Yayasan MKB: Seharusnya yang Merasa Ulama Tak Jadi Provokator di Proyek Rempang

JAKARTA, suarapembaharuan.com - Pimpinan Yayasan Multi Kreasi Berdikari (MKB) Rikal Dikri menilai investasi asing di Pulau Rempang sangat membantu pembangunan dan menggerakan ekonomi berkelanjutan, pasalnya Rempang Eco City adalah proyek strategis nasional yang tujuan pemerataan ekonominya sangat jelas. 



"Saya melihat dengan pandangan objektif saya, bahwa Rempang Eco City (REC) ini merupakan proyek yang cukup fantastis, sangat rentan dengan konflik kepentingan. Tapi terlepas dari itu, ini adalah upaya untuk membangun sebuah peradaban modern, pusat perekonomian Indonesia bukan lagi di Pulau Jawa melainkan sudah mulai merata" kata Rikal. 


Rikal juga mengajak agar semua komponen masyarakat, tokoh adat, dan pemerintah ikut berunding meluruskan masalah yang ada saat ini. 


"Ya, pastinya (perundingan) ini harus segera dilakukan, karena ini akan menjadi catatan internasional sebagai preseden buruk bagi Indonesia" tandasnya. 


Kang Rikal, sapaan akrab pimpinan Yayasan MKB itu juga mengatakan bahwa pembangunan di Pulau Rempang adalah bagian dari pembangunan peradaban ekonomi Indonesia yang diproyeksikan akan menduduki peringkat ke 5 PDB di dunia. 



"Negara kita ini kan diproyeksikan akan menduduki peringka ke 5 PDB di dunia, sudah barang pasti investasi asing itu merupakan satu pilar dari empat pilar qiwam al-dunya (tegaknya dunia) yakni syakha-i al-aghniya, kedermawanannnya para pengusaha" tegasnya.


Baginya, tegaknya sebuah peradaban bangsa itu dengan 4 pilar, yaitu adl al-umara (keadilan para pemimpin), ilm al-ulama (kecerdasan para ilmuwan), syakha'i al-aghniya (kedermawanan para saudagar), dan du'a al-fuqara (do'anya rakyat). 



"Empat pilar itu harus kita hayati betul, pemerintah harus bersikap adil, sepertinya ini sudah dilakukan oleh Pak Jokowi dengan ganti-untung terhadap masyarakat Rempang, para ilmuwan, pengamat, ulama, jangan menggunakan ilmunya untuk memprovokasi, justeru harus sebaliknya memberikan narasi-narasi sejuk dan damai, seharusnya yang merasa jadi Ulama tak jadi provokator di proyek ini" pungkasnya.


Kepada para investor, terutama PT. Makmur Elok Graha (MEG), Kang Rikal mengingatkan bahwa mereka yang diberi amanah untuk menggarap sekian luasnya tanah di Pulau Rempang sudah selayaknya memikirkan masa depan rakyat Rempang jangan hanya sesaat saja. 


"Untuk perusahaan yang berkecimpung, terutama PT. MEG harus berpikir kedepannya, masa depan rakyat Rempang. Saya yakin Pak Tomy Winata dengan segala kelebihan dan kekurangannya beliau memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi. Terkadang kita memandang orang itu selalu hitam putih, seakan tidak ada artinya bantuan-bantuan Pak TW terhadap bangsa ini. Kita harus mengingat 4 pilar tadi, bangsa kita membutuhkan syakha'il aghniya seperti Pak TW" tutupnya.


Kategori : News


Editor      : ARS


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama