Pameran Desain Internasional Jadi Jembatan Indonesia–China di Kampus Uiversitas Mercu Buana Jakarta

JAKARTA, suarapembaharuan.com - Universitas Mercu Buana (UMB) memperkuat jejaring internasionalnya melalui penyelenggaraan International Symposium and Exhibition on Branding yang menghadirkan kolaborasi akademik antara Indonesia dan China. Selama dua pekan, 1–14 Juni 2026, kampus UMB di Jakarta menjadi ruang pertemuan gagasan, budaya, dan kreativitas yang melibatkan mahasiswa serta akademisi dari berbagai perguruan tinggi kedua negara.



Di sepanjang area pameran, ratusan karya desain memenuhi dinding kampus. Tidak hanya menampilkan karya mahasiswa UMB, pameran juga menghadirkan hasil karya dari Zhejiang Wanli University dan East China University of Science and Technology. Poster, logo, hingga instalasi visual menjadi representasi bagaimana desain berkembang sebagai bahasa universal yang mampu melampaui batas negara.


Kegiatan yang didukung Dana Seni Nasional Tiongkok itu mengusung tema Desain Merek Inovatif Lintas Budaya dari Delta Sungai Yangtze. Sebanyak 100 karya desain unggulan hasil kreasi desainer muda Tiongkok dipamerkan kepada publik. Karya-karya tersebut menampilkan pengembangan identitas merek, produk kreatif berbasis budaya, hingga strategi komunikasi visual yang menggabungkan nilai tradisi dengan pendekatan kontemporer.


Direktur Sino-German Faculty of Branding Zhejiang Wanli University, Zhang Yiping, menegaskan bahwa kekuatan sebuah merek tidak semata terletak pada identitas visual.


"Branding bukan soal logo, tapi soal cerita," ujarnya saat membuka pameran di Kampus UMB Jakarta, Selasa (2/6/2026). 



Pandangan serupa juga disampaikan Jian Sun, Deputy Secretary of the Party Committee School of Art, Design and Media East China University of Science and Technology. Kehadirannya dalam simposium menjadi bagian dari upaya memperkuat dialog akademik lintas negara melalui desain dan industri kreatif.


Bagi UMB, penyelenggaraan pameran internasional ini memiliki makna yang lebih luas dibanding sekadar menampilkan karya seni visual. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UMB, Dr. Irmulansati Tomohardjo, M.Si, menilai kegiatan tersebut menjadi sarana penting untuk membangun komunikasi antarbudaya sekaligus memperluas wawasan global sivitas akademika.


“Bagi kami, ini lebih dari pameran. Ini cara membangun komunikasi antarbudaya. Indonesia dan China bisa saling belajar lewat desain,” ujar Irmulansati.


Menurutnya, interaksi dengan akademisi dan praktisi internasional memberikan pengalaman yang tidak dapat diperoleh hanya melalui pembelajaran di ruang kelas.



“Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi memahami praktik terbaik dan perkembangan terbaru di tingkat internasional. Ini komitmen kami untuk menciptakan lingkungan pembelajaran berorientasi global,” katanya.


Selain pameran, rangkaian kegiatan juga diisi dengan simposium internasional yang membahas berbagai isu strategis di bidang branding dan industri kreatif. Beberapa tema yang menjadi sorotan antara lain pengembangan merek berbasis tradisi lokal, inovasi pada merek-merek bersejarah (heritage branding), strategi komunikasi pemasaran digital, hingga pemanfaatan limbah industri melalui konsep upcycling untuk menciptakan desain berkelanjutan.


Forum tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi dari Indonesia dan China untuk mendiskusikan bagaimana desain dapat berkontribusi terhadap penguatan identitas budaya sekaligus menjawab tantangan globalisasi.


Di balik penyelenggaraan pameran ini, UMB juga tengah menyiapkan langkah yang lebih besar dalam memperluas kerja sama internasional. Salah satu fokus utama adalah memperbanyak kesempatan mahasiswa mengikuti program studi di luar negeri, khususnya di China.


Untuk bidang seni, komunikasi, dan desain, UMB menjalin kemitraan dengan Zhejiang Wanli University di Ningbo serta East China University of Science and Technology di Shanghai. Sementara untuk bidang teknik, kampus tersebut bekerja sama dengan Beijing Institute of Technology.


“Kalau teknik, kami ke Beijing Institute of Technology. Tapi untuk desain, fokus kami dua kota ini,” jelas Irmulansati.


Program internasional tersebut menjadi bagian dari skema International Undergraduate Program (IUP) yang sedang dikembangkan UMB. Dalam program ini, mahasiswa diwajibkan memiliki pengalaman belajar di luar negeri sebagai bagian dari proses pendidikan mereka.


Mahasiswa yang ingin mengikuti program tersebut harus memenuhi sejumlah persyaratan, termasuk kemampuan bahasa Inggris dengan skor TOEFL minimal 500 dan kesiapan pembiayaan hidup selama menjalani studi di luar negeri.


“Mereka bisa pilih ke Malaysia, Korea, atau negara lain. Yang penting, mereka mulai menabung dari sekarang,” kata Irmulansati.


Ia menjelaskan bahwa mahasiswa biasanya diberangkatkan pada semester enam karena dinilai telah memiliki bekal akademik yang cukup untuk mendukung penelitian atau penyusunan tugas akhir selama berada di kampus mitra.


“Nantinya ijazah tetap dari UMB. Bedanya, di sertifikat akan tertulis pernah studi satu tahun di luar negeri,” lanjutnya.


Tak hanya China, UMB juga terus membuka peluang kerja sama dengan berbagai negara lain seperti Rusia, Korea Selatan, Taiwan, Arab Saudi, hingga India. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi kampus untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan daya saing lulusan di tingkat internasional.


Melalui pameran dan simposium ini, desain tidak hanya tampil sebagai karya visual, tetapi juga menjadi medium yang mempertemukan berbagai perspektif budaya. Dari Jakarta, Ningbo, hingga Shanghai, kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa kreativitas dapat menjadi bahasa bersama yang menghubungkan kampus, mahasiswa, dan masyarakat lintas negara.


Di tengah derasnya arus globalisasi, dinding-dinding galeri di Kampus UMB seolah menyampaikan pesan sederhana: kerja sama internasional tidak selalu dimulai dari ruang diplomasi formal, tetapi bisa tumbuh dari sebuah karya desain yang mampu bercerita kepada dunia.


Kategori : News


Editor      : AHS

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama