SIG Perluas Program Daur Ulang Sampah di Enam Wilayah

JAKARTA, suarapembaharuan.com – Persoalan sampah laut tak lagi cukup ditangani setelah limbah mencapai sungai atau garis pantai. Penguatan sistem dari pemilahan hingga daur ulang menjadi salah satu pendekatan yang didorong SIG bersama sejumlah mitra melalui program “Recycle for Good – Prevent Marine Litter” yang kini diperluas ke sejumlah wilayah Indonesia.



Setelah sebelumnya berjalan di Jakarta dan sekitarnya, program tersebut kini mencakup Jakarta, Jawa Barat, Surabaya dan Malang di Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), serta Bali. Hingga saat ini, proyek telah dilaksanakan di 389 lokasi, dengan dukungan sekolah, komunitas, kafe, pelaku usaha, lembaga keagamaan, dan pengumpul sampah.


Commercial Director SIG Group untuk Asia Tenggara, Jepang, dan Korea, Noer Wellington, mengatakan program tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan edukasi masyarakat, tetapi juga memudahkan proses pemilahan dan pengumpulan sampah.


“Jadi program ini merupakan suatu inisiatif untuk memberikan edukasi kepada masyarakat dan juga untuk memudahkan proses pemilahan dan pengumpulan sampah,” kata Noer Wellington Usai kick off program Recycle for Good – Prevent Marine Litter di Kawasan Kuningan Jakarta, Senin (21/9/2026). 


Perluasan program merupakan bagian dari proyek regional “Recycle for Good – Prevent Marine Litter” yang melibatkan SIG bersama Plastic Bank, Wuppertal Institute for Climate, Environment and Energy, serta Decision Context. Proyek tersebut didanai melalui ZUG atas nama Kementerian Federal Jerman untuk Lingkungan, Aksi Iklim, Konservasi Alam, dan Keselamatan Nuklir.



Noer mengatakan perluasan kegiatan ditujukan untuk memperkuat pemilahan, pengumpulan, dan daur ulang sampah sekaligus mendorong partisipasi masyarakat dan pemangku kepentingan di sepanjang rantai nilai limbah kemasan.


Menurut rilis SIG, pendekatan tersebut diperlukan karena pencegahan sampah laut membutuhkan sistem yang berjalan dari hulu hingga hilir. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki keterkaitan erat antara kondisi lingkungan dan ekonomi dengan kesehatan sungai, garis pantai, dan laut.


Karena itu, upaya mencegah limbah kemasan masuk ke laut tidak cukup hanya melalui kegiatan pembersihan. Sampah perlu dipilah dan dikumpulkan sejak dari sumber, kemudian material yang masih memiliki nilai daur ulang diproses dan dikembalikan ke penggunaan produktif.


“‘Recycle for Good – Prevent Marine Litter’ bertujuan membuat daur ulang lebih mudah diakses, praktis, dan memberikan manfaat bagi masyarakat di Indonesia. Masalah sampah laut tidak dapat diatasi hanya melalui peningkatan kesadaran. Namun, diperlukan pula pemilahan yang lebih baik, jaringan pengumpulan yang lebih kuat, infrastruktur daur ulang yang mumpuni, serta partisipasi berkelanjutan dari masyarakat dan para mitra di sepanjang value chain. Bersama para mitra, SIG berupaya memastikan lebih banyak kemasan bekas masuk ke alur pemulihan dan daur ulang yang tepat, sekaligus mendorong kebiasaan daur ulang yang dapat memberikan manfaat lingkungan dan sosial secara berkelanjutan,” ujar Noer Wellington, Commercial Director Asia Pacific South, Japan and Korea di SIG.



*Daur Ulang dari Hulu ke Hilir*


“Recycle for Good – Prevent Marine Litter” dirancang untuk menjangkau berbagai tahapan dalam sistem pengelolaan sampah. Program mencakup upaya mendorong pemilahan dan pembuangan sampah secara bertanggung jawab di tingkat rumah tangga, sekolah, dan komunitas.


Selain itu, program diarahkan untuk memperkuat jaringan pengumpulan sampah, mendukung pengembangan infrastruktur daur ulang, serta mempererat kerja sama antara pengumpul sampah, pelaku daur ulang, pelaku usaha, institusi, dan komunitas.


Program juga menggunakan perangkat digital, kegiatan yang melibatkan masyarakat, serta mekanisme berbasis insentif untuk memperluas partisipasi. Pendekatan ini diarahkan untuk membangun kebiasaan daur ulang secara konsisten dan berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan yang berlangsung sesaat.


Dalam pelaksanaannya, pengumpul sampah dan jaringan pengumpulan lokal ditempatkan sebagai bagian penting dari ekosistem. Konektivitas antara sistem pengumpulan berbasis komunitas dan saluran daur ulang yang lebih formal diharapkan meningkatkan pemulihan material sekaligus mendukung mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada ekosistem daur ulang.


Penguatan infrastruktur juga menjadi bagian dari pengembangan program. SIG telah bekerja sama dengan Eco-Paper untuk meningkatkan peralatan pulping di fasilitas daur ulang. Langkah tersebut ditujukan untuk memperkuat kapasitas pemrosesan karton minuman bekas pakai sekaligus menciptakan alur pemulihan yang lebih efektif bagi kemasan yang terkumpul.


Dengan demikian, program tidak hanya berfokus pada bagaimana masyarakat membuang sampah, tetapi juga pada bagaimana material yang sudah terkumpul dapat masuk ke sistem pemulihan dan daur ulang.


*Dorong Ekonomi Sirkular*


Program “Recycle for Good – Prevent Marine Litter” juga dikaitkan dengan arah pengelolaan sampah di Indonesia, termasuk pengurangan sampah, pencegahan pencemaran laut, penerapan Extended Producer Responsibility (EPR), dan pengembangan ekonomi sirkular.


Rangkaian kegiatan tersebut mencakup perubahan perilaku, pemilahan dari sumber, pengumpulan, penguatan infrastruktur daur ulang, serta kolaborasi antarpemangku kepentingan. Pelaksanaan proyek diharapkan menghasilkan pengalaman dan wawasan praktis yang dapat menjadi masukan bagi kolaborasi berkelanjutan antara industri, komunitas, dan pihak lainnya.


Hingga kini, 389 lokasi telah menjadi bagian dari pelaksanaan proyek dengan jaringan mitra yang beragam. Sekolah, komunitas, kafe, pelaku usaha, lembaga keagamaan, dan pengumpul sampah menjadi bagian dari jaringan tersebut.


Target 10.000 Ton Sampah Kemasan


Program tersebut tidak hanya dilaksanakan di Indonesia. “Recycle for Good – Prevent Marine Litter” juga mencakup Thailand dan Filipina. Ketiga negara tersebut menjadi lokasi proyek regional yang akan berlangsung hingga Desember 2028.


Secara regional, proyek menargetkan pencegahan sedikitnya 10.000 ton limbah kemasan agar tidak masuk ke laut serta melibatkan sedikitnya 100.000 rumah tangga di tiga negara peserta.


Pelaksanaan lintas negara tersebut memungkinkan Indonesia, Thailand, dan Filipina berbagi pengalaman, data, metodologi, serta praktik implementasi. Pertukaran tersebut diharapkan dapat membantu mengidentifikasi pendekatan yang dapat disesuaikan dengan kondisi sistem daur ulang dan kebutuhan masyarakat di masing-masing negara.


Bagi Indonesia, perluasan wilayah program sekaligus memperluas jaringan pengumpulan dan keterlibatan masyarakat. Pengembangan tersebut diharapkan dapat memperkuat hubungan antara pengumpulan sampah di tingkat komunitas dengan fasilitas pengolahan dan daur ulang.


Melalui pengembangan program pengumpulan, investasi pada fasilitas daur ulang, serta kolaborasi di sepanjang rantai nilai, kemasan bekas diharapkan dapat dikumpulkan, dipulihkan, dan kembali dimanfaatkan secara produktif.


Dengan pendekatan tersebut, pencegahan sampah laut ditempatkan sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah yang lebih panjang, mulai dari perilaku masyarakat dalam memilah sampah hingga tersedianya infrastruktur untuk mengolah kembali material yang masih memiliki nilai guna.


Kategori : News


Editor      : AHS

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama