Oleh : Imam Nur Suharno
Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat
Tidak lama lagi kita akan memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan. Pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan kaum Muslimin berlomba memenuhi masjid untuk menghidupkan Ramadhan yang sarat dengan keutamaan. Salah satu keutamaan itu adalah malam kemuliaan (lailatul qadar). Kaum Muslimin kini tengah bersiap untuk menjemput malam kemuliaan tersebut. Di sinilah pentingnya seorang muslim memahami tentang lailatul qadar.
Makna Lailatul Qadar
Aam Amiruddin dalam bukunya Tafsir Al-Qur’an Kontemporer, menyebutkan makna al-qadar. Menurut Al-Qurtubi, al-qadar artinya penetapan. Lailatul qadar berarti malam penetapan Allah atas perjalanan makhluk selama setahun, seperti penetapan rezeki, jodoh, dan umur (Q.S. Ad-Dukhan [44]: 3-4).
Al-Qasimy menyebutkan, al-qadar artinya pengaturan. Lailatul qadar berarti malam pengaturan, karena pada malam itu Allah SWT mengatur strategi bagi Nabi-Nya untuk mengajak manusia kepada agama yang benar, demi menyelamatkan mereka dari kesesatan.
Makna lain dari al-qadar adalah kemuliaan. Jadi, lailatul qadar berarti malam kemuliaan. Malam tersebut menjadi lebih mulia karena kemuliaan Al-Qur’an. Ada juga yang memahami kemuliaan tersebut dalam kaitannya dengan ibadah, dalam arti bahwa ibadah pada malam itu mempunyai nilai tambah berupa kemuliaan dan ganjaran tersendiri, berbeda dengan malam-malam yang lain.
Dan, al-qadar juga berarti sempit. Lailatul qadar berarti malam yang sempit, karena pada malam itu diturunkannya Al-Qur’an, begitu banyak Malaikat yang turun ke bumi, sehingga bumi serasa sempit karena penuh sesak oleh rombongan Malaikat.
Yang pasti, lailatul qadar merupakan peristiwa besar, dahsyat dan spektakuler karena diawali dengan kalimat maa adraaka. Kalimat ini biasanya digunakan Al-Qur’an untuk menggambarkan sesuatu yang dahsyat dan spektakuler, misalnya wama adraaka mal qariah (tahukah kamu apakah hari kiamat itu?), wama adraaka maahiyah (tahukah kamu, apakah neraka hawiyah itu?).
Khairun min alfi syahr (lebih baik dari seribu bulan), mengandung dua pengertian. Diartikan secara harfiah, apa adanya, angka 1000, bahwa malam tersebut nilainya lebih baik dari seribu bulan. Dan, menunjukkan sesuatu yang sangat banyak, bahkan tak terhingga. Hal ini diungkapkan dalam ayat yang lain (Q.S. Al-Baqarah [2]: 96).
Jadi menurut pendapat ini, tingkatan keutamaan lailatul qadar tidak bisa dihitung dengan angka. Atas dasar ini, lailatul qadar adalah lebih utama dari sepanjang masa.
Malam Lailatul Qadar
Malam lailatul qadar merupakan rahasia Allah, hanya Dia yang mengetahui. Meski demikian, Nabi SAW memberikan isyarat terkait turunnya malam lailatul qadar itu pada malam-malam ganjil (21, 23, 25, 27, 29) di 10 hari terakhir Ramadhan.
Abu Hurairah RA meriwayatkan, “Rasulullah RA memberitahukan kami tentang lailatul qadar. Beliau berkata, ‘Ia ada pada bulan Ramadhan, di malam sepuluh terakhir, malam ke 21, 23, 25, 27, 29, atau pada malam terakhir bulan Ramadhan. Barang siapa yang melaksanakan qiyam pada malamnya dengan keimanan dan selalu bermuhasabah, Allah SWT akan mengampuni dosanya yang terdahulu dan yang akan datang.”
Dalam hadis lain, Nabi SAW bersabda, “Carilah lailatul qadar pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan.” Lalu, beliau mendekat kan perkiraan itu dengan sabdanya, “Carilah lailatul qadar pada witir (hari ganjil) pada 10 terakhir di bulan Ramadhan.”
Kemudian, beliau lebih mendekatkan gambaran itu, “Barang siapa yang ingin mencarinya maka hendaklah ia mencarinya pada malam ke-27 di bulan Ramadhan.”
Amalan Malam Lailatul Qadar
Aktivitas apa saja yang hendaknya dilakukan untuk menjemput lailatul qadar? Pertama, menghidupkan malamnya dengan imanan dan ihtisaban, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Barang siapa yang shalat pada malam lailatul qadar berdasarkan iman dan ihtisab, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Dengan dilandasi rasa keimanan dan hanya mengharapkan ridha-Nya itulah, seseorang akan merasakan ketenangan, kelapangan dada, dan kelezatan dalam ibadahnya. Subhanallah.
Kedua, banyak doa. Dalam hal ini Nabi SAW mengajarkan doa, “Allaahumma innaka ’afuwwun tuhibbul afwa fa’fu ’annii”. Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Zat Yang Maha Pemaaf, oleh karena itu maafkanlah aku. (H.R. Ahmad, Ibnu Majah, dan Tirmidzi).
Ketiga, banyak tadarus Al-Qur’an. Sebab, malam lailatul qadar adalah malam turunnya Al-Qur’an. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada malam lailatul qadar. Dan tahukah kamu (Muhammad) apa itu lailatul qadar. Lailatul qadar adalah malam yang lebih baik daripada seribu bulan.” (Q.S. Al-Qadar [97]: 1-3).
Keempat, iktikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Aisyah RA meriwayatkan, “Ketika Rasulullah SAW memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau mengemas sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.”
Terkait pengaruh yang dirasakan bagi orang yang mendapatkan lailatul qadar, seorang ahli tafsir berpendapat, jika seseorang mendapatkan lailatul qadar, orang tersebut akan merasakan semakin kuatnya dorongan dalam jiwa untuk melakukan kebajikan pada sisa hidupnya sehingga ia merasakan ketenangan hati, kelapangan dada, dan kedamaian dalam hidup.
Hikmah Rahasia Lailatul Qadar
Ada hikmah di balik rahasia turunnya malam seribu bulan. Pertama, agar kaum Muslimin terus giat dan sungguh-sungguh beribadah, tidak hanya beribadah pada hari-hari tertentu dan meninggalkan ibadah di hari-hari yang lain.
Kedua, memotivasi kaum Muslimin agar tetap semangat beribadah (istikamah) sepanjang malam, bahkan sepanjang bulan Ramadhan.
Ketiga, agar kaum Muslimin lebih memaksimalkan pada 10 hari terakhir Ramadhan dengan tidak membedakan antara malam ganjil dan malam genap.
Dr Yusuf Qardhawi dalam bukunya, Fiqh Shiyam, menjelaskan, jika penentuan Ramadhan berbeda antara satu negeri dan negeri yang lain, maka malam ganjil pada suatu negeri terjadi pada malam genap di negeri yang lain, tindakan yang paling ihtiyath (hati-hati) adalah mencari lailatul qadarnya pada setiap malam 10 hari terakhir Ramadhan (al-asyrul awakhir).
Selain itu, kaum Muslimin hendaknya juga memperhatikan tanda-tanda turunnya malam seribu bulan. Rasulullah SAW bersabda, “Lailatul qadar adalah malam yang cerah, tidak panas dan tidak dingin, matahari pada hari itu bersinar kemerahan pucat.” (H.R. Ibnu Khuzaimah).
Dalam hadis lain, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya aku diperlihatkan lailatul qadar lalu aku dilupakan, ia ada di 10 malam terakhir. Malam itu cerah, tidak panas dan tidak dingin, bagaikan bulan menyingkap bintang-bintang. Tidaklah keluar setannya hingga terbit fajarnya.” (H.R. Ibnu Hibban).
Dan, “Sesunguhnya para malaikat pada malam itu lebih banyak turun ke bumi daripada jumlah pepasiran.” (H.R. Ibnu Khuzaimah). Dan, Rasulullah SAW bersabda, “Tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya cerah tanpa sinar.” (H.R. Muslim).
Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita kaum Muslimin agar dapat meraih lailatul qadar. Amin.
Kategori : Opini
Editor : ARS

Posting Komentar