TASIKMALAYA, suarapembaharuan.com - Upaya meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mendukung pengendalian tekanan darah dilakukan melalui Program H2C (Hand-Hydro Care) yang dilaksanakan pada kader PKK Kelurahan Tanjung, kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berlangsung selama Juni hingga Agustus 2026 dengan dukungan hibah dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) dengan skema Pengabdian Masyarakat Pemula (PMP).
Dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat maka Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Bhakti Husada Indonesia (UBHI) membuat Program H2C yang dikembangkan sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat yang menempatkan kader PKK sebagai mitra sekaligus penggerak dalam upaya promotif dan preventif kesehatan. Melalui program ini, kader diberikan pengetahuan dan keterampilan mengenai pendekatan non-farmakologis yang dapat mendukung upaya pengendalian tekanan darah di masyarakat.
Hipertensi merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang membutuhkan perhatian berkelanjutan. Pengendalian tekanan darah tidak hanya membutuhkan pengobatan, tetapi juga didukung oleh perubahan perilaku, aktivitas fisik yang sesuai, pemantauan kesehatan, serta keterlibatan masyarakat.
Melihat pentingnya peran masyarakat tersebut, Tim Pengabdian Masyarakat yaitu Ns. Dandi Oka Subantara, S.Kep.,M.Kep (Dosen S1 Keperawatan UBHI), Ns. Yeli Yulianti, S.Kep.,M.Kep (Dosen S1 Keperawatan UBTH), dan Yuli Desi Amalia, S.KM.,M.KM (Dosen S1 Kesehatan Masyarakat, UBHI) membuat Program H2C yang dirancang dengan pendekatan edukasi, pelatihan, praktik, pendampingan, dan evaluasi. Kader PKK diberikan pemahaman mengenai hipertensi, faktor risiko, pentingnya pemantauan tekanan darah, serta penerapan intervensi non-farmakologis melalui Hand (Pijat Tangan) dan Hydro (Rendam Tangan). Dalam pelaksanaan program tersebut akan melibatkan Mahasiswa UBHI semester IV yaitu Andhyka Firmansyah, Daffa Fazrin, Irma Tri Lestari, M.Radhin Dzulhilmi dan Siti Hana Fatimah.
Kader dibekali Pengetahuan dan Keterampilan dalam program ini. Dalam pelaksanaan kegiatan, kader tidak hanya menerima materi secara teoritis. Tim pengabdian memberikan demonstrasi dan praktik langsung agar kader mampu memahami tahapan pelaksanaan H2C dan dapat menerapkannya secara tepat.
Kader dilatih menggunakan perangkat pendukung, memahami prosedur pelaksanaan, membantu pemantauan tekanan darah, serta memberikan edukasi kepada masyarakat. Pendekatan praktik tersebut dilakukan agar transfer pengetahuan tidak berhenti pada peningkatan pemahaman, tetapi berkembang menjadi keterampilan yang dapat diterapkan.
Program ini juga menghasilkan Modul H2C (Hand-Hydro Care) yang sudah terdaftar di HKI (Hak Kekayaan Intelektual) sebagai produk utama yang diberikan kepada mitra. Modul berfungsi sebagai panduan bagi kader dalam memahami materi hipertensi, pengendalian tekanan darah, pelaksanaan Hand (Pijat Tangan), Hydro (Rendam Tangan, pemantauan tekanan darah, serta peran kader dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.
Hasil Evaluasi Menunjukkan Peningkatan Lebih dari 90 Persen dan para Kader PKK dapat melakukan Hand (Pijat Tangan) dan Hydro (Rendam Tangan) secara mandiri. Salah satu indikator keberhasilan Program H2C terlihat dari hasil evaluasi pengetahuan kader. Evaluasi dilakukan sebelum dan setelah pelaksanaan edukasi dan pelatihan melalui pre-test dan post-test.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa tingkat capaian pengetahuan kader setelah mengikuti program meningkat hingga lebih dari 90 persen serta dapat melakukan Hand (Pijat Tangan) dan Hydro (Rendam Tangan) secara mandiri. Hasil tersebut menunjukkan adanya perubahan positif setelah kader mendapatkan edukasi, pelatihan, praktik, dan pendampingan.
Peningkatan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa materi dan metode yang diberikan dapat diterima dengan baik oleh kader. Selain peningkatan pengetahuan, kader juga mendapatkan pengalaman praktik sehingga diharapkan mampu menerapkan keterampilan yang telah diperoleh dalam kegiatan kesehatan di lingkungan masyarakat.
“Program ini tidak hanya memberikan pengetahuan kepada kader, tetapi juga mendorong kader agar mampu menjadi penggerak kesehatan di masyarakat. Dengan adanya keterampilan dan modul yang diberikan, kader diharapkan dapat melanjutkan kegiatan secara mandiri,” ujar Ns. Dandi Oka Subantara, S.Kep.,M.Kep (Ketua Tim Pengabdian), dari Universitas Bhakti Husada Indonesia.
“Dari Peserta Menjadi Penggerak Kesehatan” Salah satu aspek penting dari Program H2C adalah perubahan peran kader. Kader tidak hanya diposisikan sebagai penerima informasi, tetapi didorong untuk menjadi fasilitator kegiatan kesehatan masyarakat. Setelah mengikuti rangkaian kegiatan, kader diharapkan mampu memberikan edukasi mengenai pengendalian tekanan darah, membantu pelaksanaan kegiatan H2C, melakukan pemantauan tekanan darah, serta mencatat hasil kegiatan.
Pemberdayaan ini diharapkan dapat memperkuat peran kader PKK yang selama ini telah dekat dengan masyarakat. Kedekatan tersebut menjadi modal penting untuk menyampaikan informasi kesehatan dan mendorong masyarakat menerapkan perilaku hidup sehat. Program H2C juga menekankan bahwa intervensi non-farmakologis merupakan upaya pendukung dalam pengendalian tekanan darah dan bukan pengganti pengobatan medis. Masyarakat yang memiliki hipertensi tetap perlu melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan.
Mendorong keberlanjutan program diharapkan pelaksanaan Program H2C selama Juni hingga Agustus 2026 menjadi tahap awal untuk membangun kapasitas dan kemandirian mitra. Setelah kegiatan pengabdian selesai, kader diharapkan dapat memanfaatkan modul dan keterampilan yang telah diperoleh untuk melanjutkan kegiatan secara bertahap. Keberlanjutan program akan diarahkan melalui pemanfaatan modul H2C, penerapan kegiatan oleh kader, monitoring, serta koordinasi dengan pihak terkait di tingkat kelurahan dan layanan kesehatan.
Selain pemberdayaan mitra, hasil kegiatan juga didiseminasikan melalui artikel populer/media massa dan karya audio visual sebagai bagian dari upaya memperluas informasi mengenai inovasi H2C kepada masyarakat.
Program ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam menghasilkan pengetahuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk membawa hasil ilmu pengetahuan dan inovasi agar dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, kader PKK, pemerintah kelurahan, tenaga kesehatan, dan masyarakat, Program H2C diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai salah satu pendekatan pemberdayaan masyarakat dalam mendukung peningkatan kesehatan dan pengendalian tekanan darah.
Kategori : News
Editor : ARS




Inovasi baru dalam pengendalian Tekanan darah,,, kereenn,, semoga bermanfaat buat yang lainnya… 👍
BalasHapusMasyallah keren banget pak👏
BalasHapusKeterlibatan kader PKK menjadi kekuatan tersendiri karena kader merupakan bagian yang dekat dengan masyarakat dan memiliki peran strategis dalam menyampaikan edukasi kesehatan. Dengan adanya H2C, kader tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga dapat berperan sebagai penggerak dan pendamping masyarakat dalam menerapkan perilaku hidup sehat.
BalasHapusSemoga inovasi ini dapat terus dikembangkan, diterapkan secara berkelanjutan, dan menjadi salah satu upaya promotif-preventif dalam pengendalian hipertensi di masyarakat. Yang paling penting, intervensi seperti H2C tetap menjadi pendukung, sementara pengukuran tekanan darah secara rutin, kepatuhan terhadap pengobatan bagi pasien hipertensi, pola makan sehat, aktivitas fisik, dan konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap menjadi bagian utama pengendalian tekanan darah. KEREEEEEN
Posting Komentar