Aktivis 98 Pendukung Anies Tuding Kubu Prabowo Takut Isu HAM Dalam Debat Capres

JAKARTA, suarapembaharuan.com - Relawan Pendukung Anies Baswedan - Gus Muhaimin dari kalangan aktivis 98 merasa heran atas reaksi berlebihan pendukung Prabowo - Gibran menjelang debat kandidat Calon Presiden - Calon Wakil Presiden dengan tema Hak Asasi Manusia (HAM). Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo Subianto - Gibran bahkan sampai mengumpulkan sejumlah aktivis dan korban penculikan 98 menjelang debat resmi capres-cawapres yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) hari ini, Selasa (12/12/2023).


Foto : Anies dan Pendukungnya Aktivis 98. Ist

Ketua Majelis Nasional Perhimpunan Pergerakan 98 Sahat Simatupang yang juga Dewan Pengarah Relawan Nasional 14.AM pendukung Anies - Gus Muhaimin, mengaku kaget atas reaksi berlebihan tersebut. Sahat mengatakan, debat Capres - Cawapres dengan tema HAM adalah hal wajar di negara demokrasi. Lagi pula, ujar Sahat, tidak ada larangan dalam debat Capres, pelanggaran berat HAM masa lalu dipertanyakan.


" Kalau kemudian debat Capres dan Cawapres mempertanyakan masa lalu Prabowo dalam kaitan penculikan dan penghilangan paksa aktivis pro demokrasi, itu lah sejarah yang pernah ada di Indonesia saat orde baru berkuasa 32 tahun lamanya. Anak muda dan generasi milenial perlu tahu sejarah kelam penculikan dan menghilangkan paksa aktivis yang memperjuangan demokrasi dan keadilan." kata Sahat Simatupang, Selasa (12/12/2023).


Sahat mengatakan, mengapa setiap lima tahun atau saat Prabowo kembali maju dalam Pilpres pasti akan muncul pertanyaan soal penculikan dan penghilangan paksa aktivis disebabkan negara belum menyelesaikan dengan tuntas secara hukum terhadap pelaku pelanggaran HAM." Karena negara tak kunjung menyebut status aktivis yang sampai saat ini hilang, saya rasa wajar hal tersebut dipertanyakan saat debat Capres. Kenapa kok terlalu takut ya kalau pelanggaran HAM dibuka dalam debat." ujar Sahat.


Tuntutan menuntasan pelanggaran HAM, sambung Sahat, juga dilakukan keluarga pencari keadilan lewat aksi unjuk rasa setiap hari Kamis di depan Istana Negara yang dilakukan keluarga korban pelanggaran HAM berat di Indonesia, seperti tragedi penembakan mahasiswa Semanggi I, Semanggi II, Trisakti, Tragedi 13-15 Mei 1998, Talangsari, Tanjung Priok dan Tragedi 1965. Sahat mengatakan, aksi Kamisan tersebut tentu tak terkait Pilpres melainkan tentang keadilan. 


" Cerita kami dan anak - anak muda pendukung Anies - Gus Muhaimin adalah bukan tentang aktivis pro demokrasi yang diculik dan sudah dipulangkan dalam keadaan hidup dan sehat. Cerita kami adalah tentang 13 aktivis yang masih hilang sejak tahun 1996 hingga 1998 dan statusnya tidak dijelaskan negara. Jika hidup, di mana tinggalnya? Jika meninggal, di mana kuburnya dan siapa pelaku dan otak pelaku penculikan dan penghilangan paksa ke - 13 aktivis. Kita selalu membaca sajak karya penyair dan aktivis Wiji Thukul dalam setiap aksi unjuk rasa, tapi sebagian aktivis telah melupakan dia yang hilang akibat penculikan dan penghilangan paksa hingga sekarang tidak ditemukan." ujar Sahat.


Negara yang baik dan pemimpin yang baik, sambung Sahat, harus mengumumkan secara resmi status ke - 13 warga negaranya yang hilang ini. Kini menjelang debat kandidat Pilpres dengan topik HAM, ia dan aktivis 98 pendukung pasangan AMIN berharap Anies dan Gus Muhaimin merasakan betapa sakitnya perasaan orang tua dan keluarga ke - 13 aktivis yang hilang tersebut.


" Itu adalah mimpi terburuk bagi keluarga yang ditinggalkan. Anies - Gus Muhaimin harus berani menyeret pelaku penghilangan paksa ke - 13 aktivis. Sekali lagi, cerita kami dan anak - anak muda pendukung Anies adalah bukan tentang aktivis pro demokrasi yang diculik dan sudah dipulangkan dalam keadaan hidup dan sehat, akan tetapi mereka yang hilang dan tak ditemukan sampai sekarang." pungkas Sahat.


Kategori : News


Editor     : AHS

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama