Ikrar Nusa Bakti Sindir Militer: Merasa Dirinya Bukan Dibentuk oleh Negara

JAKARTA, suarapembaharuan.com - Guru Besar Ilmu Politik sekaligus Pengamat Politik Nasional, Ikrar Nusa Bakti, menyatakan ada semacam satu adagium di dalam tubuh militer Indonesia, yakni militer merasa ia bukan dibentuk oleh negara, melainkan ia membentuk negara.



Hal tersebut disampaikan Ikrar Nusa Bakti dalam diskusi yang digelar Indonesia Youth Congress, berjudul 'Politik Pertahanan dan Ekspansi Peran Militer di Ruang Sipil: Antara Kebutuhan Strategis Nasional dan Risiko Dwifungsi Baru' di Jakarta pada Rabu, 15 April 2026.


Menurut Ikrar, kalau mencermati fenomena perluasan militer di ruang-ruang sipil beberapa tahun belakangan, ini tidak terlepas dari fakta sejarah di mana ada persaingan antara Polisi dan Tentara.


"Kalau misalkan ada pemekaran wilayah, maka di saat bersamaan harus dibentuk Polda dan Polres. Nah, militer juga pasti minta, kenapa Polisi bisa? Sedangkan kita tidak?" papar Ikrar.




Ia mengatakan, hal tersebut harus dilihat bahwa ini lah salah satu bukti sejarah, di mana terjadi persaingan yang mendarah daging antara Polisi (sipil) dan Tentara (Militer) sejak dipisahkan dalam sejarah Dwifungsi ABRI itu.


Sementara itu, Firdaus Syam, Akademisi Ilmu Politik Universitas Nasional, mengatakan, perluasan peran militer di ranah sipil seperti mengurusi pangan, food estate, dan penambahan teritori bukanlah kebutuhan bagi rakyat  Indonesia.


"Pasca reformasi, yang diperlukan bangsa ini adalah bagaimana kesejahteraan, keadilan, dan hak asasi manusia diperluas. Itu yang diperlukan. Bukan perluasan peran militer" jelas Firdaus.




Ia menegaskan, politik ketatanegaraan dan manajemen kenegaraan yang diperlukan pada hari-hari ini adalah bagian ruang-ruang sipil diperkuat,  demi mencapai supremasi hukum dan supremasi sipil.


"Negara demokrasi memerlukan sipil yang kuat, bukan militer yang mendominasi di ranah sipil" beber Firdaus.


Selain Ikrar Nusa Bakti selaku Guru Besar Ilmu Politik dan Firdaus Syam selaku Dosen Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta, diskusi ini juga menghadirkan sejumlah narasumber yakni Ray Rangkuti selaku Direktur Eksekutif LIMA Indonesia; dan Haris Azhar selaku Pendiri Lokataru Foundation; serta Uli Arta Siagian selaku Koordinator Kampanye Eksekutif Walhi Nasional.


Sementara itu, peserta yang hadir dalam kegiatan ini seperti organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan, peneliti, akademisi, hingga masyarakat umum.


Kategori : News


Editor     : AHS

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama