Mengenang 30 Tahun Kudatuli Berawal dari Kongres PDI di Medan

Penyerbuan Kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia (DPP PDI) di Jalan Diponegoro Jakarta, persis 30 tahun lalu yang dilakukan kelompok yang ingin menguasai kantor DPP PDI yang kala itu dipimpin Megawati Soekarnoputri, yang dikenal dengan peristiwa kerusuhan dua puluh tujuh juli (Kudatuli) membekas dibenak Sahat Simatupang.


Sahat Simatupang.

Ia yang kala itu aktiv bergabung bersama aktivis Forum Solidaritas Mahasiswa Medan (Forsolima) berusaha menggagalkan Kongres PDI di Asrama Haji Medan pada Juni 1996 atau sebulan sebelum Kudatuli pecah pada.Sabtu pagi, 27 Juli 1996.


Kongres PDI pro Soerjadi di Medan memicu ketegangan politik nasional dikarenakan aktivis pro demokrasi dan simpatisan Megawati Soekarnoputri diberbagai daerah di Indonesia memprotes campur tangan pemerintah dalam urusan internal partai politik. Penetapan Soerjadi dan Buttu Hutapea sebagai Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal PDI memicu amarah aktivis pro demokrasi dan simpatisan Megawati Soekarnoputri. 


Ratusan aktivis pro demokrasi dan simpatisan Megawati berusaha menggagalkan Kongres ke IV PDI di Asrama Haji Medan. Sejak awal Juni 1996 konsolidasi menggagalkan Kongres PDI pro Soerjadi digagas aktivis mahasiswa dan simpatisan Megawati Soekarnoputri. Mereka kerap membagi selebaran dan menemui berbagai kelompok aktivis buruh dan petani dan nelayan dan aktivis HKBP Pro SAE Nababan di Sumatera Utara. 


" Kalau dari partai PDI yang paling rajin turun kebawah adalah (almarhum) Tom Adlin Hajar dan Taufan Agung Ginting. Kemudian (almarhum) Rudolf Pardede secara diam - diam mendukung dari sisi logistik karena dia pengusaha. Selain nama - nama itu ada (almarhum) Syahrul Azmir Matondang. Aktivis Forsolima kerap bertemu Tom Adlin karena sekretariat Forsolima berdekatan dengan rumah Tom Adlin di Jalan Garu I Medan. Kami berkeliling Medan menggunakan motor trail milik Tom Adlin membagikan selebaran ajakan menggagalkan Kongres PDI pro Soerjadi," kata Sahat Simatupang dalam perbincangan mengenang 30 tahun Kudatuli, Senin 27 Juli 2026.


Sekretariat Forsolima di Jalan Garu VI kerap kedatangan tamu simpatisan Megawati Soekarnoputri dari Jakarta untuk sekedar berdiskusi dan membagikan selebaran ajakan melawan Kongres PDI pro Soerjadi yang bertujuan menggulingkan Ketua Umum PDI saat itu Megawati Soekarnoputri.


Puncaknya, ujar Sahat, kongres PDI yang diprakarsai Fatimah Achmad itu didatangi ratusan aktivis dan simpatisan Megawati Soekernoputri. Sahat dan puluhan aktivis berangkat dari depan Kampus Institut Teknologi Medan di Jalan Gedung Arca menuju Asrama Haji Medan tempat kongres diselenggarakan. Sahat bergabung bersama rombongan Wakil Ketua PDI DKI Jakarta Jacob Nuwa Wea yang akhirnya menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada Kabinet Gotong Royong. 


" Saya ingat betul Bang Jacob berada di depan saat kami baru turun dari angkot dan puluhan sepeda motor. Kami masuk kebarisan depan dan merengsek masuk merobohkan pagar. Di seberang Asrama Haji dulunya dipenuhi sawah dan pohon kelapa serta pedagang kelapa muda. Kami dipukul Brimob dan mundur ke seberang Asrama Haji. Kami tidak tahu ternyata di seberang Asrama Haji, pasukan Brimob dan pasukan satwa anjing milik polisi telah menunggu. Sebagian mereka menyamar sebagai pedagang kelapa muda. Kami dipukuli. Beberapa kawan - kawan cedera di kepala terkena popor senapan," ujar Sahat.


Suasana Medan kala itu sangat tegang dikarenakan pendukung Megawati Soekarnoputri mengepung Asrama Haji. Pusat informasi yang tadinya disepakati disejumlah kampus yang dekat dengan Asrama Haji Medan seperti Kampus USU dan sekretariat aktivis kampus dekat Kampus USU telah dipenuhi intel." Kami tidak bisa berkoordinasi. Satu - satunya tempat yang agak aman untuk koordinasi waktu itu hanyalah Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan karena belum ada hand phone. Pemilik pager (alat komunikasi kala itu) hanya beberapa orang saja," kata Sahat.


Rupanya aksi penolakan Kongres PDI di Asrama Haji berbuntut panjang. Puluhan orang ditangkap dan dibawa ke Markas Detasemen Intelijen Kodam I/BB di Gaperta, Helvetia. Sepekan setelah kerusuhan menggagalkan Kongres PDI itu, Sahat dan rekan - rekannya bertemu sejumlah pengikut setia Megawati Soekernoputri dan pengikut SAE Nababan.


" Entah kebetulan atau memang takdir mempertemukan PDI dan HKBP senasib kala itu sama - sama dipecah dengan dualisme kepemimpinan. PDI pro Soerjadi bentukan pemerintah dan Megawati Soekarnoputri yang di dukung arus bawah (wong cilik) yang terpilih sebagai Ketua Umum pada Kongres PDI di Surabaya pada 1993. Sedangkan HKBP kelompok Setia Sampai Akhir (SSA) dipimpin pendeta SAE Nababan serta Kelompok Sinode Agung Istimewa (SAI) yang diselenggarakan di Hotel Tiara Medan bentukan pemerintah untuk menandingi SAE Nababan," kata Sahat.


Dari pertemuan pendukung Megawati Soekarnoputri dan pendukung SAE Nababan di Medan kemudian disepakati beberapa orang perwakilan berangkat ke Jakarta mendukung aksi keprihatinan yang diselenggakaran secara marathon sejak Juli 1996 di halaman Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro Jakarta sekaligus menjaga kantor dari upaya pengambilalihan oleh kelompok pro Soerjadi." Puncaknya pendukung Soerjadi (banteng gepeng) menyerbu Kantor DPP PDI pada Sabtu 27 Juli 1996 pagi hari. Bagi saya tiga peristiwa besar ini yakni Kongres PDI pro Soerjadi di Medan, dualisme kepemimpinan HKBP dan penyerbuan Kantor DPP PDI adalah peristiwa yang ikut membuka jalan menuju Reformasi 1998," ujar aktivis 98 ini.


Kategori : News


Editor       : ARS

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama