Hipotesa Cook dan Harapan

 Refleksi Bayu Krisnamurthi, 12 Juli 2023



Hari ini Hari Koperasi. Saya pernah merasakan malas untuk menulis tentang koperasi hanya karena memperingati Hari Koperasi; karena telah terasa hambar, tanpa semangat, dan seolah hanya jadi ‘rutinitas’ saja.



Tapi Hari Koperasi tahun ini terasa berbeda. Dosen sekaligus kolega saya – Prof Agus Pakpahan, yang memperkenalkan saya kepada pemikiran ‘institutional economics’ – beberapa bulan lalu diangkat menjadi Rektor perguruan tinggi yang memiliki nama “koperasi”, Universitas Ikopin.  Dan kegiatan ‘pertama’ Kang Agus sebagai Rektor adalah menanda-tangani kerjasama dengan koperasi petani kelapa sawit. Lalu Koperasi Produsen Pangan Fungsional Indonesia (KPPFI) yang kami gagas bersama beberapa kawan telah berdiri secara resmi dengan mendapat pengesahan dari Pemerintah.


Terasa ada yang beda, ada semangat baru, ada sesuatu yang ‘nyata’.


Ini mendorong saya untuk membuka kembali disertasi saya di IPB yang sudah berumur 25 tahun: Krisnamurthi (1998) Perkembangan Kelembagaan dan Perilaku Usaha Koperasi Unit Desa di Jawa Barat. Yang saya cari adalah halaman dimana tertulis bacaan utama yang menjadi ide dasar dari disertasi itu: Hipotesa Cook.


Prof Michael Cook adalah Professor of Agricultural and Applied Economics dari University of Missouri Amerika Serikat. Salah satu karya ilmiah utamanya adalah The Future of US Agricultural Cooperatives: A Neo Institutional Approach, yang diterbitkan di American Journal of Agricultural Economics, Desember 1995. Tulisan itu menggunakan data 40 tahun perkembangan koperasi di Amerika, lalu membangun model konsepsional untuk menduga perkembangan koperasi ke depan. Saya beruntung bisa ‘berguru’ ke Prof Cook, meski singkat dan terbatas, pada saat tahun 1995an aktif sebagai pengurus IAMA (International Agribusiness Management Association).


Disertasi saya (1997-1998) kemudian memakai Hipotesa Cook, tetapi dengan memodifikasinya untuk dapat diterapkan pada data cross section (data satu waktu) dari lebih 300 KUD di Jawa Barat.


Hipotesa Cook menyatakan bahwa pada awalnya koperasi adalah langkah defensive dari anggota-anggotanya dalam menghadapi kegagalan pasar.  Sistem pasar yang berbasis kapitalisme (persekutuan modal) memang memiliki ‘fallacy’, ketidak sempurnaan.  Koperasi dibangun dengan semangat mengkoreksi ‘fallacy’ itu, dan hampir selalu dengan anggotanya yang bersemangat ‘militan’.


Setelah kemudian koperasi berkembang (dan hampir selalu diikuti dengan sistem persekutuan modal juga membuat penyesuaian atas ‘challenges’ dari koperasi), koperasi memasuki tahap kedua: koperasi menjadi kelembagaan usaha alternatif. Ini adalah tahap kritis. Koperasi harus dapat terus menerapkan manajemen prima dan efisiensi usaha, memberi insentif ekonomi bagi anggota, dan tetap menjaga penerapan prinsip-prinsip koperasi.


Pada tahap ketiga tantangannya benar-benar menjadi tantangan kelembagaan internal koperasi, yaitu menata struktur hak antar anggota, mengatasi free rider, dan benar benar dapat mengatur kewajiban, kontribusi menghadapi resiko, voices, dan reward yang akan diterima anggota. Sekali lagi, hal ini harus dilakukan dengan tetap menjadi sarana memperoleh kesejahteraan bagi anggota sekaligus konsisten menerapkan prinsip koperasi.


Apabila telah mampu melewati tahap ketiga, maka koperasi akan memasuki tahap keempat: menjadi usaha yang berkelanjutan yang hampir semuanya ditandai oleh manajemen yang juga berkelanjutan. Pada tahap ini koperasi lazimnya telah berkembang penuh dan hampir semua menjadi lembaga usaha yang menguntungkan dan besar.


Analisa atas kondisi KUD di Jawa Barat tahun 1996 (data yang saya pakai) memang membawa nuansa yang digambarkan oleh hipotesa Cook, meskipun bukan dalam konteks ‘sequential’ atau pentahapan tetapi dalam konteks ‘clustering’ atau pengelompokan. Ini tentu sebagai konsekwensi logis dari data yang dipakai yaitu data cross section. Dari pengaruh hal metodologis yang sangat mendasar itu, sekaligus sifat KUD yang memang adalah ‘koperasi bentukan pemerintah’ yang terkait dengan program besar Swasembada Beras, maka KUD terkelompok menjadi 6 ‘cluster’: koperasi pra-usaha, koperasi transisi, koperasi perusahaan, koperasi koalisi, koperasi program, dan koperasi yang berkelanjutan.


Kembali pada Hari Koperasi tahun ini, kehadiran Kang Agus di Ikopin membawa harapan. Kerjasama Ikopin dengan koperasi sawit juga membawa harapan akan ada hasil dan manfaat. Dan keberadaan Koperasi Produsen Pangan Fungsional Indonesia (KPPFI) tentu juga membawa harapan atas hasil kegiatan nyatanya kelak. Yang akhirnya nanti ada koperasi di Indonesia yang dapat menjadi koperasi yang berkelanjutan.


Yang pagi ini terasa beda, terasa ada semangat baru, semoga benar-benar dapat mewujud ‘nyata’.  Dan semoga segera.  Selamat Hari Koperasi 2023.-


Kategori : Opini


Editor      : ARS


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama