Dukung Kapolri, Boni Hargens: Prioritaskan Keamanan Ruang Digital

JAKARTA, suarapembaharuan.com - Dalam kuliah umum yang disampaikan pada acara Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Medan pada 28 September 2026, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan sejumlah isu penting dalam lingkungan strategis global dan domestik. Pertama, Kapolri menyoroti ketegangan internasional seperti perang Rusia-Ukraina, konflik geopolitik global, serta perang dagang antara Amerika Serikat dan China. 


Boni Hargens. Ist

Konflik-konflik ini memicu dampak berantai global, mulai dari gangguan jalur logistik dunia hingga fluktuasi harga minyak mentah. Lalu kedua, masalah tekanan ekonomi. Kapolri menilai ketidakpastian situasi global turut menimbulkan tekanan ekonomi yang berdampak signifikan pada stabilitas domestik di berbagai negara, termasuk Indonesia.


Masalah ketiga yang dijelaskan Kapolri adalah perubahan iklim (climate change). Dampak nyata dari perubahan iklim global menjadi tantangan serius yang memerlukan perhatian khusus dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. “Itu sebabnya semua pihak harus memberi perhatian pada karhutla,” jelas Kapolri. Lebih lanjut, Kapolri menjelaskan bahwa perkembangan teknologi dan AI yang berjalan sangat pesat, dapat memicu disrupsi besar-besaran. Selain memberikan peluang, lanjut Kapolri, fenomena ini menghadirkan tantangan berupa modus kejahatan baru yang bergerak "autopilot" karena para pelaku kejahatan terus belajar memanfaatkan celah teknologi.


Ancaman keamanan di ruang digital juga menjadi sorotan Kapolri. Tingginya penggunaan media sosial di Indonesia belum diimbangi dengan literasi digital yang memadai. Akibatnya, lanjut Kapolri, masyarakat menjadi sangat rentan terhadap ancaman siber, seperti judi online, online scamming, pencurian data (phishing), penyebaran hoaks, disinformasi, provokasi, serta teknologi manipulatif seperti deepfake. Lalu, Kapolri juga mengungkap adanya ancaman laten di lingkungan masyarakat dan kampus seperti peredaran narkoba, tindak kekerasan, perundungan (bullying), intoleransi, tindak anarkis, serta ancaman penyelundupan manusia/perdagangan orang.


Analis politik senior Boni Hargens merespons kuliah umum Kapolri secara apresiatif. Ia menekankan bahwa pemetaan lingkungan strategis yang disampaikan Kapolri Listyo Sigit Prabowo bukan sekadar materi kuliah biasa, melainkan analisis intelektual-teknokratis yang seharusnya dijadikan bahan acuan utama bagi pemerintah dan institusi keamanan dalam merumuskan kebijakan yang tepat, adaptif, dan responsif terhadap dinamika tantangan dan peluang yang terus berkembang. 


“Apa yang disampaikan Kapolri merefleksikan realitas kekinian yang akan secara signifikan memengaruhi perjalanan bangsa dan negara kita ke depan sehingga gagasan-gagasan tersebut mesti dijadikan referensi bagi policymaking oleh pemerintah dan institusi yang relevan, termasuk Polri sendiri,” kata Direktur Eksekutif Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) tersebut. 


Boni menegaskan bahwa keamanan ruang digital mesti menjadi bagian dari daftar prioritas institusi keamanan dan komunitas intelijen. “Dengan penetrasi internet 81,72% pada 2026, mayoritas masyarakat Indonesia sudah menjadi netizen, sehingga ancaman di ruang digital berpotensi besar berubah menjadi ancaman nyata. Masyarakatlah yang paling rentan menjadi korban ketika itu terjadi,” ujar Boni dalam rilis medianya (29/9/2026). 


Boni menyoroti maraknya ujaran kebencian, fitnah, _pishing_ , beragam kejahatan digital yang secara langsung menyentuh kehidupan masyarakat, termasuk aplikasi media sosial yang memberi ruang bagi kulturisasi kekerasan alias pembudayaan kekerasan. "Kebiasaan 'perang koin' secara barbar di TikTok alias 'PK Barbar' dalam istilah jalanannya merupakan bentuk dukungan tidak langsung dari platform media sosial terhadap apa yang saya sebut _the culturalization of violence__ alias kulturisasi kekerasan karena di sana para pengguna memakai bahasa dan cara yang barbar," ujar Boni.


Kategori : News


Editor      : AHS

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama