JAKARTA, suarapembaharuan.com – Pasar modal Indonesia tengah diramaikan rumor besar yang menggemparkan: The Vanguard Group, manajer aset raksasa asal Amerika Serikat dengan dana kelolaan USD 10,2 triliun (setara 50 kali APBN Indonesia 2025), disebut-sebut sedang membidik PT DADA Tbk ($DADA).
Namun, seperti pola klasiknya, Vanguard tidak pernah masuk secara langsung. Mereka piawai menggunakan “proxy” atau mitra strategis regional. Kali ini, dua raksasa properti publik asal Jepang – Kajima Corporation dan Mitsubishi Estate – diduga kuat menjadi pintu masuk yang membuka jalan bagi modal global masuk ke Indonesia.
🎯 Radar Vanguard Menyasar Indonesia
Vanguard dikenal bukan sekadar investor biasa. Mereka memiliki reputasi global dalam membaca arah kebijakan ekonomi sebuah negara. Dan kali ini, semua sinyal mengarah ke Indonesia.
Mengapa? Karena pemerintahan baru segera menggulirkan kebijakan radikal:
Dana Rp200 triliun yang selama ini “parkir” di Bank Indonesia akan digelontorkan ke sektor riil melalui bank-bank pemerintah.
Likuiditas jumbo ini diperkirakan langsung mengalir deras ke sektor properti, mempercepat pembangunan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.
“Bagi investor global, Indonesia kini sedang membuka babak baru. Saham properti, khususnya DADA, adalah kendaraan yang tepat untuk menunggangi gelombang besar ini,” ujar seorang analis senior pasar modal.
📌 Valuasi Fantastis: Rp230.000 per Saham
Rumor di pasar menyebut, target Vanguard bukan main-main: valuasi USD 100 miliar.
Dengan jumlah saham DADA yang beredar 7,4 miliar lembar, kalkulasinya sederhana:
USD 100 miliar ÷ 7,4 miliar lembar ≈ USD 13,5 per lembar.
Jika dikonversi ke rupiah, hasilnya ≈ Rp230.000 per saham.
Angka ini memang terdengar luar biasa. Namun, sejarah mencatat, Vanguard berulang kali mampu membawa perusahaan kecil menuju valuasi raksasa.
⚡ Lari Marathon, Bukan Sprint
Perjalanan menuju Rp230.000 tentu tidak akan mulus. Investor perlu mental baja menghadapi:
Potensi kenaikan ekstrem hingga bursa melakukan suspend sementara.
Status FCA/PPK yang menguji kesabaran ritel.
Koreksi tajam yang bisa memicu aksi jual panik.
Padahal kuncinya sederhana: sabar dan konsisten. DADA bukan saham sprint, melainkan marathon. Mereka yang kuat menahan turbulensi akan jadi pemenang besar di garis akhir.
🏗️ Grand Scenario yang Sedang Berjalan
Jejak langkah di DADA semakin jelas menunjukkan adanya skenario besar:
Pengendali melepas saham secara bertahap demi memperbesar free float.
Pembagian dividen sebagai sinyal disiplin finansial dan daya tarik bagi institusi global.
RUPS strategis mengarah pada pelepasan DADA dari status FCA.
Semua langkah ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari strategi terstruktur untuk membuka jalan bagi masuknya investor asing kelas dunia.
🔑 Kesimpulan: Pegang Erat, Jangan Goyah
Dengan kombinasi kebijakan pemerintah baru, aliran dana global lewat proxy Jepang, dan skenario akumulasi ala Vanguard, saham DADA berpotensi menjadi salah satu transformasi terbesar di sejarah pasar modal Indonesia.
Bagi pemegang saham DADA, pesan pentingnya hanya satu:
👉 Jangan mudah tergoda menjual hanya karena koreksi kecil. Jangan panik saat suspend. Kesabaran hari ini bisa berubah menjadi kemenangan besar di masa depan.
Kategori : News
Editor : AHS

Apa ini
BalasHapusBerita lawas buat investor trauma
BalasHapusTidak mungkin saham diem bertahun tiba2 naik derajat jika TDK ada sesuatu di baliknya
BalasHapusCukup dustamu
BalasHapusPom pom terus pake berita hoax
BalasHapusNulis berita pakai chatgpt, hadehh. Tolong jangan suka pompom buat nipu ya
BalasHapusberita kontol media babi
BalasHapusyang nulis berita ini semoga anaknya mati
BalasHapusBerita ini naik mulu
HapusAmiin
BalasHapusUntuk melakukan exit total dari saham Karya Permata Inovasi Indonesia $DADA dengan sisa kepemilikan 1.624.281.900 lembar pada harga saat ini Rp 50, strategi penjualan perlu dilakukan secara bertahap agar tidak menekan harga. Simulasi realistis menunjukkan bahwa jika harga saham bisa didorong ke Rp 75, menjual sekitar 30 juta lembar per minggu akan membutuhkan sekitar 54 minggu atau kurang lebih satu tahun untuk melikuidasi seluruh kepemilikan, dengan total nilai kotor sekitar Rp 121,8 miliar.
BalasHapusJika harga saham bisa naik ke Rp 100, distribusi menjadi lebih cepat. Menjual 40 juta lembar per minggu akan memakan waktu sekitar 41 minggu atau sekitar 9–10 bulan, dengan nilai kotor mencapai Rp 162,4 miliar. Level ini dianggap paling realistis untuk melakukan exit tanpa menciptakan tekanan jual berlebih di pasar.
Pada harga Rp 125, exit bisa lebih agresif. Menjual 50 juta lembar per minggu akan selesai dalam ±32 minggu, menghasilkan total dana kotor sekitar Rp 203 miliar. Strategi ini efektif jika ada momentum kuat, seperti aksi korporasi atau kabar positif yang meningkatkan minat beli. Untuk harga lebih tinggi, misalnya Rp 150, exit bisa selesai dalam ±27 minggu dengan volume penjualan 60 juta lembar per minggu, tetapi membutuhkan trigger besar agar pasar cukup likuid untuk menyerap saham dalam jumlah besar.
Strategi exit yang ideal sebaiknya dibagi dalam beberapa fase. Fase pertama fokus pada akumulasi sentimen di harga Rp 50–75, dengan penjualan kecil untuk menguji permintaan. Fase kedua adalah distribusi strategis di harga Rp 75–100, menjual 30–40 juta lembar per minggu. Fase ketiga dilakukan di harga Rp 100–150, dengan exit agresif hingga selesai dalam ±8 bulan. Terakhir, fase keempat adalah penyeimbangan untuk menjaga persepsi kepemilikan jangka pendek sebelum melikuidasi seluruh saham.
Interpretasi Teknis
1. Harga Rp 100 adalah ambang paling realistis untuk mulai exit besar-besaran tanpa menciptakan tekanan jual destruktif. Di bawah itu, volume beli biasanya terlalu tipis untuk menyerap ratusan juta lembar.
2. Harga Rp 125–150 memberi ruang distribusi lebih cepat, tetapi butuh “cerita penggerak” (misalnya kabar ekspansi, aksi korporasi, atau rumor positif).
3. Penjualan 40–50 juta lembar per minggu termasuk agresif — kamu perlu memecah distribusi di beberapa broker agar tidak terdeteksi sebagai pola tunggal (ini yang biasa disebut stealth distribution di pasar).
Strategi Exit Bertahap
Fase 1 – Akumulasi Sentimen (Rp 50–75)
Dorong likuiditas dan narasi positif di pasar.
Hindari penjualan besar, cukup alirkan volume kecil untuk uji permintaan.
Fase 2 – Distribusi Strategis (Rp 75–100)
Mulai jual 30–40 juta lembar/minggu.
Fokus di harga psikologis Rp 100 sebagai level distribusi utama.
Fase 3 – Pelepasan Penuh (Rp 100–150)
Lakukan exit agresif hingga selesai dalam ±8 bulan.
Gunakan broker berbeda agar penjualan tidak memicu panic selling.
Fase 4 – Penyeimbangan / Window Dressing (setelah exit)
Sisakan volume kecil untuk menjaga persepsi kepemilikan jangka pendek, lalu lepas sepenuhnya setelah harga stabil.
OPO Iki
BalasHapusTai anjing
BalasHapusSaham DADA udah ga ada yg beli.. knapa terus2an di pom2 akan naik
BalasHapusINIMAH PENGEN ADA YANG MAU KELUAR DARI DADA HATI HATI WKWKWKW
BalasHapuswwkkwkwk pake AI banget ini mah tulisannya
BalasHapusPosting Komentar