JAKARTA, suarapembaharuan.com – Kebijakan publik yang melibatkan pembangunan infrastruktur fisik secara masif, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih (KMP), dinilai membawa risiko tinggi terhadap postur Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Pendekatan konvensional yang bersifat top-down dan waterfall—yaitu membangun sistem secara penuh sebelum diuji secara riil—berpotensi memicu inefisiensi besar dan distorsi pada sistem ekonomi nasional.
![]() |
| Ilustrasi |
Merespons tantangan tersebut, Wakil Ketua Umum Pimpinan Nasional Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), Denny Charter, menyarankan agar pemerintah mengadopsi metodologi Lean Startup yang digagas oleh Eric Ries.
Menurutnya, prinsip utama dari metodologi ini, yaitu Build-Measure-Learn (Bangun-Ukur-Pelajari), sangat relevan untuk mengedepankan efisiensi modal dan validasi empiris sebelum anggaran negara digelontorkan dalam skala makro.
"Membangun infrastruktur masif sebelum membuktikan efisiensi operasional akan menyebabkan kerugian negara berskala makro. Pemerintah harus beralih dari pola pikir konvensional ke pendekatan yang lebih lincah dan terukur demi mengamankan uang rakyat," ujar Denny Charter dalam keterangan tertulisnya di Jakarta.
Denny memaparkan lima tahapan strategis berbasis Lean Startup yang dapat diimplementasikan oleh pemerintah guna memitigasi risiko kegagalan program:
1. IDEATION & PROBLEM-SOLUTION FIT
Asumsi dasar kebijakan harus diuji secara ketat terlebih dahulu. Pemerintah berasumsi bahwa membangun dapur sentral (Dapur MBG) dan entitas baru (KMP) adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah gizi dan ekonomi kerakyatan. Namun, pemerintah harus membuktikan apakah solusi ini benar-benar menyelesaikan masalah dasar. Apakah kendala utama di daerah adalah 'ketiadaan dapur' atau justru 'daya beli masyarakat dan rantai pasok logistik'?
Sebelum mengalokasikan triliunan rupiah dari APBN, Denny mendesak pemerintah untuk mengumpulkan data empiris dari berbagai ekosistem. Validasi lapangan sangat diperlukan guna melihat apakah pembangunan infrastruktur baru lebih efektif dibandingkan memberdayakan ekosistem yang sudah ada, seperti kantin sekolah, UMKM lokal, atau koperasi yang sudah berjalan secara organik.
2. MINIMUM VIABLE PRODUCT (MVP)
Menurut Denny, membangun Dapur MBG berskala penuh secara serentak di seluruh Indonesia adalah kebalikan dari prinsip efisiensi. Langkah terburu-buru tersebut mengunci APBN pada Capital Expenditure (CapEx) dan Operational Expenditure (OpEx) yang masif tanpa bukti keberhasilan operasi di lapangan.
Pemerintah disarankan menciptakan MVP, yakni versi program dengan fitur atau infrastruktur paling minimal namun cukup untuk menguji hipotesis kebijakan. Alih-alih membangun ribuan dapur permanen, pemerintah dapat merancang proyek percontohan di 5-10 kabupaten dengan demografi berbeda. Pemanfaatan fasilitas dapur komunitas yang disewa sementara atau kemitraan dengan katering lokal dinilai jauh lebih aman demi mengukur respons, hambatan operasional, dan kelayakan logistik dengan biaya yang sangat minim.
3. PRODUCT-MARKET FIT (PMF)
Tahap selanjutnya adalah memastikan program mencapai Product-Market Fit. Dalam konteks kebijakan publik, PMF tercapai ketika program secara efektif diterima oleh masyarakat dan mampu memberikan dampak positif yang ditargetkan tanpa membebani sistem secara destruktif.
Sebuah kebijakan dikatakan mencapai PMF jika indikator keberhasilannya terpenuhi secara organik—misalnya, anak-anak menghabiskan makanannya (minim food waste), metrik gizi meningkat, dan hasil produksi petani atau UMKM lokal benar-benar terserap oleh koperasi. Jika MVP menunjukkan model Dapur Sentral menghasilkan banyak sisa makanan karena kendala distribusi waktu, atau jika KMP justru mematikan pedagang pasar tradisional, maka PMF belum tercapai. Pemerintah wajib melakukan pivot (perubahan strategi) sebelum melanjutkan program ke skala yang lebih luas.
4. GROWTH & GO-TO-MARKET (GTM)
Jika PMF sudah tervalidasi pada tahap percontohan, pemerintah baru diizinkan merancang strategi peluncuran (Go-To-Market) yang terukur. Pertumbuhan tidak boleh dilakukan secara acak atau dipaksakan melalui regulasi sapu jagat, melainkan diformulasikan berdasarkan playbook (buku panduan) operasional yang telah terbukti berhasil di tahap PMF.
Ekspansi program harus dilakukan secara bertahap. Pada fase ini, sistem logistik, rantai pasok bahan baku dari petani ke Koperasi Merah Putih, serta standardisasi kebersihan Dapur MBG mulai diformalkan. Model pendanaan juga dapat didiversifikasi, misalnya dengan melibatkan program CSR atau kemitraan swasta, sehingga tidak seluruhnya membebani APBN.
5. SCALE UP (ESKALASI SKALA PENUH)
Denny mengingatkan bahwa eskalasi prematur adalah penyebab utama tumbangnya berbagai mega-proyek pemerintah. Scale up hanya boleh dieksekusi ketika mesin pertumbuhan kebijakan sudah terbukti efisien dan berkelanjutan secara finansial.
Setelah model MBG dan KMP tervalidasi secara operasional, berbiaya rendah, dan terbukti tidak mendisrupsi pasar lokal, barulah program ini diluncurkan secara nasional. Dengan model yang matang, replikasi di seluruh Indonesia akan berjalan jauh lebih cepat, murah, dan minim penolakan karena SOP sudah teruji serta risiko inefisiensi telah dimitigasi sejak tahap awal.
Kategori : News
Editor : ARS

Posting Komentar