Dari Rengasdengklok ke Solidaritas untuk Meneguhkan Komitmen Kebangsaan

Oleh Imam Nur Suharno 

Penulis, Penceramah Agama, serta Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat 


Imam Nur Suharno.

Bangsa Indonesia kembali merayakan 17 Agustus sebagai HUT kemerdekaan Republik Indonesia. Bendera berkibar, lomba digelar, pidato disampaikan. Tapi di tengah kemeriahan itu, ada satu pertanyaan penting yang harus kita ulang: sudah sejauh mana kita menghidupkan semangat proklamasi dalam kehidupan sehari-hari?


Kemerdekaan 17 Agustus 1945 bukan hadiah. Kemerdekaan lahir dari cucuran keringat, darah, air mata, bahkan memeras kepala dalam musyawarah. Ia lahir dari keberanian anak bangsa yang memilih bertindak, bukan menunggu.


Setelah Jepang menyerah tanpa syarat, suasana Jakarta mendidih. Golongan muda mendesak Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan. Tapi golongan tua menahan. Khawatir terjadi pertumpahan darah. Khawatir melanggar janji Jepang.


Akhirnya para pemuda "mengamankan" Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok, 16 Agustus dini hari. Bukan untuk mencelakai. Tapi untuk menyelamatkan momentum. Di sinilah musyawarah kembali menang. Ahmad Soebardjo menjemput dan berjanji: Proklamasi akan dibacakan 17 Agustus pukul 10.00. Dengan jaminan itu, Bung Karno dan Bung Hatta kembali ke Jakarta.


Malam itu, di rumah Laksamana Maeda, sejarah dirumuskan. Kalimat "Proklamasi" dari Soekarno. Kalimat pembuka dari Soebardjo. Kalimat penutup dari Hatta. Diketik oleh Sayuti Malik. Ditandatangani atas nama bangsa Indonesia. Pukul 10.00, 17 Agustus 1945, di Pegangsaan Timur 56, dengan bendera jahitan Fatmawati, Indonesia lahir.


Setelah itu para pemuda kembali bekerja. Saat pemancar radio Domei disegel Jepang, mereka merakit pemancar baru. Berita proklamasi harus sampai ke Aceh, Sulawesi, Bali, Kalimantan. Karena kemerdekaan tanpa kabar, sama dengan tidak ada.


Kemerdekaan itu kerja kolektif. Ada yang berunding, ada yang mengetik, ada yang menjahit bendera, ada yang menjaga, ada yang menyiarkan.


Tiga Pesan dari 1945 untuk 2026

Kemerdekaan sudah berada di tangan. Tapi tantangan kita hari ini bukan penjajah. Tantangannya: apatisme, perpecahan, dan lupa sejarah. Karena itu, ada tiga komitmen dari para pendiri bangsa yang wajib kita hidupkan kembali dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pertama, solidaritas. Mereka bisa merdeka karena merasa senasib, sependeritaan, seperjuangan. Golongan tua dan muda akhirnya bertemu di tengah. Hari ini solidaritas kita diuji. Saat bencana datang, apakah kita masih bahu-membahu? Saat tetangga kesulitan, apakah kita masih peduli? Bangsa besar dibangun di atas rasa "kita", bukan "aku".


Kedua, menghargai perbedaan. BPUPKI isinya Islam, nasionalis, Kristen. Debatnya keras, tapi ujungnya: Pancasila. Mereka sepakat mendirikan negara yang merangkul semua. Di era medsos hari ini, beda pilihan langsung "dibatalkan". Padahal para pendiri justru mendirikan negara karena perbedaan itu. Menjaga NKRI berarti menjaga ruang untuk berbeda, tanpa membenci.


Ketiga, musyawarah. Tidak ada keputusan 17 Agustus yang lahir dari ego satu orang. Semua lewat rembuk. Dari Rengasdengklok sampai rumah Maeda. Budaya musyawarah ini yang membuat Pancasila lahir. Sayangnya hari ini kita lebih suka berteriak di kolom komentar daripada duduk berunding mencari jalan tengah.


Ketahuilah, meriahnya 17 Agustus akan sia-sia jika hanya berhenti di upacara dan lomba. Bendera paling tinggi dikibarkan bukan di tiang, tapi di hati. Para pendiri bangsa sudah memberi contoh: berani, sabar, dan mau mengalah demi tujuan besar. 


Kini giliran kita. Mari jadikan peringatan tahun ini sebagai "ikrar baru". Ikrar untuk lebih peduli, untuk lebih toleran, serta untuk lebih mau duduk bersama. Karena sejatinya, memproklamasikan kemerdekaan itu mudah. Yang sulit adalah memproklamasikan komitmen untuk menjaganya, setiap hari. Merdeka!


Kategori : News


Editor      : AHS

1 Komentar

  1. Hubungi call center resmi Akulaku (+6282-15610-8257) atau CS Akuluku (+6283-16928-7740) dan melalui layanan customer service Akulaku dapat dihubungi Senin-Minggu pukul 08:00-23:00 WIB.

    BalasHapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama