Menimbang Pasangan Sipil - Militer Hasil Musra

 

Oleh : Thomson Manurung 

Aktivis 98/ Sekjen Sekber Ganjar Nusantara


Ganjar-Moeldoko adalah pasangan serasi dan sebuah realitas politik yang menggabungkan kuantitas dan kualitas sipil-militer. Nasionalis-Nahdylin Jawa Tengah dan Jawa Timur, kedua tokoh ini tidak diragukan lagi. Kekuatan pasangan tersebut sangat dahsyat, di mana Ganjar Pranowo sebagai anak ideologisnya Bung Karno, tentu pemilih fanatiknya PDIP akan bersatu untuk memenangkan Pak Ganjar. Selain itu, kedekatan Ganjar Pranowo dengan para ulama yang berpengaruh di PBNU tentu akan mendukung beliau. Rasa hormat Ganjar pada ulama-ulama NU ditunjukkan setelah resmi diumumkan PDIP, beliau mengunjungi Gus Mus, Gus Baha, Habib Lutfi, dan lain-lain untuk memohon restu dan doa para ulama.


Thomson Manurung Bersama Presiden Jokowi.

Sebagai tokoh militer, Moeldoko mempunyai pengalaman dalam geopolitik dan dekat dengan para ulama. Hal ini merupakan suatu kekuatan yang sangat baik bila dipasangkan untuk menjadi calon presiden dan wakil presiden. Kedekatan Ganjar Pranowo dan Moeldoko kepada Presiden Joko Widodo juga merupakan salah satu perekat keduanya untuk diusung menjadi calon presiden dan wakil presiden. Dengan diduetkannya mereka berdua menjawab sahabat relawan yang mengusulkan tiga periode walau bukan Presiden Joko Widodo yang menjadi presidennya dengan visi, misi, dan program yang sama.


Ada lima kesamaan di antara Ganjar Pranowo dan Moeldoko, yang mana hal tersebut dapat menjadi perekat kedua pasangan ini: 


Pertama, Ganjar Pranowo sudah dicapreskan oleh partai pemenang pemilu 2019. Hal ini sudah sesuai konstitusi. 


Kedua, Ganjar Pranowo memiliki elektabilitas yang cukup tinggi. Ini merupakan modal awal dan setelah diumumkan makin meningkat, walaupun masih di Pulau Jawa dan saya yakin pada saat Ganjar hadir di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, elektabilitasnya pasti akan semakin meningkat.


Ketiga, kedua tokoh ini dekat dengan Presiden Joko Widodo dan penerus program-programnya, diperkuat dengan Moeldoko selaku KSP yang tahu dan paham apa yang telah, sedang, dan akan dikerjakan Joko Widodo sebagai Presiden. Hal ini memperjelas kelanjutan pembangunan yang akan dikerjakan pada saat terpilih kelak. 


Keempat, Ganjar tahu dan paham apa yang menjadi kebutuhan rakyat, diperkuat dengan Moeldoko yang mampu memecahkan masalah rakyat. Misalnya, kasus wadas tuntas berkat kerja sama antara Ganjar dan Moeldoko. 


Kelima, keduanya merupakan “nasionalis tulen”. Ganjar Pranowo dibesarkan dalam rumah besar ideologi marhenisme, sedangkan Moeldoko merupakan TNI yang nasionalis dan benteng penjaga Kebinekaan dan Pancasila.


Kelompok relawan menyatakan menunggu arahan Pak Jokowi. Kalau arahan secara eksplisit itu mustahil, melainkan secara implisit melalui gesture dan simbol-simbol yang menurut saya itu relevan. Kalau kita mengharapkan itu diucapkan ke publik, artinyakita merusak nama baik Joko Widodo sebagai presiden. Pak Jokowi kurang apa lagi, beliau memberi simbol pada saat acara Nusantara Bersatu yang digelar di GBK Senayan Jakarta, yang dihadiri 150 ribu peserta pada tanggal 26 November 2022 lalu. Beliau menyebut ciri-ciri penggantinya memiliki rambut putih, kerut di jidat, mau kerja dan tidak hanya duduk di istana menikmati sejuknya ruangan. 


Selain itu, pada saat Ganjar Pranowo diumumkan oleh ketua umum PDIP untuk menjadi calon presiden pada tanggal 21 April 2023, yang mana bertepatan dengan Hari Kartini, di Istana Batu Tulis Bogor. Kehadiran Pak Jokowi, kepulangan menuju Bandara Halim Perdanakusuma, keberangkatan ke Solo dan salat id yang dilakukan bersama-sama itu menunjukkan simbol dukungan kuat kepada Ganjar Pranowo.


Dukungan yang sangat luar biasa setelah Ganjar didaulat menjadi calon presiden oleh ketua umum PDIP terlihat dari berbagai survey. Pertama, Survey Charta Politika Indonesia merilis tingkat keterpilihan Ganjar Pranowo mencapai 38,2%; 


Kedua, oleh SMRC, elektabilitas Ganjar Pranowo mencapai 39,2%. Ketiga, oleh Indikator Politik Indonesia, elektabilitas Ganjar Pranowo mencapai 36,6% dan ketiga survey tersebut menunjukkan elektabilitas Ganjar Pranowo yang melejit walaupun hanya dalam hitungan hari setelah diumumkan secara resmi menjadi calon presiden.


Pada puncak Musyawarah Rakyat atau MUSRA di Istora Senayan, Minggu, 14 Mei 2023, gegap gempita saat Andi Gani Nena Wea menyebut nama Ganjar Pranowo  sebagai salah satu calon presiden yang diserahkan kepada Presiden Joko Widodo, berbeda dengan dua calon lainnya, yaitu Prabowo Subianto dan Airlangga Hartarto. Saat beliau menyebut nama calon wakil presiden juga dukungan kepada Moeldoko dan Mahfud MD juga mendapat dukungan yang luar biasa dari peserta MUSRA.


Setelah MUSRA, muncul berita yang menyebut bahwa persentase Ganjar Pranowo berada di bawah Prabowo Subianto. Hal tersebut merupakan hoax karena faktanya bukan demikian dan kita sedang mencari sumber berita itu. Dalam konferensi pers setiap MUSRA yang dapat dilihat di berbagai media dan yang diserahkan kepada Presiden Joko Widodo juga tidak mencantumkan persentase, baik calon presiden maupun calon wakil presiden. Andi Gani juga sudah membantah berita itu di TV One. Mudah-mudahan sahabat relawan dapat menerima bantahan tersebut. Saya selaku Sekretaris Jenderal Sekretariat Bersama Jokowi Nusantara yang terlibat dalam kegiatan MUSRA juga menyatakan bahwa berita itu adalah hoax.


Kategori : Opini


Editor     : AHS


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama