Oleh KH. Imam Nur Suharno, SPd, SPdI, MPdI
Kepada Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat, serta Alumni Pesantren Raudlatul Ulum Pati Jawa Tengah
Hal ini menunjukkan keunggulan pesantren secara khusus yang tidak dapat dilihat sebelah mata. Oleh karenanya, wajib bagi bangsa ini untuk menjaga dan memperkokoh peran pesantren dalam pembangunan bangsa. Pesantren sangat kental jiwa gotong royong. Ia berdiri, tumbuh dan berkembang dari oleh dan untuk masyarakat serta berkontribusi untuk bangsa.
Salah satu keunggulan pendidikan pondok pesantren adalah sistem boarding school atau sistem asrama. Dengan sistem boarding school, santri sepanjang hari dan malam berada dalam lingkungan belajar. Santri bergaul bersama siswa (santri) yang lain dan para ustaz. Para guru/ustaz dapat memantau dan mengarahkan setiap perilaku santri sepanjang waktu. Di samping itu, dengan bergaul sepanjang waktu, memungkinkan bagi santri untuk mencontoh perilaku dan cara hidup ustaz. Sebab, mencontoh merupakan salah satu cara belajar yang paling efektif daripada sekadar belajar secara kognitif. (Wakhudin, Pikiran Rakyat, 2007).
Model pendidikan pondok pesantren memiliki tiga aspek ranah pendidikan, yakni kognitif, afektif, dan psikomotorik akan sangat mudah diimplementasikan. Lain halnya dengan di lembaga pendidikan pada umumnya. Pendidikan ala pondok pesantren ini, tujuan pendidikan nasional dapat pula diejawantahkan secara apik.
Keberhasilan pola pendidikan pondok pesantren (terlepas dari kekurangannya di berbagai sisi) menjadikan para pengelola pendidikan tertarik untuk mengadopsinya. Sejak pertengahan tahun 1990-an, ada fenomena menarik dalam dunia pendidikan di Indonesia. Sistem pendidikan model pondok pesantren ramai-ramai diadopsi untuk mengembangkan sekolah plus yang menawarkan banyak kelebihan bagi peserta didik.
Di sekolah yang kemudian disebut boarding school ini, peserta didik mengikuti kegiatan pendidikan reguler dari pagi hingga siang di sekolah, kemudian dilanjutkan dengan pendidikan agama atau pendidikan nilai di sore dan malam hari. Selama 24 jam, peserta didik berada di bawah pendidikan dan pengawasan para ustaz/guru dan pembimbing.
Di lingkungan sekolah, mereka dipacu untuk menguasai ilmu dan teknologi secara intensif. Sementara di asrama, mereka ditempa untuk menerapkan ajaran agama yang dipelajari di sekolah, juga untuk mengekspresikan rasa seni dan keterampilan hidup di hari-hari libur. Hari-hari mereka adalah hari-hari berinteraksi dengan teman sebaya dan para ustaz/guru.
Dari segi sosial, pondok pesantren mengisolasi peserta didik dari lingkungan sosial yang heterogin dalam beberapa waktu. Dari segi semangat religiusitas, menjanjikan pendidikan yang seimbang antara kebutuhan jasmani dan rohani, intelektual, emosional, dan spiritual.
Dalam kehidupan asrama, santri mendapatkan pembelajaran dan pengalaman hidup yang sangat baik. Ustaz/guru dan pembimbing hidup berdampingan dengan santri di dalam pesantren untuk sebanyak-banyaknya memberikan pengaruh yang baik agar budaya hidup dan kehidupan kampus normatif seiring dengan kematangan santri secara fisik ataupun mental.
Dengan pola pendidikan pondok pesantren ini memungkinkan untuk terbentuknya karakter santri. Karankter terbentuk karena keteladanan yang nyata dari para pendidik dan pembiasaan menjadi salah satu pola pendidikan pesantren.
Untuk itu, memilih sekolah di pondok pesantren, bukanlah keputusan yang mudah bagi orang tua ataupun anak. Sedikitnya ada empat hal yang perlu dipersiapkan selain biaya pendidikan.
Pertama, adaptasi lingkungan. Sebab, yang biasanya anak bergaul hanya dengan teman sebaya dalam satu wilayah tertentu, kemudian harus bergaul dengan teman secara lebih luas dan kompleks. Sebab, komunitas pesantren berasal dari berbagai daerah dan berbagai karakter.
Kedua, perlu kesiapan mental dari anak maupun orang tua. Sebab, secara fisik mereka akan berpisah dalam waktu tertentu. Karenanya, sebelum masuk pesantren orang tua mengajak anak untuk melihat dari dekat tentang kehidupan di pesantren.
Ketiga, kesabaran. Dengan kesabaran yang matang, anak akan mampu melewati berbagai permasalahan yang dihadapinya. Sehingga, anak akan tumbuh menjadi manusia yang tangguh di kemudian hari.
Keempat, yang tidak kalah pentingnya adalah iringan doa dari orang tua, terutama doa di sepertiga malam. Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Ada tiga macam doa yang tidak diragukan lagi, pasti diterima, yaitu doa orang yang teraniaya, doa seorang musafir, dan doa orang tua kepada anaknya.” (HR. Tirmidzi).
Dengan empat hal di atas, diharapkan anak menjadi betah dan siap untuk belajar di pondok pesantren. Betah merupakan kunci keberhasilan dalam menuntut ilmu di pondok pesantren. Sebab, anak yang cerdas tetapi tidak betah tidak akan mampu konsentrasi dalam belajar. Sebaliknya, anak yang biasa-biasa saja dari sisi kecerdasan bila betah akan mampu berprestasi.
Betapa bahagianya mondok (sekolah) di pesantren. Kebahagiaan mondok hanya akan dapat dirasakan bagi orang-orang yang mondok, karenanya orang tua yang pernah mondok akan memondokkan anaknya di pondok pesantren. Wallahu a’lam.
Kategori : Opini
Editor : ARS

Setuju dengan artikel ini
BalasHapusSetuju dengan artikel ini
BalasHapusPosting Komentar