Anak Amanah, Didik Dengan Cinta dan Adab

Oleh Imam Nur Suharno

Penulis Buku Menyambut Kehadiran Sang Buah Hati serta Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah Kuningan


Imam Nur Suharno.

Setiap tanggal 23 Juli senantiasa diperingati sebagai Hari Anak Nasional (HAN). Tema utama pada HAN ke-42 tahun 2026 adalah "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan". Makna Sayang Anak, menekankan pentingnya keluarga dan lingkungan terdekat dalam memberikan kasih sayang yang setara. Makna Lindungi Anak, mengajak seluruh pihak menjamin keamanan anak dari segala bentuk kekerasan, perundungan, dan eksploitasi di dunia nyata maupun digital. Makna Bangun Masa Depan, memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan, kesehatan, dan ruang tumbuh kembang yang optimal sebagai generasi penerus bangsa.


Anak adalah anugerah sekaligus amanah yang diberikan oleh Allah SWT kepada orang tua. Banyak istilah yang sering dijumpai untuk menggambarkan kasih sayang orang tua terhadap anak, seperti anak permata bunda, belahan jiwa, dan buah hati mama. 


Mengapa disebut permata, belahan jiwa dan buah hati, karena bagi orang tua anak adalah segalanya, bisa mengalahkan yang lain termasuk dirinya sendiri. Wajar jika Nabi SAW bersabda, “Anak itu adalah buah hati.” (HR Abu Ya’la).


Selain itu, anak merupakan batu pertama dalam pembentukan sebuah masyarakat. Anak terlahir dalam keadaan fitrah, bagaikan lembaran kertas putih yang masih bersih (HR Bukhari). Islam memerintahkan kepada orang tua untuk mendidik anak dan memikulkan tanggungjawab pendidikan anak di pundaknya (QS at-Tahrim [66]: 6).


Ibnu Qayyim menegaskan tanggungjawab orang tua dengan mengutip perkataan ulama, “Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada setiap anak tentang orang tuanya. Maka itu, barang siapa mengabaikan pendidikan anak dan menelantarkannya maka ia telah melakukan puncak keburukan. Sesungguhnya, kebanyakan kerusakan pada anak diakibatkan oleh orang tua yang mengabaikan anak-anaknya dan tidak mengajari mereka kewajiban agama dan sunnah.”


Pola Asuh

Dalam upaya untuk pengembangan potensi anak terlebih anak berkebutuhan khusus maka dibutuhkan seni dalam mendidik anak. Dalam Modul Ketahanan Keluarga Relawan Rumah Keluarga Indonesia disusun oleh Tim Modul BPKK DPW PKS Jawa Barat memberikan bekal bagi orang tua dan guru terkait seni dalam mendidik anak (siswa). 


Ajarkan anak dengan cinta; ajarkan berdoa agar terbiasa bersandar pada Allah; ajarkan berterima kasih agar terbiasa menghargai; ajarkan kata maaf agar terbiasa memperbaiki; ajarkan berbagi agar terbiasa menyayangi; ajarkan menolong agar terbiasa jauhi sombong; ajarkan kemandirian agar terbiasa bermental kuat; ajarkan keberanian agar terbiasa membela kebenaran.


Ajarkan berkata lembut agar terbiasa santun; ajarkan kejujuran agar terbiasa siap menanggung resiko; ajarkan kesederhanaan agar terbiasa apa adanya; ajarkan memotivasi diri agar terbiasa tak menyerah; ajarkan jawab pertanyaan agar terbiasa mencari solusi; ajarkan cinta baca dan ilmu agar terbiasa dekat dengan kebaikan; dan ajarkan dan berikanlah cinta agar ia akan terbiasa menyintai.


Prof Sartini dalam bukunya Pembodohan Siswa Tersistematis yang ditulis oleh M Joko Susilo, menambahkan bahan renungan bagi orang tua dalam upaya mendidik anak (siswa). 


Jika anak banyak dicela, ia akan terbiasa menyalahkan; jika anak banyak dimusuhi, ia akan terbiasa menentang; jika anak dihantui ketakutan, ia akan terbiasa merasa cemas; jika anak banyak dikasihani, ia akan terbiasa meratapi nasib; jika anak sering diolok-olok, ia akan terbiasa menjadi pemalu. 


Jika anak dikitari rasa iri, ia akan terbiasa merasa bersalah; jika anak serba dimengerti, ia akan terbiasa menjadi penyabar; jika anak banyak diberi dorongan, ia akan terbiasa percaya diri; jika anak banyak dipuji, ia akan terbiasa menghargai; jika anak diterima dilingkungannya, ia akan terbiasa menyayang; jika anak sering disalahkan, ia akan terbiasa senang menjadi dirinya sendiri. 


Jika anak mendapat pengakuan dari kiri kanan, ia akan terbiasa menetapkan arah langkahnya. Jika anak diperlakukan dengan jujur, ia akan terbiasa melihat kebenaran. Jika anak ditimang tanpa berat sebelah, ia akan terbiasa melihat keadilan. 


Jika anak mengenyam rasa aman, ia akan terbiasa mengandalkan diri dan mempercayai orang sekitar; dan jika anak dikerumuni keramahan, ia akan terbiasa berpendirian ‘sungguh indah dunia ini’.


Dengan demikian, agar dapat melahirkan anak yang menjadi qurrata a’yun, sebagai orang tua dan guru kita harus mampu mengelola pola asuh secara proporsional dan terintegrasi yaitu mendidik anak dengan penuh cinta, doa, teladan, pembiasaan akhlak mulia, mandiri, berani, jujur, penyayang, dan dekat dengan kebaikan. 


Sebaliknya, cara orang tua memperlakukan anak --apakah dengan celaan, kasih sayang, pujian, dukungan, atau keadilan-- akan sangat menentukan karakter yang terbiasa muncul pada anak, mulai dari rasa percaya diri, sabar, menghargai, hingga cara ia memandang dunia. Oleh karena itu, lingkungan dan pola asuh yang penuh kelembutan, kejujuran, dan penghargaan adalah fondasi agar anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat, beradab, dan bermental sehat.


Semoga Allah membimbing kita para orang tua di rumah dan guru di sekolah agar dapat mendidik anak (siswa) menjadi insan yang saleh dan mengantarkan kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Amin


Kategori : Opini


Editor      : ARS

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama