Oleh KH. Imam Nur Suharno, SPd, SPdI, MPdI
Ketua Forum Ayah Kabupaten Kuningan
Kaum Muslimin kembali merayakan Hari Raya Idul Adha atau yang sering disebut dengan Idul Kurban. Hari Raya Idul Kurban erat kaitannya dengan sejarah perjalanan keluarga Nabi Ibrahim AS yang sarat dengan nilai keteladanan. Selain sebagai suami teladan, Nabi Ibrahim AS juga sebagai sosok ayah teladan.
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia.” (QS Al-Mumtahanah [60]: 4).
Nabi Ibrahim AS merupakan kepala keluarga. Ia membina keluarga sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Sebagai suami, ia berlaku adil kepada kedua istrinya. Kedua istrinya, Sarah dan Hajar taat kepadanya. Ketaatan seorang istri ini tidak terlepas dari ketaatan seorang suami kepada Allah SWT.
Hal ini mengajarkan kepada kaum laki-laki (suami), jika ingin ditaati oleh istri, suami harus menjaga ketaatan kepada Allah SWT, bertanggung jawab, berkepribadian mulia, cinta keluarga, dan berperilaku sesuai tuntunan agama.
Sulit rasanya jika menginginkan istri taat dan salehah, sementara suami berakhlak tidak terpuji. Sia-sia suami menginginkan istrinya berubah ke arah yang lebih baik, sementara suami tidak mau merubah kebiasaan buruknya.
Sebagai ayah, Nabi Ibrahim AS tampil sebagai pendidik yang penuh dengan kasih sayang, demokratis dan menjadi teladan. Simak dialog Nabi Ibrahim AS sebagai ayah ketika menjalankan perintah Allah untuk menyembelih putranya.
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu.” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS Ash-Shaffat [37]: 102).
Dalam dialog, terlihat Nabi Ibrahim sangat menyayangi anaknya dan bersifat demokratis. Sifat kasih sayang ini tergambar dari pilihan kata yang digunakan dalam memanggil anak. Ya bunayya (wahai anakku). Penggunaan kata “ya bunayya” merupakan panggilan kasih sayang. Lalu, Ibrahim meminta pendapat kepada sang anak ketika diperintah untuk menyembelihnya.
Tampak jiwa demokratis, Nabi Ibrahim AS sebelumnya telah menanamkan nilai-nilai pendidikan kepada Ismail. Hal itu tidak terlepas dari doa, usaha, dan keteladanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS.
Al-Qur’an mengabadikan doa Nabi Ibrahim AS, Rabbi habli minashshalihin (wahai Tuhanku, anugerahkan kepadaku anak yang saleh) (QS Ash-Shaffat [37]: 100).
Hal ini mengajarkan kepada kita para ayah agar selalu berdoa untuk memperoleh anak yang saleh. Anak merupakan amanah, dan anak bisa menjadi fitnah sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Anfal [8] ayat 28.
“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”
Berdoa dan berlindung kepada-Nya agar diberi kekuatan dan kemampuan mendidik anak, sehingga anak tidak menjadi fitnah. Doa yang disertai usaha. Usaha berupa upaya yang ditempuh Nabi Ibrahim dalam memilih jodoh. Meski Hajar berkulit hitam, berstatus budak, tetapi imannya teguh, akhlak mulia, taat beragama, dan patuh kepada suami.
Semoga Allah membimbing kita para ayah agar mampu menjadi teladan yang baik bagi keluarga dan anak-anak sehingga terwujud keluarga bahagia di dunia dan akhirat. Amin.
Kategori : Opini
Editor : AHS

Posting Komentar