Langkah Syukur Sang Penyintas Stroke Lumpuh : Dari Tugu Jogja Menuju Sendang Sono

Bagi sebagian orang, melangkah sejauh puluhan kilometer adalah sebuah tantangan fisik yang berat. Namun bagi Alfa Pratomo (48), setiap ayunan langkah kaki adalah sebuah mukjizat yang nyata.


Caption : Alfa penyintas stroke lumpuh saat  sampai di check point 3  di daerah Kalibawang dalam kegiatan ujud syukur berjalan kaki dari tugu Yogyakarta ke Sendang Sono.

Kembali ke tahun 2020, Alfa harus bertaruh nyawa di ruang ICU selama 21 hari akibat serangan stroke hemoragik (pecah pembuluh darah di otak)yang membuatnya lumpuh. Kehilangan kemampuan otorik bergerak membuatnya sadar betapa berharganya hal-hal kecil yang sering luput dari rasa syukur. Ketika Tuhan menganugerahinya kesembuhan total—sebuah mukjizat yang memulihkannya dari kelumpuhan—Alfa berjanji akan merayakan anugerah bisa berjalan kaki ini dengan cara yang mendalam sekaligus menyehatkan.


Fajar di Tugu Yogyakarta: Memulai Langkah Iman


Minggu, 19 Juli 2026, pukul 05:00 WIB. Udara pagi Yogyakarta masih terasa dingin saat Alfa berdiri tegak di kawasan Tugu Pal Putih Yogyakarta. Hari itu adalah momen yang sangat spesial. Selain menjadi hari pelaksanaan ujud syukurnya, hari itu juga bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-1 Komunitas Mlampah Ziarah.


Bersama sekitar 250 anggota komunitas yang memiliki semangat serupa, Alfa memulai perjalanan mlampah ziarah (ziarah berjalan kaki) menuju  Sendang Sono di Kulon Progo. Bagi Alfa, jalan kaki bukan sekadar olahraga yang menyehatkan tubuh, melainkan sebuah bentuk doa yang bergerak.


Rute awal membawa rombongan menyusuri tepian Selokan Mataram. Di sini, Alfa berjalan dengan ritme yang stabil, menikmati pemandangan sawah dan sapaan hangat warga desa yang hangat. Di sepanjang rute ini, Alfa mulai membaur dengan peziarah lain.


Kehangatan komunitas begitu terasa saat jalur mulai berubah ekstrem. Selepas jalan datar, tantangan sesungguhnya dimulai ketika mereka memasuki kawasan Perbukitan Menoreh. Jalanan aspal berganti menjadi rute menanjak yang curam dan menguras stamina."ASetelah check point ke-2, rasanya mau naik ojek tetapi itu rasanya bukan tujuan saya, tekad saya sampai di atas dengan berjalan kaki,"ujar Alfa yang dihubungi tim redaksi senin malam lewat telepon,


Di sinilah indahnya kebersamaan itu hadir. Tiga anggota komunitas—Dwi, Didit, dan Lupi—setia berjalan di sisi Alfa. Mereka bertiga menjadi penyemangat, menemani Alfa melewati setiap tanjakan terjal, berbagi air minum, dan sesekali melemparkan candaan untuk mengusir lelah. Kehadiran mereka bertiga menjadi pengingat bagi Alfa bahwa dalam perjalanan hidup yang menanjak sekalipun, Tuhan selalu mengirimkan penopang."Ini seperti saat saya sakit, begitu banyak pertolongan Tuhan yang diberika lewat orang-orang baik disekitar saya,"ujar alfa dengan nafas bersemangat.


Setelah menempuh perjalanan panjang yang menguji fisik dan meneguhkan iman, jarum jam menunjukkan pukul 12:30 WIB. Pucuk-pucuk pohon dan gemercik air suci Gua Maria Sendang Sono akhirnya menyambut kedatangan Alfa dan rombongan.


Rasa lelah yang mendera kaki Alfa seolah luruh seketika saat ia bersimpuh di depan Bunda Maria. Tujuh setengah jam berjalan kaki dari jantung Kota Jogja menembus perbukitan adalah bukti nyata dari sebuah nazar dan ujud syukur.


"Bisa berjalan kaki adalah anugerah terindah yang pernah saya terima setelah sempat kehilangan segalanya di ruang ICU," batin Alfa dalam doanya.


Melalui mlampah ziarah ini, Alfa Pratomo tidak hanya merayakan setahun berdirinya komunitas yang baru 2 minggu bergabung, tetapi juga merayakan kehidupan kedua yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya. Sebuah ekspresi syukur yang hidup, yang diukir lewat setiap jejak langkah kaki yang pernah lumpuh, kini berjalan kokoh membawa kesaksian iman.


"perjalanan ini bukan hanya perjalanan fisik, tetapisebuah uji mental akan tekad yang kuat untuk bersyukur,"ujar Alfa yang kini akif dalam kegiatan social mandiri menjadi mentor keluarga pasien stroke. (*)


Kategori : News


Editor      : ARS

1 Komentar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama