Rawan Kecelakaan, 172 Perlintasan Sebidang Segera Ditutup

JAKARTA, suarapembaharuan.com - PT Kereta Api Indonesia (Persero) mendata, sebanyak 172 perlintasan sebidang didorong untuk segera ditutup karena kondisinya yang rawan terjadi kecelakaan.


“Kick Off Meeting” Penanganan Perlintasan Sebidang lintas sektoral diselenggarakan di Ballroom Jakarta Railways Center, Jakarta, Selasa (5/5/2026). (dok. Humas KAI)

Selama 2023-2026, tercatat sebanyak 948 korban akibat kecelakaan di perlintasan sebidang dan sekitar 80 persen kejadiannya terjadi pada perlintasan sebidang yang belum terjaga. Kondisi ini, mendorong percepatan langkah penanganan yang lebih terarah dan terkoordinasi.


“Langkah penanganan akan difokuskan pada percepatan aksi di lapangan, termasuk penutupan 172 perlintasan sebidang yang telah teridentifikasi,” kata Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, saat “Kick Off Meeting” Penanganan Perlintasan Sebidang di Ballroom Jakarta Railways Center, Jakarta, Selasa (5/5/2026).


Kegiatan “Kick Off Meeting” ini menjadi forum penyelarasan langkah lintas sektoral yakni KAI, Danantara, BP BUMN, Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), untuk mempercepat peningkatan keselamatan di perlintasan sebidang yang memiliki tingkat risiko tinggi di berbagai wilayah.


“Pengalaman menunjukkan bahwa penjagaan perlintasan mampu menekan risiko kecelakaan secara signifikan. Karena itu, langkah penjagaan, penguatan pengawasan serta pemanfaatan teknologi harus dijalankan secara bersamaan,” sambung Bobby.


Selain itu, KAI juga akan memperkuat penerapan teknologi keselamatan, termasuk pemanfaatan sistem berbasis komunikasi, GPS serta pengembangan sistem otomatisasi untuk mendukung pengendalian operasional yang lebih responsif terhadap potensi risiko.


Saat ini, total terdapat 3.674 perlintasan sebidang di Indonesia. Sebanyak 1.810 titik di antaranya menjadi fokus penanganan dan 1.638 perlintasan sebidang lainnya memerlukan peningkatan fasilitas keselamatan secara bertahap.


Sementara itu, Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub, Allan Tandiono, menegaskan bahwa keselamatan menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan transportasi.


“Tidak ada yang lebih berharga daripada nyawa manusia. Perlintasan sebidang adalah titik temu dua sistem transportasi dengan pola operasi berbeda. Kereta tidak dapat berhenti mendadak, sementara lalu lintas jalan bersifat dinamis. Jika tidak dikelola dengan baik, risikonya sangat tinggi,” imbuhnya.


Menurutnya, penanganan perlintasan sebidang membutuhkan keterlibatan seluruh pihak secara kolektif, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, operator hingga masyarakat. Pendekatan yang dilakukan harus komprehensif, melalui penutupan perlintasan berisiko tinggi, peningkatan sistem keselamatan, serta pembangunan perlintasan tidak sebidang dalam jangka panjang. (MAN)


Kategori : News


Editor      : ARS

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama