APBN Semester I Solid dan Fiskal Indonesia Tetap Terjaga

JAKARTA, suarapembaharuan.com - Fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,61% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I-2026 serta kinerja APBN semester I-2026 menunjukkan kebijakan fiskal pemerintah berjalan efektif dalam menjaga stabilitas dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.


Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF Dr. M. Rizal Taufiqurahman menyampaikan paparan pada Diskusi “Membedah Resiliensi dan Kredibilitas Ekonomi - Fiskal” yang digelar di Jakarta, Kamis (9/7/2026).

Hal tersebut mengemuka dalam Diskusi Forum: Membedah Resiliensi dan Kredibilitas Ekonomi-Fiskal di Jakarta, Kamis (9/7/2026), yang menghadirkan Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M. Rizal Taufiqurrahman dan Deputi Presiden Direktur PT Samuel Sekuritas Suria Dharma.


Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufiqurrahman mengatakan capaian pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 menjadi bukti fundamental ekonomi Indonesia tetap berada di jalur yang sehat meski dunia masih dibayangi perlambatan ekonomi dan ketidakpastian geopolitik.


Menurutnya, paket stimulus pemerintah senilai Rp26,84 triliun yang disalurkan selama April-Juni 2026 menjadi langkah tepat dalam menjaga konsumsi masyarakat dan menopang aktivitas ekonomi.


"Mudah-mudahan pada kuartal II pertumbuhan ekonomi masih bisa mencapai 5,4%, didukung berbagai stimulus fiskal yang telah diberikan pemerintah," ujar Rizal.


Stimulus tersebut meliputi bantuan pangan, insentif transportasi, program magang, hingga subsidi bagi sektor manufaktur untuk menjaga daya beli dan aktivitas ekonomi nasional.


Diskusi dengan tema “Membedah Resiliensi dan Kredibilitas Ekonomi - Fiskal” yang menghadirkan pembicara Deputy President Director Samuel Sekuritas Suria Dharma  dan Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF Dr. M. Rizal Taufiqurahman di Jakarta, Kamis (9/7/2026).

Meski demikian, Rizal mengingatkan pemerintah tetap perlu menjaga momentum melalui penguatan konsumsi rumah tangga yang masih menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB).


Ia menilai inflasi Juni 2026 sebesar 3,34% (yoy) masih perlu diimbangi dengan peningkatan permintaan masyarakat agar pertumbuhan ekonomi semakin berkualitas.


APBN Semester I Tunjukkan Kinerja Positif


Sementara itu, Deputi Presiden Direktur PT Samuel Sekuritas Suria Dharma menilai kondisi fiskal Indonesia tetap kuat, tercermin dari realisasi pendapatan negara semester I-2026 yang mencapai Rp1.459,4 triliun atau 46,3% dari target APBN, meningkat 21,4% (yoy).


"Capaian tersebut menjadi sinyal positif bagi pasar karena menunjukkan kemampuan pemerintah menjaga kesehatan fiskal di tengah dinamika ekonomi global. Ini perkembangan yang cukup positif bagi pasar," ujarnya.


Kinerja tersebut terutama ditopang oleh penerimaan perpajakan sebesar Rp1.187,8 triliun atau 44,1% dari target APBN, seiring membaiknya implementasi sistem Coretax dalam beberapa bulan terakhir.



Selain itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) juga mencapai Rp271 triliun atau 59% dari target, tumbuh 21,6% (yoy). Sementara penerimaan PPN dan PPnBM hingga Mei 2026 tercatat sebesar Rp315,7 triliun, meningkat 41,3%, yang menunjukkan aktivitas konsumsi masyarakat masih terjaga.


Pasar Modal Masih Hadapi Tantangan


Di sisi lain, Suria mengakui tantangan masih membayangi pasar modal, terutama akibat pembekuan (freeze) evaluasi saham Indonesia oleh MSCI yang memicu arus keluar dana asing dari pasar saham mencapai sekitar Rp75 triliun hingga pertengahan tahun.


Namun, ia menegaskan secara keseluruhan aliran modal asing ke Indonesia masih mencatatkan kinerja positif. Dana asing yang masuk melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai sekitar Rp170 triliun, sedangkan investasi asing di Surat Berharga Negara (SBN) telah kembali mencatat surplus sekitar Rp7 triliun.


"Jadi, secara overall sebenarnya masih positif. Isunya memang ada di pasar modal," katanya.


Menurut Suria, pemerintah dan regulator juga telah merespons dengan berbagai langkah perbaikan, antara lain meningkatkan transparansi kepemilikan saham hingga pengungkapan ultimate beneficial ownership (UBO) untuk memperkuat tata kelola pasar modal.


Meski MSCI masih mempertahankan status pembekuan review saham Indonesia, Suria menilai status Indonesia sebagai emerging market tetap dipertahankan, sehingga peluang pemulihan arus modal asing masih terbuka ke depan.


Rizal dan Suria sepakat fundamental ekonomi yang kuat, disiplin fiskal, serta reformasi yang terus dijalankan menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5% hingga akhir 2026. Dengan konsistensi kebijakan tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang memperkuat daya saing sekaligus mempertahankan posisinya sebagai salah satu negara dengan kinerja ekonomi terbaik di kawasan maupun kelompok G20.


Kategori : News


Editor      : AHS

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama