Sabam Sirait: Perjuangan Politik dan Kedaulatan Rakyat di Parlemen

Oleh : Warjio


“…Selama lebih dari 20 tahun saya tidak aktif secaralangsung dalam politik praktis akibat kondisi politik saat itu.Namun getaran perubahan suara diam rakyat yang setia dan loyal terhadap Bung Karno telah memberikan energi perjuangan yang tiada habisnya dalam perjalanan saya di dunia politik. 


Warjio

Di sinilah Pak Sabam hadir tidak hanya sebagai seorang senior. Pak Sabam hadir dengan seluruh keyakinan ideologisnya bahwa politik merupakan perjuangan membangun peradaban politik yang digerakkan oleh ide, gagasan, dan cita-cita Bung Karno”. -Megawati Soekarno Putri (2013)-


Pendahuluan

Saat diminta untuk menulis tentang Sabam Sirait oleh Panitia Pengusulan Sabam Sirait Menjadi pahlawan Nasional Republik Indonesia Tahun 2022, saya menerimanya dengan senang hati. Sebagai seorang dosen ilmu politik, --Sabam Sirait bukanlah” orang biasa” dalam pemahamannya saya. 


Sepak terjangnya dalam politik menjadi  salah satu bahan  saya untuk menganalisis prilaku politiknya baik sebagai individu ataupun dalam partainya, Partai Demokrasi (PD) yang kemudian menjadi PDIP. Sebagai individu,--dalam praktik politiknya, ia bukan individu biasa. 


Sabam Sirait memiliki karakter yang kuat dalam proses demokrasi yang tumbuh dan diperjuangkan di Indonesia. Dia adalah salah satu dari banyak tokoh Indonesia yang berjuang dalam proses demokrasi yang tidak mudah dengan karakternya itu.  


Bagi saya, karakternya itu jelas: tegas, berani namun juga menghargai. Karakternya ini, menjadi cirinya baik sebagai identitas pribadi akan tetapi juga ketika dia berada di PDIP, partai politik yang diperjuangakannya atau di dalam lembaga politik atau institusi tempat dimana dia memperjuangkan apa yang yang menjadi keyakinannya.


Di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), --menurut Megawati Sukarnoputri, intisari perjuangan Sabam Sirait di partai politik, tindakannya merupakan gerakan mengorganisir kekuatan rakyat. Kesabaran, terus bergerak dan berjuang, --ditengah berbagai tekanan baik oleh rezim penguasa ataupun penilaian masyarakat. Baginya, perjuangan kerakyatan ini hanya bisa berjalan dengan ideologi. Tanpa ideologi, tanpa Pancasila, maka mustahil bangsa ini berdiri kokoh dalam lautan keanekaragaman Indonesia yang begitu luar biasa.


Umumnya masyarakat mengenal Sabam Sirait sebagai tokoh senior PDIP dan bertugas di parlemen. Sabam Sirait adalah tokoh yang melintas banyak jaman rezim penguasa, dengan berbagai persoalan dan tantangan yang dihadapinya.


Saya setuju, jika ada pernyataan bahwa tidak banyak politisi yang berhasil mengalami masa pemerintahan tujuh presiden—Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie,Abdurahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Wibowo sekaligus tetap bertahan dengan konsistensi. 


Rezim penguasa ini menjadi semacam kawah candra dimuka tempat Sabam Sirait memperaktikkan pemikirannya sekaligus “berlayar” mengarungi lautan yang penuh dengan gelombang. Dalam mengarungi lautan itu ia menjadi seorang nahkoda yang melewati setiap gelombang yang dating; mengatur ritme bagaimana kapal harus bergerak dan tanpa menyerah untuk sampai pada pulau yang dituju. Tidak ada keraguan padanya. Ia berani tapi penuh perhitungan. Hanya kematian yang bisa menghentikannya.


Sabam Sirait, meninggal pukul 22.37 WIB, Rabu, 29 September 2021. Sabam mengembuskan napas terakhir pada usia 84 tahun di Rumah Sakit Siloam Karawaci, Tangerang. Sabam meninggalkan empat anak, empat menantu, dan delapan cucu. 


Atas sepak terjangnya,--mengaruhi lautan dan gelombang arena politik dalam praktek demokrasi di Indonesia, Presiden Joko Widodo alias Jokowi memberikan penghargaan Bintang Mahaputra Utama kepada Sabam Sirait pada 2015. Kepergian suami Sondang Sidabutar itu mendapat banyak perhatian dari para pejabat dan tokoh nasional lantaran kiprahnya semasa hidup yang mewarnai kancah perpolitikan tanah air.


Tentu pada kesempatan ini, --saat saya diminta untuk menuliskan kembali, Siapa Sabam Sirait dan aktivitas politiknya masyarakat umum sesungguhnya telah mengenalnya.Atas pemikiran dan karyanya yang telah menjadi bagian dari wajah politik dan demokrasi Indonesia masa kini. 


Indonesia yang telah dilukisnya dengan  keyakinannya. Saya memfokuskan pada dua perkara utama. Pertama, terkait erat dengan pandangan atau persfektif  Perjuangan Politik Kelas,--yang menurut saya inilah yang menjadi inti dari pemikiran dan aktivitasnya.  


Tentu, saya memahami bahwa sebuah perjuangan politik kelas, tidak terjadi dengan sendirinya. Ia ada karena latar belakang, sejarah yang mengitarinya. Yang membuat Sabam Sirait punya karakter dalam perjuangan.  Kedua, saya akan memberikan persfektif dari aktivitas dan capainnya selama di Parlemen. Isu apa yang disampaikan dan diperjuangkannya.


Sabam Sirait (ist)

ASAL –USUL DAN BIOGRAFI POLITIKNYA

Sebelum menjelaskan lebih jauh bagaimana pemikiran dan aktivitas Sabam Sirait dalam konteks Perjuangan Politik Kelasnya, saya akan sampaikan terlebih dahulu jati diri Sabam Sirait dan lingkungan yang membentuk dirinya.Bagian ini menjadi penting karena kita akan memahami bagaimana karakter pemikiran dan aktivitas politik Sabam Sirait dibentuk.


Asal Usul Yang Membentuknya 

Ketika saya melakukan survey untuk mengetahui untuk  seberapa kenal publi terhadap Sabam Sirait dan aktivitasnya, saya mendapat bahwa public umumnya megenali Sabam Sirait. Kata kunci pengenalan mereka adalah: tokoh dari tanah Batak, aktiv dalam politik dan partai (PDI dan PDIP) dan tokoh yang melintasi zaman berbagai rezim dan tidak terjebak pada polarisasi Suku Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA). 


Sabam Gunung Pinangian Sirait lahir pada 13 Oktober 1936 di Pulau Simardan, Tanjungbalai, Sumatera Utara. Dia adalah anak pegawai Kementerian Pekerjaan Umum Fridrik Hendra Sirait dan pedagang beras, Julia Sibuea. Ayahnya kemudian menjadi salah satu pendiri Partai Kristen Indonesia. 


Sabam Sirait, sesungguhnya lahir dan tumbuh dalam sebuah proses politik perjuangan kelas yang dibentuk dan dititiskan oleh ayahnya, Fridrik Hendra Sirait. Di masa mudanya Fridrik Sirait adalah seorang aktivis pergerakan di wilayah Tapanuli dan Simalungun.Ia termasuk salah satu penggerak awal Persatuan Christien Indonesia (Perci), partai politik yang didirikan olehMangaraja Sutan Soaduon Simatupang (ayahanda Jenderal T.B. Simaptupang) di Pematang Siantar. 


Fridrik Sirait juga pernah tinggal di Bukittinggi, Sibolga, dan Tarutung, bekerja untuk koran-koran perjuangan. Setelah berkeluarga, Fridrik Sirait memilih bekerja sebagai pegawai pemerintah kolonial. Ia bekerja di Pekerjaan Umum dan Tenaga Kerja (PU&T). 


Namun, hal itu tak membuat dirinya apatis terhadap dunia pergerakan, apalagi sampai menutup mata. Ia tetap kritis dan tetap berhubungan dengan kalangan pergerakan. Mungkin karena itulah—seperti dugaan Sabam Sirait—ia diasingkan ke Pulau Simardan, tempat dimana Sabam dilahirkan (Imran Hasibuan, 2019). 


Untunglah “masa pembuangan” ini tak terlalu lama.Tak sampai dua tahun, Fridrik Sirait dan keluarganya. meninggalkan Pulau Simardan, kembali menuju Pematang Siantar, ibukota Keresidenan Simalungun. 


Di Pematang Siantar itulah Sabam Sirait bertumbuh menjadi remaja.Namun, ia tidak digulung oleh mata pusaran budaya setempat seperti kebanyakan teman sebayanya. Sejak kecil,Sabam selalu bersikap disiplin serta rajin belajar dan bekerja.Sabam juga tak suka keluyuran, apalagi berbuat kenakalan lajimnya anak remaja di kampungnya masa itu.


Setidaknya ada dua faktor, menurut Sabam, yang membuat dirinya rajin belajar saat masih kecil. Pertama, karena meneladani keluarga Mangaraja Sutan SoaduonSimatupang. 


Kedua, karena keadaan yang serba sulit di masa perang kemerdekaan itu. Listrik dan air ledeng, misalnya, belum masuk ke daerah kediaman keluarga mereka kalaitu. Karena air yang sulit maka saban hari ia dan adiknya,Djumontang Sirait, harus mengangkuti air dari sungai kerumah yang jaraknya sekitar satu kilometer. 


Singkat kata, kehidupan saat itu benar-benar sulit.Kendati ayahnya pegawai pemerintah, kehidupan Sabam dan tujuh orang adiknya tidaklah jauh lebih baik dibanding teman-teman sebayanya. 


Zaman yang terus bergolak membuat sekedar hidup pun tidak mudah bagi orangseperti mereka.Gaji Fridrik Sirait, sebagai kepala keluarga, akhirnya tak memadai lagi untuk menopang hidup keluarganya. Apalagi seorang adik Sabam sempat sakit agak lama. Yang terjadi kemudian sang ibu, Julia Sibuea, mulai berjualan beras.Barangnya diambil dari eda-nya (isteri adiknya), seorang pedagang beras di Porsea.


Sabam, sebagai anak sulung, juga tak tinggal diam.Di masa sulit itu ia berinisiatif untuk berjualan rokok dan koran di stasiun kereta api yang tak jauh dari rumahnya. Usaha ini dilakoninya tanpa sepengetahuan keluarganya.Tujuannya, untuk meringankan beban orang tuanya. Di zaman itu banyak orang yang menjual rokok buatan sendiri.Tembakau dimasukkan ke kertas rokok dan dilinting sedemikian rupa.


Di Pematang Siantar pula, secara tak langsung, Sabam mulai mengenal dunia politik. Wahananya adalah bacaan.Ketika ia masih duduk di sekolah dasar, sesekali, kalau ada uang lebih, ayahnya membeli koran. Lalu, pamannya, Elam Sibuea, kalau datang berkunjung ke rumah keluarga mereka kerap membawa sejumlah lembaran lepas suratkabar. 


Ada kalanya Sabam juga pergi ke sebuah perpustakaan kecil di kota Siantar untuk membaca buku di sana. Secara tak langsung, ayahnya yang punya latar belakang pergerakanjuga mengenalkan Sabam ke dunia politik. Ketika masih di sekolah dasar, ia dibawa ayahnya ke sejumlah tempat pertemuan—antara lain ke Gedung Nasional Siantar.


Dinamika politik di Pematang Siantar saat itu jugasedang bergelora. Selain partai politik lokal seperti Persatuan Christen Indonesia (Perchi), sejumlah cabang partai politik nasional sudah bermunculan di kota itu. Salah satunya adalah cabang Partai Indonesia (Partai Indonesia)—partai yang didirikan Bung Karno pada April 1931, menyusul perpecahan di Partai Nasional Indonesia (PNI). Yang menjadi Ketua Partindo Cabang Siantar tak lain adalah Adam Malik, yang saat itu menjadi salah seorang tokoh pemuda di Pematang Siantar.


Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia oleh Soekarno-Hatta, 17 Agustus 1945, seperti di banyak kota lainnya di Indonesia, rakyat Pematang Siantar juga terbakar gairah semangat revolusi kemerdekaan.


Gairah revolusi kemerdekaan itu dirasakan dan dialami langsung oleh Sabam. Salah satu peristiwa yang selalu melekat dalam kenangannya terjadi di akhir Juli 1947. Rakyat Pematang Siantar—yang saat itu menjadi ibukota Provinsi Sumatra menggantikan Medan yang sudah diduduki pasukan NICA (Netherlands-Indies Civil Administration atau “Pemerintahan Sipil Hindia Belanda”)—sedang bergairah betul. 


Sejak pagi anak-anak sekolah, pemuda,laskar dan tentara tampak di mana-mana dengan rupa-rupaatribut kebangsaan menggelayut di pakaian atau asesorismereka. Merah putih, terutama. Siang itu rencananya Wakil Presiden Mohamad Hatta akan berbicara dalam rapat massa di lapangan kota.


Namun, ternyata Bung Hatta urung berbicara bertatap muka dengan rakyat. Terbetik berita bahwa pasukan Belanda telah mendarat di Pantai Cermin—yang tak jauh dari kota Medan—dan bergerak menuju Tebing Tinggi, lalu diperkirakan akan menyerang Pematang Siantar. 


Yang terjadi kemudian: Bung Hatta, Gubernur Sumatra Mohamad Hasan, beserta rombongan menyingkir ke Bukitinggi (di Sumatra Barat) dengan naik mobil. Hanya selang dua jam setelah rombongan Bung Hatta pergi, pasukan Belanda pun memasuki Pematang Siantar dengan kekuatan penuh: 80 truk, 35 tank, 25 panser, dan 20 jip.


Tadinya, Sabam—yang saat itu masih remaja berusia 11 tahun—juga berniat datang ke lapangan kota untuk mendengar pidato Bung Hatta. Tapi, niat itu ia batalkan karena melihat tanda-tanda tak beres di jalanan. Keadaan di sekitar kediaman bupati tampak kacau. Ada orang menurunkan bendera merah putih dan menaikkan “merah putih biru” (bendera Belanda) di sana. Dari kejauhan, Sabam bisa melihat “merah putih biru” melambai di rumah bupati yang berpekarangan luas itu. 


Ia kemudian mendengar kabar bahwa yang menaikkan bendera Belanda itu adalah pasukan Poh An Tui (laskar Cina) yang menjadi kaki-tangan pasukan NICA. “Saya menangis melihat itu semua. Melebihi banyak kejadian dalam perjalananhidupnya, peristiwa di Pematang Siantar itulah yang paling menggugah rasa nasionalismenya.


Keadaan yang semakin memburuk akibat kekejaman NICA, membuat Sabam Sirait dan keluarganya mengungsi ke Porsea, --kampung bapaknya. Di perjalanan selama tiga hari tiga malam, Sabam menyaksikan penderitaan rakyat akibat kekejaman NICA. Akibat perang kemerdekaan pula pendidikan Sabam dan adik-adiknya terganggu. 


Toh, akhirnya di tahun 1949, ia berhasil tamat dari sekolah dasar. Ayahnya berharap ia menjadi guru. Maka, sang ayah menyarankan agar Sabam masuk Sekolah Guru Bawah (SGB) saja, supaya bisa mendapat beasiswa dan nanti langsung bisa bekerja. Tapi, entah mengapa, sang ayah kemudian berubah pikiran. Justru Sabam dimasukkan ke SMP. 


Harapannya, setamat SMP nanti anak sulungnya itu bisa melanjutkan ke Sekolah Guru Atas (SGA). Sabam pun melanjutkan sekolahnya ke SMP Negeri Pantoan. Sewaktu bersekolah di sana ia ikut les Bahasa Inggris di HKI (Huria Kristen Indonesia). Satu hal yang masih ia ingat betul tentang kursus itu adalah pengajaran terjemahan bahasa Inggris lagu Indonesia Raya. Secara tak langsung sosialisasi lewat lagu ini telah menggugah kesadaran kebangsaannya.


Tahun 1952, Sabam Sirait tamat SMP. Ia membujuk orangtuanya agar dibolehkan melanjutkan sekolah ke Medan. Permintaan itu diluluskan. Maka, ia pun bertolak ke kota terbesar di Sumatera itu. Di Medan ia tinggal dirumah pamannya, Bungaran Sibuea, di Gang Aren, Jalan Serdang. 


Bungaran, yang bekerja sebagai pegawai di Kantor Perbendaharaan Negara, bukanlah orang politik. Tapi, ia berlangganan koran dan buku-buku politik.


Di Medan, Sabam tak memilih masuk SGA, seperti keinginan ayahnya. Ia mendaftar ke SMA Nasrani di Jalan Padang Bulan, dan ternyata diterima. Tak salah masuk dia. Masa itu, kualitas SMA Nasrani sangatlah bagus, karena pengajarnya banyak yang berbobot. Masa-masa di bangku SMA itu pula, Sabam banyak membaca. 


Ia kerap ke Perpustakaan Nasional di bawah“Jembatan Gantung” di dekat Stasiun Kereta Api Medan atau ke Perpustakaan British Council. Salah satu penulis idolanya adalah Bertrand Russell,filsuf-aktivis asal Inggris. Hampir semua buku Russell koleksi British Council dibacanya. 


Ada ihwal pendidikan,politik, Marxisme dan yang lain. Ia tertarik pada Russell karena filsuf yang pernah beroleh Nobel Perdamaian tersebut banyak berbicara soal keadilan. Ia juga membaca buku Russell ihwal mengapa Marxisme gagal di India. Jawaban Russell—yang menarik bagi Sabam—adalah karena Marxisme tidak melawan kasta. 


Islam kuat di India karena melawan kasta,sedangkan Kristen dan Marxisme ragu-ragu. Karya sastra dunia termasuk yang dilahap Sabam. Ia, misalnya, membaca karya-karya Ernest Hemingway. 


Salah satunya adalah The Old Man and The Sea, yang mengisahkan tentang pertarungan hidup-mati seorang nelayan tua dengan seekor ikan paus di tengah lautan luas . Terpengaruh Hemingway, waktu bertandang ke Kuba Sabam Sirait pun menyempatkan diri mengunjungi tempat sang pengarang menulis dan lama bermukim.


Di samping membaca buku-buku yang membuat pikiran nya terbuka, Sabam Sirait juga membaca Koran,--dari pamannya Bungaran Sibuea yang memang berlangganan koran Mimbar Umum. Koran Mimbar umum,--adalah Koran yang kemudian memperkenalkannya dengan Debating Club. 


Di Koran Mimbar Umum ini,--di kantornya di jalan Sutomo  secara berkala dilakukan acara Debating Club. Acaranya inilah yang membuka dirinya menjadi anggota club. Di sini Sabam Sirait belajar berdebat, berdiplomasi dengan berbagai isu,--sesuatu yang nantinya membawanya sebagai tokoh debat yang mumpuni.


Saat pulang ke Siantar, Sabam Sirait pernah diminta jadi  berceramah oleh teman-temannya di Persatuan Pemuda Kristen Indonesia (PPKI)—embrio dari Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI).


Biografi Politiknya

Setelah tiga tahun di bersekolah di Medan,dan aktif dalam club debat, Sabam Sirait kehilangan pamannya, Bugaran Sibuea yang meninggal. Ia kemudian tinggal bersama tulang Elam Sibuea, seorang aktivis politik yang sudah banyak makan asam-garam perpolitikan. Elam Sibuea pernah menjadi camat dan bekerja di kantor gubernur. Menjadi Bupati Toba di masa setelah perang kemerdekaan usai, pegiat Persatuan Christen Indonesia (Perchi) dan Partai Kristen Indonesia (Parki), kemudian aktif mengurusi Parkindo. Ia kembali ditunjuk menjadi Bupati Tapanuli Utara di tahun 1964. 


Tapi masa jabatannya belum habis dia sudah digusur tentara. Pasalnya, Elam Sibuea menentang judi yang sengaja dibiakkan tentara. Dalam bentuk pemikiran praktis, tulang Elam Sibuea adalah guru politiknya.


Setelah tamat SMA, Sabam akhirnya berangkat ke Jakarta tahun 1955, untuk memenuhi keinginan ayahnya masuk ke Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), agar anak sulungnya kelak bisa menjadi perwira polisi. Nasib memang sudah ditentukan. Ketika mau mendaftar di PTKI, pendaftaran sudah di tutup. Keadaan ini akhirnya, membawa Sabam Sirait akhirnya mendaftar di Fakultas Huku Universitas Indonesia (UI).


Sabam memulai karier politiknya sejak 1958, saat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ketertarikannya pada politik tumbuh setelah pembubaran partai politik oleh Soekarno pada tahun 1960. Ia aktif sebagai ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) cabang Jakarta.


Setelah menjadi ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) cabang Jakarta, ia diajak oleh ayahnya untuk bergabung dengan Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Dia dengan cepat naik jabatan, dan pada tahun 1961 dia menjadi Wakil Sekretaris Jenderal Parkindo, dan tujuh tahun kemudian dia menjadi Sekretaris Jenderal Partai.


Pada tahun 1965, sehari setelah upaya kudeta September 1965, ia diundang untuk membahas penumpasan Partai Komunis Indonesia (PKI) oleh Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia sebagai wakil dari Parkindo. Dalam diskusi itu, ia berpendapat bahwa PKI harus dibubarkan tetapi tidak dengan menyerahkan sepenuhnya prosesnya kepada Angkatan Darat. 


Dia berpendapat bahwa semua elemen masyarakat harus bekerja sama untuk mengatasi situasi tersebut. Argumentasi tersebut ditolak oleh semua perwakilan dalam diskusi, dan keputusan akhir adalah mempercayakan penumpasan PKI sepenuhnya kepada Angkatan Bersenjata.


Setelah Soeharto menjadi presiden Indonesia pada tahun 1967, ia mengeluarkan perintah untuk menyederhanakan partai politik berdasarkan ideologi. Awalnya, Parkindo dan Partai Katolik digabung menjadi kelompok agama dan membentuk Partai Persatuan Pembangunan. 


Setelah mengamati dominasi Islam di Partai Persatuan Pembangunan, Sabam dan tokoh politik lain dari kedua partai menolak penggabungan dan mengusulkan untuk melebur menjadi kelompok baru, tetapi gagasan ini tidak mendapatkan penerimaan luas oleh tokoh politik lainnya. Akhirnya, kedua belah pihak dilebur ke dalam kelompok nasionalis.


Setelah penggabungan partai politik menjadi kelompok, kelompok nasionalis termasuk Parkindo dilebur menjadi Partai Demokrasi Indonesia pada 10 Januari 1973. Sabam menandatangani Deklarasi Fusion mewakili Parkindo. 


Hasil peleburan itu disiarkan secara luas oleh media, dan tiga hari kemudian, Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia terbentuk, dengan Sabam terpilih sebagai Sekretaris Jenderal partai. 


Pembentukan Dewan Pimpinan Pusat disahkan pada Kongres I Partai Demokrasi Indonesia pada tanggal 11–13 April 1976. Akibatnya, pada tanggal 7 Maret 1970, Sabam bersama perwakilan dari berbagai partai mengadakan pertemuan untuk membahas pengelompokan partai. 


Pada pertemuan kedua pada tanggal 9 Maret 1970 diadakan pertemuan kedua untuk memulai penyusunan pernyataan bersama tentang kelompok. Pernyataan bersama itu selesai dan dilaporkan kepada presiden pada 12 Maret 1970, yang menyatakan kesediaan partai-partai politik dalam kelompok nasionalis untuk bekerja sama untuk pembangunan Indonesia.


Selama kampanye pemilihan umum 1971, Sabam ditangkap dua kali. Pertama, dia ditangkap polisi setelah dilaporkan palsu karena mengeluarkan pernyataan bahwa “Tentara Indonesia adalah kelompok fasis”. 


Kedua, ditangkap usai menggelar aksi unjuk rasa bersama sekelompok aktivis mahasiswa di Jakarta menentang pembangunan proyek Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang dinilai terlalu mahal oleh para demonstran.


Menjadi politisi bukan tujuan hidup Sabam Gunung Panangian Sirait, demikian nama lengkapnya. Sulung empat bersaudara ini tadinya diharapkan ayahnya, Fridrik Hendrik Sirait, menjadi guru atau polisi. 


Tapi Sabam memilih Fakultas Hukum Universitas Indonesia, meski pelahap buku Bertrand Russel ini tak menyelesaikan kuliahnya karena kesibukan berorganisasiSebelum berkiprah di dunia politik, pria yang pernah belajar di Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada 1960 ini bekerja di bidang administrasi. 


Tercatat, Sabam pernah menjadi pegawai administrasi di SMA Persatuan Sekolah Kristen Djakarta (PSKD) pada 1957-1958 dan pegawai pada Lembaga Administrasi Negara (LAN) di Jakarta pada 1958–1960. Sementara itu, karier politiknya dimulai dari Partai Kristen Indonesia (Parkindo). 


Sabam kemudian menjadi Sekretaris Jenderal Parkindo periode 1967-1973. Saat kebijakan fusi partai politik menjadi tiga di era Orde Baru, Sabam turut membidani pembentukan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan menandatangani deklarasi pembentukan PDI pada 10 Januari 1973.


Ia sempat menjadi Sekjen PDI selama tiga periode, yakni periode 1973-1976, periode 1976-1981, dan periode 1981-1986. Setelah perpecahan PDI, partai itu dibagi menjadi dua faksi yang dipimpin oleh Soerjadi yang didukung pemerintah dan oleh Megawati secara reseptif. Karena aliansi partainya dengan PNI pada 1970-an, Sabam bergabung dengan faksi Megawati. 


Pilihan ini membuatnya diinterogasi oleh pemerintah setelah insiden 27 Juli 1996. Sabam Sirait juga turut menjadi pendiri Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) pada September 1998 dan menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Pusat PDIP pada 1998-2008.


Perjuangan politik kelas Sabam Sirait dan kedaulatan rakyat di parlemen di atas telah saya jelaskan asal-usul Sabam Sirait. Juga biografi politik singkatnya yang membawa kita bisa memahami siapa Sabam Sirait; siapa yang membentuk pemikiran  dan bagaimana sikap politiknya. Kenyataan itu tentu saja membawa kita untuk memahami sikap politiknya. 


Latar belakang itulah yang ,--menurut saya membentuknya sebagai aktivis politik yang lekat dengan perjuangan politik kelas. Seorang Sabam Sirait adalah seorang aktivis politik yang gelisah; akan pengetahuan, akan ketidak adilan, juga akan kesewenang-wenangan yang tidak melihat suku, agama, ras dan antar golongan (SARA). Di sinilah kita memahami Sabam Sirait dalam konteks perjuangan politik kelas.


Terlalu sering para analis politik memahami perjuangan kelas dalam istilah yang agak sempit sebagai tindakan kolektif yang diambil oleh pekerja untuk memajukan kepentingan ekonomi kelas pekerja, mengabaikan aktor-aktor lain dalam perjuangan kelas dan kolektif yang sama pentingnya (dan dalam epos saat ini bahkan lebih penting) kolektif. Tindakan yang diambil dan diarahkan oleh kelas penguasa, terutama yang melibatkan aparatur negara, yang biasanya dikendalikan oleh faksi-faksi yang berbeda dari kelas ini. 


Perjuangan politik kelas selalu menawarkan perspektif unik tentang dinamika yang berkembang dari yang melibatkan kekuatan konstruktif dari perkembangan social politik mereka yang ingin mengkonsolidasikan sistem dan mempertahankan status quo, di samping upaya perlawanan rakyat yang berkaitan dengan masyarakat dan lingkungan social.


Dua dimensi  dari perjuangan terbentuk dalam proses ini. Satu mengambil bentuk perjuangan politik untuk menguasai negara – untuk merebut negara sebagai instrumen kekuasaan kelas. Ada dua front perjuangan ini. Salah satunya melibatkat proses politik elektoral – jalan parlementer menuju kekuasaan negara; yang lain melibatkan mobilisasi kekuatan perlawanan – jalan revolusioner menuju Negara kekuasaan. 


Sebuah front kedua dalam perjuangan kelas dibentuk dalam perlawanan rakyat terhadap kemajuan kapital dalam bentuk perjuangan anti-imperialis. Dengan memahami persfektif seperti ini, Sejarah Imperialisme di Indonesia, dan perjuangan anti-imperialis yang dihasilkan di Indonesia , --bagi Sabam Sirait adalah pemaknaan akan sebuah gerakan yang harus dituntaskan. 


Era neoliberal yang dimulai pada tahun 1980-an dengan pemasangan apa yang disebut 'tatanan dunia baru', dibuat konteks yang sama sekali berbeda untuk perjuangan kelas, seperti yang dilakukan tahun-tahun pembukaan tahun baru millennium.


Dari tahun 1950-an hingga 1970-an perjuangan kelas terutama adalah masalah tanah dan buruh, sedangkan pada 1990-an, setelah satu dekade interregnum di mana kekuatan-kekuatan perlawanan yang telah dibawa ke tanah atau bubar dibangun kembali, perjuangan kelas Perjuangan itu berbentuk pemberontakan dan perlawanan yang meluas terhadap kaum neoliberal agenda reformasi struktural dalam kebijakan publik makroekonomi. 


Dalam milenium baru perjuangan kelas sekali lagi telah mengambil bentuk yang berbeda di bawah kondisi-kondisi beberapa perubahan zaman yang menentukan dalam ekonomi global (kebangkitan Cina sebagai kekuatan ekonomi, ledakan komoditas primer konsekuen) dan kematian neoliberalisme sebagai doktrin ekonomi dan model pembangunan. Di bawah kondisi ini dan perluasan modal ekstraktif atau pencari sumber daya – kelas perjuangan pergi ke beberapa arah yang berbeda. 


Di perbatasan modal ekstraktif, masyarakat yang paling terkena dampak langsung dampak negatif sosial-lingkungan dan operasi destruktif modal ekstraktif bangkit dan mengambil tindakan kolektif terhadap perusahaan pertambangan. 


Pada front politik, dinamika perjuangan kelas membawa proses perubahan rezim – gelombang pasang rezim pasca-neo-liberal progresif yang berkomitmen pada 'aktivisme negara inklusif' – penggunaan pendapatan fiskal oleh pemerintah yang berasal dari ekspor primer komoditas untuk mengurangi kemiskinan dan mewujudkan bentuk pembangunan yang lebih inklusif (James Petras dan Henry Veltmeyer, 2018:3-5).


Sabam Sirait, bergerak dalam wilayah ini; perjuangan kelas dari sebuah rezim. Ia sadar bahwa model pembangunan yang diterapkan pada masa Orde Baru membuatnya untuk terus berpikir; bagaimana ia harus hadir dan meresponnya. Bagi Sabam Sirait, ada banyak persoalan dari dampak kebijakan pembangunan yang ditelurkan oleh Suharto sebagai pemimpin Orde Baru. 


Misalnya,--bagi Sabam Sirait, di bidang hukum, perlu dilahirkan undang-undang untuk melindungi warga negara agar merasa aman. Sedangkan untuk UU Anti Monopoli, Kartel dan Persaingan Usaha dibuat agar tidak lagi terjadi monopoli di bidang ekonomi sehingga menyengsarakan rakyat. 


Selama menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Pertimbangan Agung, Sabam dikenal karena advokasi melawan monopoli di Indonesia. Dia kerap mengungkit masalah itu pada masa jabatan pertamanya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat, dengan menyusun undang-undang antimonopoli. Dia sering ditertawakan oleh rekan-rekannya ketika membicarakan masalah ini.


Sabam kembali mengangkat masalah itu saat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung. Pada tahun 1987, ia berdebat tentang hal itu selama enam jam dengan Menteri Kehakiman, Ismail Saleh, dan Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Baharuddin Lopa. 


Akhirnya, mereka semua sepakat bahwa diperlukan undang-undang anti monopoli, dan surat dikirim ke presiden tentang undang-undang antimonopoli. Undang-undang tersebut disahkan sebelas tahun kemudian selama krisis keuangan Indonesia. Dia berpendapat, jika undang-undang itu disahkan pada 1987, Indonesia akan bisa terhindar dari krisis keuangan.


Bagi Sabam Sirait, perjuangan politik kelas adalah perjuangan untuk kesetaraan, tanpa membedakan kelompok manusia berdasarkan identitas tertentu. Meski nonmuslim, namun Sabam dikenal secara terbuka mendukung pengakuan Palestina dan mengkritik Israel karena sering melakukan pelecehan terhadap rakyat Palestina. 


Dia menilai, penderitaan rakyat Palestina harus dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia dan umat Kristiani. Sejak 2007, Sabam telah menghadiri berbagai demonstrasi untuk mendukung perjuangan Palestina, yang sebagian besar diselenggarakan oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS).


Sabam sering memuji partai tersebut atas dukungannya yang konsisten terhadap perjuangan Palestina melalui demonstrasi dan sumbangan rutin. Sabam juga mengkritik partainya dan pihak lain yang tidak menunjukkan dukungan terhadap pengakuan Palestina. Sabam sudah berkali-kali mengusulkan kepada pemerintah untuk memberi nama salah satu jalan di Jakarta untuk menghormati Palestina.


Hal lain juga mengungkap Sabam Sirait sebagai tokoh yang mengembangkan pluralism,--terutama dimasa reformasi. Masa kritikal bagaimana Indonesia ke depan pasca jatuhnya Presiden Soeharto. 


Sabam Sirait mengungkapkan hendaknya disesuaikan dengan keadaan dan kondisi serta budaya bangsa Indonesia seperti diamanatkan UUD 1945 dan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).


Sementara itu sesuai dengan Rapat Kerja Nasional Patisipasi Kristen Indonesia di Surabaya pada tanggal 28-29 November 1997 yang meyakini suksesi kepemimpinan nasional pasti terjadi dan merupakan kebutuhan untuk dapat melakukan perubahan di Indonesia, maka DPP Patkindo mengeluarkan pernyataan sikap. 


Yang mengacu kepada reformasi-reformasi di bidang politik, ekonomi dan hukum dengan berpijak pada peran gereja, masyarakat dan bangsa, dimana DPP Parkindo menyetujui pengunduran diri Bapak Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia dan menyerahkan kepada rakyat untuk menentukan penggantinya secara konstitusional.


Dalam pernyataan yang ditandatangani Sabam Sirait dan Sekjen, Drs Supardan MA menyatakan pihaknya menyatukan diri dengan gerakan dan perjuangan mahasiswa dan rakyat Indonesia untuk melaksanakan reformasi dan menyambut gembira sikap ABRI yang menyatakan mendukung serta siap melaksanakan reformasi.


Disamping itu, DPP Parkindo mengingatkan dalam melaksanakan reformasi, diminta kepada semua pihak untuk tidak menggunakan cara penyelesaian politik dengan mengobarkan suku, agama, ras (SARA) yang seakan-akan diorganisir.


Dalam pernyataan sikap itu, DPP Parkindo menyerukan kepada seluruh komponen bangsa dan masyarakat untuk bersatu pada mengakhiri tindakan kekerasan yang sedang terjadi dan diminta agar ABRl dengan segera mengumumkan pelaku dan aktor intektual dan kerusuhan dan tindak kekerasan tersebut serta menyelesaikannya sesuai hukum dan keadilan.


Masa Orde Baru menjadi medan perjuangan Sabam Sirait untuk menguatkan kedaulatan rakyat di parlemen. Untuk urusan ini, ia tegas menolak setiap kebijakan yang tidak adil. Pada tahun 1992, dalam sidang yang diketuai oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Wahono, Sabam menginterupsi sidang dan pergi ke meja Wahono untuk meminta amandemen Ketetapan Dewan Perwakilan Rakyat saat itu tentang pemilihan umum, yang ia anggap tidak demokratis. Setelah sesi itu, dia didakwa dengan subversi dan anti-pembangunan


Sabam Sirait mengatakan sebenarnya keinginan utama adalah suksesi kemudian reformasi. Misalnya keinginan Kepala Negara untuk melakukan “Lengser Keprabon” diikuti dengan perbaikan di bidang perundang-undangan politik, ekonomi dan hukum. Misalnya, perbaikan terhadap lima paket undang-undang di bidang politik, melahirkan undang-undang anti monopoli, undang-undang di bidang hukum, pencabutan undang­-undang anti subversi dan sebagainya.


KESIMPULAN

Begitulah Sabam Sirait. Asal-usulnya merupakan pembentukan karakter awal pemikiran politiknya dimana latar belakang keluarga seperti ayah, paman ataupun tulang membentuk karakternya. Daerah juga telah memberikan pemahaman akan karakternya: Tanjung Balai, Siantar, Medan, Jakarta dengan berbagai persoalan dan gelombang kehidupan bukan saja memberikan pendidikan politik praktisnya juga lading pergerakannya. 


Perubahan politik dunia,--yang ditelurkan oleh  filosof atau sasterawan telah membentuk karakternya lebih global dalam melihat realitas politik. Kenyataan ini tidak membuat seorang Sabam Sirait terjebak pada polarisasi politik. Ia bergerak dan memperjuangkan proses demokrasi yang luas, tidak sempit yang dibentuk rezim penguasa.


Pengalaman panjang Sabam Sirait, sebagai politisi senior tiga zaman (yang telah mengalami masa pemerintahan enam Presiden RI, menjadi anggota parlemen selama tujuh periode, serta anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dua periode) pantas dijadikan bahan pembelajaran bagi kalangan politisi yang ingin menegakkan politik yang bermartabat. 


Bagi Sabam Sirait, perjuangan menegakkan nilai-nilai moral itu merupakan bagian dari komitmen politiknya dalam menegakkan demokrasi dan memperjuangkan aspirasi rakyat. Meski mengaku bukan tipe politisi yang radikal, tapi bila menyangkut dua komitmen tersebut, Sabam berani “pasang badan”.


Ditengah situasi pentas perpolitikan nasional yang “suram” sekarang ini, sosok Sabam Sirait dengan nilai-nilai dan moral politik yang diyakini dan dilakoninya, bagaikan “oase” dan sumber inspirasi bagi kalangan politisi muda—baik yang sudah menjadi anggota parlemen, maupun yang berniat akan terjun sebagai wakil rakyat.


Di tangan Pak Sabam, politik tidak sekedar alat untukmengejar kekuasaan politik. Politik sekaligus mengandung kesiapanmental untuk tidak berada dipanggung kekuasaan, selama itu dipilih sebagai konsekuensi atas pilihan terhadap jalan ideologi. Menjadi politisi, dengan demikian, bukanlah sekedar seni untuk menjadi pemimpin,namun di dalamnya mengandung kerelaan untuk menjadi pengikut.


Penulis adalah Dosen Ilmu Politik, Fakultas ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara (USU), Medan



Lebih baru Lebih lama