Dari Santri Biasa Jadi Da’i dan Penulis Produktif, Belajar dari Perjalanan H. Imam Nur Suharno

Seorang anak kelas VI Madrasah Ibtidaiyah (MI) sudah juara 1 MTQ, kelas II Madrasah Aliyah (MA) sudah mengajar seni baca Al-Qur’an ke adik kelasnya. Sementara puisi-puisinya rutin nongol di majalah dinding (mading) pesantren. Kedengarannya kayak tokoh fiksi di novel pesantren, ya? Tapi ini nyata. Namanya H. Imam Nur Suharno.


H Imam Nur Suharno

Kisahnya dimulai di Pesantren Raudlatul Ulum, Pati, Jawa Tengah. Di sana, bakat ceramah dan menulisnya tidak cuma dipendam. Diberi panggung. Diberi ruang. MTQ dan MFQ menjadi “olimpiade” rutinnya. Mading menjadi koran pertamanya. Mengajar seni baca Al-Qur’an sejak Aliyah. Itu berarti pesantren percaya: santri bukan cuma objek didikan, tapi subjek yang bisa mendidik. 


Ini tamparan halus buat kita. Berapa banyak pesantren yang santrinya pintar, tapi cuma disuruh “duduk, dengar, catat”? Padahal, bakat itu kayak otot. Kalau tidak dilatih sejak dini, kaku.


Ceritanya makin menarik saat beliau kuliah di Ma’had Al-Hikmah dan Kuliah Mubaligh/ah Jakarta. Sambil kuliah, beliau kerja di toko onderdil mobil. Kebayang kan? Siang bongkar pasang baut, malam menyusun materi dakwah. Capek pasti. Tapi di situlah mental dibentuk. Banyak yang bilang, “Saya mau nulis, tapi tidak ada waktu.” Lha, beliau justru nulis di sela-sela ngitung stok busi.


Ini bukan glorifikasi kesibukan. Ini bukti bahwa “tidak ada waktu” itu cuma soal prioritas. Kalau dakwah dan literasi sudah jadi napas, sesempit apapun waktunya pasti diselipin.


Titik baliknya adalah hijrah ke Pondok Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat. Diakuinya, di sinilah beliau merasa dapat “rumah” untuk mengaktualisasi diri. Rumah yang tidak cuma menyuruh mengajar dan ceramah, tapi juga menulis, menerbitkan buku, bikin karya. 


Hasilnya? 68 judul buku solo, 20 lebih antologi. Naskah lain masih antre terbit. Artikel wara-wiri di media cetak dan online. Beliau membongkar mitos lama: “Da’i ya cukup ceramah di mimbar.” Zaman sekarang, mimbarnya sudah pindah ke kertas dan layar. Kalau dakwah tidak dibukukan, hilang ditiup angin. Kalau ilmu tidak ditulis, mati bersama jasad.


Pesantren itu mesin waktu. Bisa bikin santri biasa melesat jadi ulama-intelektual yang karyanya abadi. Syaratnya satu: kasih ruang, kasih kepercayaan, dan kasih teladan. 


H. Imam Nur Suharno sudah membuktikan. Sekarang giliran kita. Berani? Siapa takut!


Penulis : Arnold 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama