surbannya dan mengatakan, “Ikat kepalamu dengan surban ini.”
Melihat hal itu, sahabat-sahabat beliau pun berkata, “Semoga Allah mengampunimu. Mengapa engkau berikan kepada orang Arab gunung itu keledaimu yang biasa engkau kendarai serta surbanmu yang biasa engkau gunakan untuk mengikat kepalamu?”
Beliau pun menjawab, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Di antara sebaik-baik bakti kepada orang tua adalah menyambung tali kekerabatan dengan keluarga orang yang dicintai ayahnya sepeninggalnya.” Beliau muliakan orang Arab gunung itu karena ayah orang itu adalah teman ayahnya yaitu Umar bin Khaththab RA. (H.r. Muslim).
Kisah di atas memberikan pelajaran yang berharga kepada kita tentang pentingnya menjaga tali silaturrahmi antarsesama. Termasuk menyambung tali silaturrahmi bagi seorang anak dengan orang yang telah terjalin tali silaturrahmi dan kekerabatan dengan orang tuanya yang telah meninggal dunia, sebagai bentuk birrul walidain.
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (Q.s. An-Nisa [4]: 36).
Dalam ayat di atas, setelah perintah menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya, kita diperintahkan untuk menyambung tali silaturrahmi kepada orang tua, kaum kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya.
Rasulullah SAW memerintahkan kepada seorang anak untuk tetap berbakti kepada kedua orang tuanya (birrul walidain) meskipun keduanya telah meninggal dunia.
Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi, ia berkata, “Suatu saat kami pernah berada di sisi Rasulullah SAW. Ketika itu datang seseorang dari Bani Salimah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orang tuaku ketika mereka telah meninggal dunia?” Nabi SAW menjawab, “Iya (masih tetap ada bentuk berbakti pada keduanya). (Bentuknya adalah) mendoakannya, memintakan ampun untuknya, memenuhi janjinya, menjalin silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orang tua yang tidak pernah terjalin dan memuliakan teman dekatnya.” (H.r. Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Dalam hadits lain, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik bentuk berbakti (berbuat baik) adalah seseorang menyambung hubungan dengan keluarga dari kenalan baik ayahnya.” (H.r. Muslim).
Selama masih hidup, itulah kesempatan emas bagi kita selaku anak yang terbaik untuk berbakti kepada orang tua. Karena berbakti kepada keduanya sebagai jalan termudah untuk masuk surga. Maka, jangan disia-siakan.
“Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.” (H.r. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).
Apabila seseorang mengetahui akan manfaat dari silaturrahmi maka ia berusaha untuk menjaganya. Salah satu manfaat dari silaturrahmi itu adalah akan dipanjangkan umur seseorang dengan penuh berkah.
Berkaitan dengan hal ini, Nabi SAW bersabda, ”Barangsiapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung tali silaturrahmi niscaya umurnya akan diperpanjang dan hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya.” (H.r. Bukhari).
Dalam hadits yang lain, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahmi.” (H.r. Bukhari dan Muslim).
Sebaliknya, bagi orang yang memutuskan tali silaturrahmi diancam dengan tidak akan masuk surga, sebagaimana ditegaskan dalam hadits Nabi SAW.
Nabi SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutus, yaitu memutus silaturrahmi” (Muttafaq ‘alaih).
Karena itu, takutlah bahaya dosa dari akibat perbuatan memutuskan tali silaturrahmi. Hukumannya akan disegerakan di dunia sebelum di akhirat.
“Tidak ada satu dosa yang lebih pantas untuk disegerakan hukuman bagi pelakunya di dunia bersamaan dengan hukuman yang Allah siapkan baginya di akhirat daripada baghyu (kedzaliman dan berbuat buruk kepada orang lain) dan memutuskan silaturrahmi.” (H.r. Bukhari, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Hakim).
Ketika sudah mengetahui berbagai akibat buruk dari memutuskan silaturrahmi maka sepantasnya kita untuk bersegera memperbaiki diri dengan menyambung silaturrahmi dengan sebaik-baiknya.
Di antara cara yang dapat dilakukan sebagai upaya untuk menyambung dan merawat tali silaturrahmi adalah saling mengunjungi dan berkomunikasi, saling memberikan hadiah secara khusus, saling memaafkan, dan saling mendoakan.
Semoga Allah membimbing kita kaum Muslimin agar dapat menjaga tali silaturrahmi sehingga terhindar dari akibat buruk yang diakibatkan dari memutus silaturrahmi.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Semoga hati kita menjadi fitri, fikiran menjadi fitri, sikap dan perilaku serta perkataan dan literasi menjadi fitri. Amin.
Kategori : Opini
Editor : AHS

Posting Komentar