Memotivasi Anak Agar Senang Belajar Matematika

Oleh : Suhairani Lusri Lubis


Matematika tidak pernah menjadi pelajaran yang disukai selama ini. Setiap orang memiliki kelemahan soal penghitungan tersebut. Baik itu pecahan, geometri, aljabar, atau matematika dasar, setiap orang memiliki kelemahan.



Permasalahan ini menjadi salah satu masalah terbesar untuk anak-anak di sekolah, termasuk bagi kalangan orang dewasa. Pelajaran ini membuat rambut rontok. Tanpa terkecuali tidak memandang umur dan kelas berapa pun, dari SMP hingga SMA.


Banyak siswa memiliki hambatan mental atau kebencian penuh untuk pelajaran tersebut. Di kelas, matematika biasanya diberikan dengan rumus yang berbeda, dan bahkan tanpa berpikir memasukkan nilai untuk sampai pada jawaban. 


Ini bukan hal yang menyenangkan bagi sebagian pelajar, dan dapat memicu perasaan yang sangat negatif terhadap pelajaran ini, termasuk bagi anak - anak. Namun, Suhairani Lusri Lubis, mahasiswi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP USU, memiliki strategi agar pelajaran matematika menjadi lebih menyenangkan anak.


Suhairani Lusri Lubis menjabarkan solusi ini berdasarkan kegiatan praktikum I yang dilakukan di Panti Asuhan Cinta Kasih di Jalan Sei Brantas No. 70, Babura Sunggal, Kec. Medan Sunggal, Kota Medan. Ia memulai praktik yang dibimbing oleh dosen mata kuliah yaitu Bapak Fajar  Utama Ritonga., S.Sos, M. Kesos dan supervisor sekolah adalah Ibu Hairani Siregar, S.Sos, MSP. 


Kegiatan PKL I ini berlangsung mulai dari pertengahan Maret sampai dengan akhir Mei 2022. Panti ini menampug sekitar 37 anak yang berumur 3 – 19 tahun dari yang belum bersekolah sampai ke tingkatan SMA dan 5 orang pengasuh yaitu Ibu Sesilia, Bapak Terima Hadirat, Ibu Linda Margareta, Bapak Amos Sahbertus, dan Ibu Yunita Sari.


Rani menceritakan bahwa pada bulan Maret melakukan agenda awal yaitu perkenalan diri antara Rani dengan pengurus panti dan anak- anak di panti, bermain game sambil melatih kepercayaan diri anak – anak di panti, menuliskan nama dan harapan  mereka masing – masing.


Rani melakukan ini guna untuk mengetahui siapa saja yang belum pandai menulis, dan mereka juga melakukan kegiatan mewarnai. 


Pada bulan April, agenda yang di lakukan Rani dan kedua temannya yaitu Elviana Safitri dan Sadiah muayyadah, membuat kegiata.


Bentuk kegiatan ini berupa membagi kelompok untuk bermian game, sharring session, menempelkan poster, dan menjelaskan materi tentang isi dari masing – masing poster. 


Rani dan teman – temannya beberapa kali melakukan permainan secara perorangan maupun  berkelompok bersama anak – anak panti untuk menguji dan menumbuhkan rasa kekompakan pada diri mereka.


Dan, untuk orang – orang yang kalah akan di berikan hukuman berupa unjuk diri dan melakakan sesuatu sesuai batas kemampuannya di depan teman – temannya. 


Hal ini dilakukan guna menimbulkan rasa percaya diri dan keberanian anak – anak panti untuk berani berbicara dan menunjukkan bakatnya di depan orang ramai.


Di bulan Mei, agenda yang di lakukan Rani dan kedua temannya adalah story telling, bermain games, belajar bersama untuk membantu tugas sekolah mereka, belajar bahasa inggris dan belajar matematika.


Pada pertengahan Mei, Rani memiliki klien yang bernama Iffarman yang berusia 12 tahun. Iffarman yang biasa dipanggil dengan Ifan telah duduk di kelas 4 SD tapi ia masih kesulitan dalam memahami matematika dalam bentuk hitungan apalagi soal hitungan yang berbentuk soal cerita.


Rani merancang program untuk membantu klien lebih memahami matematika dengan bermodalkan laptop, HP, jaringan internet dan soal – soal latihan. Rani mengenalkan beberapa aplikasi yang berguna untuk bermain sambil belakar matematika kepada klien.


Metode yang dilakukan Rani dalam membantu kliennya adalah dengan menggunakan metode casework. Metode casework yang digunakan Rani adalah metode case work oleh Zastrow, divantaranya adalah: 


1. Intake dan Contract.

Tahapam ini berupa perjanjian mengenai kontrak yang akan dilakukan.


2. Assessmen.

Dalam tahapan ibj memberikan pengenalan lebih dalam terhadap klien, mendengarkan keluh kesah klien, dan masalah individu yang dihadapi klien. Tools yang digunakan adalah ecomap.


3. Planning

Perencanaan yang dibuat Rani adalah memberikan dukungan dan dorongan kepada klien untuk memecahkan masalahnya, dan menjelaskan apa keinginan mendalam dari klien. 


Dalam hal ini, ternyata Ifarman ingin lebih lagi dalam memahami dan mengerjakan matematika. Berbanding dengan sebelumnya, Ifarman mengungkapkan, bahwa pelajaran matematika adalah hal yang menyenangkan.


4. Intervensi

Pada tahap ini, Rani menjelaskan tentang materi matematika melalui video yang ada di  Youtube dan aplikasi – aplikasi guna untuk belajar matematika dan aplikasi yang di gunakan adalah Math online dan Sumas.


5. Evaluasi

Tahap ini dilakukan Rani untuk menilai apa-apa saja yang telah dilakukan Rani dan kliennya, apa kelebihan dan kekurangannya agar bisa terus diperbaiki kedepannya.


Dari 5 tahap yang sudah dilakukan tadi, akhirnya Iffarman bisa lebih mengerti matematika dan lebih memhami soal dalam bentuk cerita dan sudah mulai bias mengimajinasikan soal cerita tersebut. 


Rani berharap kliennya tsb bisa lebih memahami dan mengerti lagi dalam mengerjakan soal matematika dan ia juga berharap kliennya tsb semakin teliti dalam mengerjakan soal – soal matematika. 


Di akhir praktikum, sekitar akhir Mei kegiatan yang dilakukan Rani diapresiasi oleh ibu pengasuh, Ibu Sesilia. Ia sangat berterimakasih atas kehadiran Rani dan teman – teman praktikan lainnya, bahwa ia merasa sangat terbantu dalam mengisi kegiatan anak-anak di panti. 


“Terimakasih buat kakak-kakak semua uda mengerti gimana adik – adik di panti, membuat mereka terhibur dan terimakasih untuk semua yang di berikan kepada anak – anak semua”, ungkap Ibu Sesilia.


Penulis merupakan mahasiswi Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Sumatera Utara (USU).



Lebih baru Lebih lama