30 Juta Alat Tes Antigen Menumpuk, Karyawan Alkes Ngadu ke Jokowi

JAKARTA, suarapembaharuan.com – Para karyawan PT Taishan Alkes Indonesia menggelar aksi unjuk rasa menuntut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) menyetop pembelian alat-alat kesehatan dari luar negeri atau impor. 


Ist

Aksi unjuk rasa itu sendiri berlangsung di pabrik PT Taishan Alkes Indonesia dibilangan Cengkareng, Jakarta Barat.

 

Dalam orasinya, para karyawan PT Taishan Alkes Indonesia meminta ke Presiden Joko Widodo (Jokowi), untuk menolong nasib mereka kini dan lebih lagi memperhatian pemakaian alat kesehatan, khususnya tes swab antigen di Indonesia dengan menggunakan produk dalam negeri.


"Kami di sini ingin menyuarakan dan meminta tolong kepada Presiden Jokowi untuk lebih memperhatikan nasib Kami sekarang ini yang terancam di PHK. Kami juga meminta kepada Pak Presiden (Jokowi) untuk lebih memperhatikan lagi penggunaan swab antigen di Indonesia dengan lebih mengutamakan produk dalam negeri agar nasib kami bisa terselamatkan. Kita disini produksi terus sampai stok menumpuk," kata Sisca salah satu peserta orasi.


Saat dikonfirmasi ke pihak manajemen PT Taishan Alkes Indonesia membenarkan hal tersebut. Sekarang ini stok swab antigen yang menumpuk di gudang PT Taishan Alkes Indonesia ada sekitar 30 juta barang. Hal tersebut disampaikan oleh Cahyadi Burhan selaku Komisaris PT Taishan Alkes Indonesia.


“Presiden Jokowi sebetulnya telah mendukung industri dalam negeri dengan mengeluarkan Perpres 12 tahun 2021 yang mewajibkan produk – produk lokal untuk dibeli apalagi yang TKDNnya di atas 40%. Akan tetapi kenyataannya, pemerintah terkait tidak melakukan pembelian berdasarkan peraturan yang sudah dibuat oleh Pak Jokowi,” ujar Cahyadi. 


Cahyadi menambahkan bahwa awalnya ia berinvestasi di produksi alat kesehatan adalah karena adanya peraturan yang mendukung produk lokal seperti Perpres 12 tahun 2021. Bahkan menurut Cahyadi, Pak Jokowi sendiri sudah membentuk gerakan bangga buatan Indonesia untuk mendukung produk lokal yang diketuai oleh Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan.


“Namun kenyataannya, sekarang ini kami sendiri ini tidak pernah diperhatikan, tidak pernah dilirik, tidak pernah ada yang menghubungi. Padahal produksi kami sudah sangat banyak bisa sampai 1,2 juta pcs (swab antigen) perhari, itu pun hanya 2 shift. Jika 3 shift, kita bisa sampai 1,6 juta pcs perhari dan Kementerian kesehatan punya anggaran hampir 2 Triliun. Kemana semua anggaran itu? Kenapa lokal yang efisien tidak dibeli? Kalau alasannya tidak sanggup suplai, 2 Triliun dibagi 30 ribu itu hanya 60 juta pcs, sementara produksi Kami 1,2 juta pcs bisa Kami selesaikan dalam 2 bulan,” ujar dia.


Lebih lanjut Cahyadi menjelaskan, saat ini yang menjadi temuan dan sudah beredar di media sosial bahwa Kemenkes telah mengklik di e-katalog dengan harga Rp 86.000 per pcs sebanyak 1,5 juta pcs yang total anggarannya itu mencapai 129 miliar. Padahal dengan adanya kami dengan harga Rp 30.000 per pcs seharusnya itu bisa sangat menghemat anggaran.


Diakui produknya sudah memiliki izin edar AKD, sudah lolos uji validitas di laboratorium dan universitas yang ditunjuk oleh Kemenkes, memiliki sertifikat TKDN 48%, memiliki sertifikasi CE dan EC REP, sudah export ke Irlandia dan Thailand dan dihadiri oleh Menteri Perindustrian yaitu Agus Gumiwang, berarti bisa diterima secara internasional. 


"KSP pun sudah pernah mengunjungi kami dan mendukung kami sepenuhnya. Kami pun sudah mendapatkan sertifikasi halal, untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada umat muslim yang menggunakan dan kami pun sudah masuk di catalog Capaian Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh 2021" tutup Cahyadi.


Kategori : News

Editor     : AHS



Lebih baru Lebih lama