BEKASI, suarapembaharuan.com – Belasan korban meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka, ini menjadi bukti bahwa semua pihak sedang “kecolongan”.
![]() |
| Wakil Wali Kota Bekasi, Abdul Harris Bobihoe (pakai peci), gelar doa bersama bagi korban kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur pada Kamis (30/4/2026) malam. (dok. Humas Pemkot Bekasi). |
Kecelakaan yang melibatkan Kereta Api Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek dan kereta rel listrik (KRL) di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, pada Senin, 27 April 2026 malam menambah sejarah kelam perkeretaapian Indonesia.
Kecelakaan ini membuka kembali kenangan lama saat terjadi tragedi Bintaro I tahun 1987 silam. Maupun teringat kembali, pada kecelakaan-kecelakaan yang terjadi di perlintasan sebidang rel kereta api.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) selaku operator kereta api, menjadi pihak yang paling bertanggung jawab terhadap insiden maut ini. Begitu pula KAI Commuter, anak perusahaan KAI, selaku operator KRL Jabodetabek.
Analis Kebijakan Transportasi, Azas Tigor Nainggolan, menyebut KAI gagal dalam melindungi para penumpangnya, khususnya di gerbong 10 KRL lintas Bekasi Timur menuju Cikarang. Gerbong paling belakang yang dikhususkan bagi penumpang wanita.
“Terjadinya kecelakaan ini, menunjukkan bahwa manajemen KAI telah gagal dan tidak bekerja dengan baik melindungi keselamatan penumpangnya,” kata Azas Tigor Nainggolan dalam keterangannya yang dikutip pada Jumat (1/5/2026).
Bila kilas balik dalam beberapa dekade lalu, KAI terus berupaya membenahi fasilitas transportasi massal ini. Fenomena penumpang yang duduk di atas gerbong karena saking padatnya KRL, sudah tak terlihat lagi.
Lalu, rangkaian KRL maupun kereta api jarak jauh yang semakin dimodernisasi. Fasilitas seperti penyejuk udara hingga kamera pengawas diperbanyak sebagai upaya memberikan kenyamanan dan keselamatan penumpang.
Renovasi bangunan stasiun tampak semakin modern, jadwal keberangkatan dan kedatangan semakin tepat. Khusus di wilayah Kota Bekasi, stasiun-stasiun besar seperti Stasiun Bekasi dan Bekasi Timur semakin nyaman bagi penggunanya.
Rasanya, kurang elok kalau hanya menuding KAI sebagai satu-satunya pihak yang paling bertanggung jawab. Bagaimana dengan operator taksi daring tenaga listrik yang tertemper KRL di perlintasan sebidang Jalan Ampera, Bekasi Timur? Bukankah juga sebagai pihak yang turut punya andil atas kecelakan maut tersebut.
Kepolisian menyebut peristiwa ini sebagai TKP pertama yang berdampak terhadap rangkaian peristiwa berikutnya tabrakan Kereta Api Argo Bromo dan KRL di Stasiun Bekasi Timur (TKP kedua).
Menurut Dirgakkum Korlantas Polri, Brigjen Pol Faizal, hasil analisis Tim Traffic Accident Analysis (TAA) terdapat dua kejadian kecelakaan kereta api.
TKP pertama, kecelakaan melibatkan taksi listrik nomor polisi B 2864 SBX dengan KRL KA 5181B rute Cikarang–Bekasi Timur di perlintasan sebidang Jalan Ampera, Bekasi Timur.
Lalu, TKP kedua melibatkan KRL antarkota dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi. Kedua TKP tersebut berada di jalur rel yang berbeda.
Operator taksi listrik, dalam hal ini pengemudi taksi, bertanggung jawab atas terjadinya TKP pertama karena kelalaiannya.
Kemudian, jarak antara TKP pertama dan TKP kedua mencapai ratusan meter dan berada di jalur rel yang berbeda, namun bisa saling berkaitan. Kuat dugaan, peristiwa di TKP pertama menyebabkan terjadinya gangguan persinyalan kereta sehingga terjadi kecelakaan di TKP kedua.
Jajaran Polri masih melakukan pendalaman atas tragedi maut tersebut, kini telah naik menjadi penyidikan. Begitu juga dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih melakukan investigasi terkait penyebab pasti kecelakaan.
Di sisi lain, pemerintah juga “kecolongan” karena tidak memberikan rasa aman kepada pengguna transportasi massal. Perlintasan sebidang di Jalan Ampera maupun Bulak Kapal dibiarkan tanpa memiliki palang pintu selama puluhan tahun.
Wacana pembangunan jalur dwiganda (“double-double track”) dari Stasiun Bekasi hingga Stasiun Cikarang, sepertinya harus segera direalisasikan demi menjaga keselamatan penumpang kereta.
Insiden tragis ini menyedot perhatian para pemangku kepentingan maupun masyarakat luas. Mulai dari Presiden Prabowo Subianto bersama Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi; Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono; Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi; Mensesneg Prasetyo Hadi, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan lainnya, menjenguk korban di RSUD dr Chasbullah Abdulmadjid, Kota Bekasi.
Bahkan, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto dan Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin yang terus menerus memantau perkembangan pasca-kejadian, terlihat kurang istirahat. Begitu juga dengan personel Basarnas, Polri, TNI yang berjibaku mengevakuasi korban.
Ungkapan bela sungkawa yang sangat mendalam, spontan mengalir dari masyarakat luas. Usai kejadian, keesokan hari pada Selasa, 28 April 2026 pagi, wilayah Bekasi Timur diguyur hujan. Sepertinya, alam pun ikut merasakan duka cita yang mendalam. (MAN)
Kategori : News
Editor : ARS

Posting Komentar