Pemerintah Harus Berpihak pada Hilirisasi Tembakau

JAKARTA, suarapembaharuan.com - Relawan Pengusaha Muda Nasional (REPNAS) melakukan webinar terkait kebijakan hilirisasi tembakau. Kali ini mengundang pembicara Jan Prince Permata S.P, M.Si selaku pakar di bidang ekonomi pertanian dan Yadie Dayana sebagai pengusaha produk cigar yang memiliki 3 toko di Jakarta. 



Acara ini digelar karena dirasa keberpihakan pemerintah masih dirasa kurang untuk mendongkrak industrialisasi produk turunan tembakau di tanah air. 


Jan Prince memaparkan bahwa ekonomi tembakau ini menyerap 2,3 juta petani tembakau; 1,1, juta petani cengkeh; 330 ribu tenaga kerja di sentra-sentra produksi dan 2 juta orang di industri ritel rokok, cigar, ting we dan semua turunan komoditi penting ini. Total 5,8 juta orang yang terlibat dalam industri ini pada tahun 2019. 


Tiga provinsi terbesar yang memproduksi tembakau adalah Jawa Tengah 48 ribu ton, Jawa Timur 85 ribu ton, dan Nusa Tenggara Barat 46 ribu ton. Dalam data yang sama di tahun 2019 Indonesia memproduksi di kisaran 200 ribu ton per tahun tembakau yang digunakan untuk produk turunannya. 


Dr. Anggawira ketua umum REPNAS mengapresiasi kegiatan rutin mingguan yang diinisiasi oleh advisor REPNAS Muhammad Sirod yang juga merupakan Dewan Pakar TKN Prabowo Gibran ini agar lebih banyak lagi pihak yang melek ilmu dan informasi yang disajikan oleh narasumber. 


"Negeri ini sudah memilih jalur demokrasi yang mana kecerdasan rakyat-nya menjadi prasarat agar pembangunan semakin maju dan berkembang. Untuk itu REPNAS akan berupaya mempelopori dan terdepan mengambil peran mengedukasi dan berkolaborasi dengan para pihak terutama para pelaku di industri terkait agar semakin membesarkan satu sama lain" ia menutup kalimat pembukanya dalam acara tsb. 


Sirod mengatakan bahwa produk tembakau seperti rokok sudah selayaknya tidak dianaktirikan, dengan menjadi sandaran pendapatan negara tetapi kurang pembelaan manakala ada kepenitingan global yang menekan industri ini. "Kretek, itu bagian dari corak dan identitas (indigenous product) negeri kita, Amerika dan pembuat rokok putih tidak bisa membuat kretek karena mereka tidak punya cengkih dan "saus" untuk membuat rokok dengan cita rasa khas ini. Mustinya ini menjadi basis pembelaan kita pada kreasi anak bangsa yang sudah dari generasi ke generasi diturunkan. " Dewan Pakar termuda di jajaran TKN ini menjelaskan. 


Adapun harapan peritel cigar Yadie Dayana lewat Dayana Cigar Store-nya berharap agar lebih banyak lagi dukungan kongkrit yang datang dari pemerintah kita yang sifatnya kolaborasi. Misalnya membudayakan memberikan oleh-oleh atau gift cerutu kepada tamu-tamu negara. Hal ini dilakukan oleh Cuba dan negara-negara eksportir Cigar sejak lama. Ia juga berharap agar lebih banyak lagi anak-anak muda mau turun membangun ekosistem bisnis tembakau agar bisa saling bersinergi dan berkolaborasi demi mewujudkan kemaslahatan bersama.


Kategori : News


Editor      : AHS

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama