Perang Nuklir Bisa Jadi Mimpi Buruk untuk Benua Eropa

WASHINGTON, suarapembaharuan.com - Amerika Serikat (AS) dan NATO dinilai tidak siap jika harus berperang langsung dengan Rusia untuk membela Ukraina. Apalagi jika Rusia sudah menyiapkan penggunaan nuklir.


RS-28 Sarmat/Net

Menurut pakar keamanan, alasan yang logis adalah karena Moskow saat ini adalah negara adidaya nuklir. Pakar keamanan nasional Universitas Curtin, Alexey Muraviev, mengatakan kepada ABC News mengatakan konfrontasi langsung dengan negara adidaya nuklir bukanlah suatu pilihan.


Ketika orang-orang Eropa ketakutan setelah Rusia menginvasi Ukraina, Presiden Vladimir Putin telah memerintahkan pasukan nuklirnya dalam siaga tempur. Itu akan menjadi mimpi buruk bagi benua Eropa jika perang nuklir pecah.


"Orang-orang Eropa tidak benar-benar bersatu sebelumnya sehingga masih ada ketidaksepakatan yang terus dieksploitasi Rusia," kata Muraviev, Kamis (3/3/2022).


"NATO dan PBB atau Amerika Serikat tidak siap untuk menghadapi Rusia secara militer. Mari kita ingat, Rusia bukan Serbia, Rusia bukan Irak, Rusia bukan Afghanistan."


Invasi ke Ukraina telah mengguncang rasa puas diri yang dirasakan oleh banyak orang Eropa yang menyaksikan perang di benua itu dengan cara yang menurut banyak orang terbatas pada sejarah dan dampaknya akan berlangsung lama.


"Amerika dan Eropa tidak siap untuk berjuang dan mati untuk Ukraina karena mereka akan menghadapi jenis kekuatan militer yang berbeda-mereka akan menghadapi negara adidaya nuklir," ujar Muraviev.


Konfrontasi langsung dengan negara adidaya nuklir yang setara dengan NATO atau Amerika Serikat berisiko meningkatkan konflik konvensional menjadi perang nuklir. AS sebagai pemimpin NATO sudah terang-terangan menolak untuk perang langsung dengan Rusia. Namun, Washington memasok Ukraina dengan senjata-senjata anti-pesawat.


Kategori : News

Editor     : AHS



Lebih baru Lebih lama