Warga Tolak Keberadaan Gudang di Jalan Timor Medan

MEDAN, suarapembaharuan.com - Warga Jalan Timor Dalam Kelurahan Perintis, Kecamatan Medan Timur, merasa keberatan dengan adanya gudang berdiri di tengah permukiman mereka. 


Ist

"Kami khawatir pergudangan itu sewaktu-waktu terjadi kebakaran akibat barang yang digudangkan bersifat mudah terbakar karena terbuat dari foam," kata Joseph Siswanto, Ketua Gang Timor Dalam mewakili warga setempat kepada wartawan di Medan, Minggu (22/5/2022).


Selain itu disinyalir  gudang berada di tengah pemukiman tidak memiliki izin pergudangan, HO dan lainnya. "Sejak dilakukannya aktivitas pergudangan hingga saat ini, pengelola tidak pernah meminta izin atau memberitahukannya kepada kami," sebut Joseph.


Dia juga menyampaikan, bahwa pergudangan sudah tidak boleh di kota lagi, apalagi ini di inti Kota Medan dan berjarak 300 meter ke Kantor Pos Medan, Jalan Balai Kota samping Jalan Bukit Barisan. 


"Kami beberapa kali mendapati pekerjaan pergudangan itu berlangsung hingga malam dengan suara yang cukup mengganggu istirahat para warga," ucapnya. 


Pihaknya beberapa kali menemukan truk maupun pikap dan sejenisnya mengangkut barang dengan over kapasitas, melebihi ambang batas bak kendaraan, sehingga warga khawatir suatu saat dapat terjadi kecelakaan dan menimbulkan korban akibat barang terjatuh dari kendaraan tersebut. 


Kemudian,  warga juga merasa terganggu dengan seringnya hilir mudik mobil pikap,  truk,  dan sejenisnya yang mengangkat berbagai barang seperti kursi makan, kursi lipat, kursi direktur dan meja tulis di Gang Timor Dalam. "Kenyamanan kami juga terganggu sejak adanya aktivitas pergudangan tersebut," imbuhnya.


Joseph berharap instansi terkait dapat membantu mengambil kebijakan untuk menutup dan tidak memperbolehkan lagi berdirinya dan menjadikan gudang barang di tengah warga Gang Timor Dalam, Kelurahan Perintis, Kecamatan Medan Timur. 


Terkait pagar yang dipersoalkan pengelola gudang, Joseph menjelaskan bahwa pintu pagar itu dibangun melalui musyawarah dengan warga setempat. "Hasilnya warga setuju dan membuat pintu pagar itu yang dananya hasil dari swadaya masyarakat, " terangnya. 


Dia mengungkapkan, pintu pagar itu dipasang karena barang diletak di belakang berhilangan seperti sepeda motor, kaca spion mobil hilang serta barang peralatan dapur. "Pintu pagar yang kami pasang ini hidup, tidak mati. Masyarakat juga diberi kunci pintu pagar semua, agar keluar tidak kesulitan," tandasnya. 


Anehnya, kenapa salah seorang warga dilaporkan ke polisi terkait pintu pagar itu yang diduga merintangi jalan umum. Padahal pintu pagar itu sudah berdiri 9 tahun dan atas kemauan warga setempat. "Ada apa ini, " tanya Josep.


Kategori : News

Editor     : PAS


Lebih baru Lebih lama