JAKARTA, suarapembaharuan.com — Semangat perdamaian dan persahabatan yang dibawa penjelajah legendaris Laksamana Cheng Ho lebih dari 600 tahun lalu kembali bergelora di Jakarta. Pemerintah Provinsi Yunnan, Tiongkok, menggelar rangkaian kegiatan kebudayaan bertajuk “Perjalanan Laksamana Cheng Ho: Duta Persahabatan” yang resmi dibuka pada Selasa (30/6/2026).
Acara yang berlangsung selama dua hari ini dihadiri oleh lebih dari 160 perwakilan dari instansi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, budayawan, hingga komunitas Tionghoa-Indonesia dari kedua negara.
Guna mempererat hubungan bilateral, agenda ini mengemas lebih dari 10 kegiatan interaktif. Mulai dari seminar bertema Inisiatif Peradaban Global, pengukuhan Duta Persahabatan muda, bazar budaya, hingga penyerahan replika kapal pusaka (Bao Chuan) legendaris milik Sang Laksamana.
Replika Kapal Pusaka Jadi Simbol Pemersatu
Salah satu momen monumental dalam acara ini adalah penyerahan replika kapal pusaka (Bao Chuan) Laksamana Cheng Ho berukuran panjang 71 cm dan tinggi 60 cm dari Provinsi Yunnan kepada Yayasan Sam Poo Kong Semarang.
Replika ini bukan miniatur biasa. Karya seni ini dibuat langsung oleh Fu Kunxiang dan Wang Li, seniman pewaris teknik pembuatan kapal kuno khas Kunming yang diakui sebagai warisan budaya tak benda. Replika tersebut merekonstruksi kemegahan kapal Dinasti Ming asli dengan desain Fuchuan berdasar runcing, badan lebar, serta dilengkapi sembilan ruang kedap air.
"Kami berharap kenang-kenangan ini dapat membawa pesan persahabatan yang kuat bagi kedua negara, sekaligus menjaga agar semangat penjelajahan Laksamana Cheng Ho terus berlayar di era modern ini," ujar Wang Li.
Ketua Yayasan Sam Poo Kong Semarang, Mulyadi Setiakusuma, menyambut hangat hadiah historis tersebut.
"Klenteng Sam Poo Kong di Semarang dibangun masyarakat untuk menghormati Laksamana Cheng Ho. Kehadiran replika kapal langsung dari tanah kelahiran beliau di Yunnan ini memiliki makna yang sangat istimewa. Kami akan merawatnya dengan baik sebagai bukti nyata keharmonisan hubungan Indonesia dan Tiongkok," kata Mulyadi.
Optimisme Penguatan Kerja Sama Bilateral
Acara ini juga menjadi momentum penting bagi para pejabat kedua negara untuk merefleksikan keharmonisan hubungan bilateral yang telah menginjak usia 76 tahun.
- Chen Wu (Atase Pendidikan KBRI Tiongkok untuk Indonesia):
Beliau menegaskan bahwa kerja sama di lima pilar utama yakni politik, ekonomi, sosial budaya, kemaritiman, dan keamanan telah membuahkan hasil nyata seperti proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Chen Wu berharap kedua bangsa dapat memetik kebijaksanaan dari sejarah Cheng Ho untuk terus menabur benih persahabatan lintas generasi.
- Wen Liao (Wakil Ketua Kantor Pembangunan Peradaban Spiritual Yunnan):
Ia menyampaikan bahwa hubungan Yunnan dan Indonesia telah berkembang pesat melampaui sektor budaya dan dagang. Kini, kolaborasi telah meluas ke sektor modern terlembaga seperti pertanian, bioteknologi, farmasi, energi bersih, hingga pelestarian lingkungan.
- Vinsensius Jemadu (Plt. Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggara Kegiatan):
Ia menyoroti warisan sejarah Cheng Ho di Semarang yang kini menjelma jadi aset pariwisata penting. Vinsensius berharap optimalisasi rute pelayaran historis ini dapat mendongkrak sektor pariwisata budaya, terlebih momentum ini bertepatan dengan fase akhir Rencana Aksi Lima Tahun Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia-Tiongkok 2026.
Kolaborasi Seni Tradisional dan Teknologi AI
Kemeriahan acara ditutup dengan panggung seni kolaboratif. Tim kesenian Yunnan memukau hadirin lewat “Tari Bambu dan Nyanyian Nusantara di Jalur Sutra Selatan”, yang disandingkan apik dengan keelokan “Tarian Nusantara” oleh penari Indonesia.
Tak kalah memikat, area bazar kebudayaan turut mengajak pengunjung menjajal langsung pembuatan kertas tradisional Dongba, kain jumputan, hingga seni tenun khas Dai, sembari mencicipi kopi arabika dan teh Pu'er asal Yunnan.
Pihak panitia juga memadukan unsur klasik dan futuristik dalam pameran poster kreatif. Acara ini memajang potongan lukisan legendaris “Perjalanan Laksamana Cheng Ho ke Samudra Barat” karya Zhong Kaitian yang dibuat selama 13 tahun, berdampingan dengan 30 karya poster berbasis kecerdasan buatan (AI) dari kompetisi “AI Warisan Dunia · Jejak Laksamana Cheng Ho”. Perpaduan ini sukses menampilkan warisan sejarah Cheng Ho dalam visual masa depan yang memukau.
Kategori : News
Editor : AHS



Posting Komentar