Harganas: Keluarga Kuat, Generasi Hebat, Negara Maju Pesat

Oleh Imam Nur Suharno

Penulis Buku Keluarga Samara Sehidup Sesurga, Pembina Forum Ayah Kuningan, serta Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat.



Setiap tanggal 29 Juni, bangsa Indonesia senantiasa memperingati Hari Keluarga Nasional (HARGANAS), sebuah momentum untuk mengevaluasi dan mempersiapkan anak-anak sebagai generasi penerus yang memiliki peran penting dalam masa depan bangsa. Peringatan ini juga merupakan bentuk nyata dari kepedulian terhadap pemenuhan hak serta perlindungan anak yang harus menjadi tanggung jawab bersama, salah satunya terkait pendidikan anak.


Pendidikan anak merupakan tanggung jawab utama bagi kedua orang tua, dan sekolah sebagai rumah kedua serta mitra dalam pendidikan anak. Apabila keluarga dan sekolah mampu bersinergi dalam pendidikan maka akan dapat melahirkan anak-anak yang hebat. 


Strong families tend to produce great kids (tempat terbaik untuk menemukan anak-anak hebat adalah dalam keluarga yang kuat), demikian pernyataan John DeFrain dan Sylvia M Asay dalam Strong Families Around the World: An Introduction to Family Strengths Perspective; Marriage & Family Review. 


Agar keluarga dapat melahirkan anak-anak (generasi) masa depan yang hebat –cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual—maka orang tua hendaknya memahami banyak hal terkait pendidikan dan pola asuh anak.


Tipologi Anak


Orang tua harus memahami tentang tipologi anak, supaya pendidikan yang diberikan dapat mengantarkan kepada qurrata a’yun (QS al-Furqaan [25]: 74).


Pertama, anak sebagai perhiasan dunia (QS al-Kahfi [18]: 46). Maka, jangan sampai anak dijadikan alasan bagi orang tua untuk tidak bersegara menjalankan ketaatan kepada Allah dan bersegera meninggalkan larangan-Nya. 


Kedua, anak dapat melalaikan (QS al-Munafiqun [63]: 9). Maka, waspadalah jangan sampai anak melalaikan orang tua, membuat malas, dan melupakan dari ibadah kepada Allah. 


Ketiga, anak sebagai fitnah (cobaan) (QS at-Taghaabun [64]: 15). Maka, jangan sampai anak menjadi hambatan bagi orang tua dalam melaksanakan ketaatan kepada-Nya. 


Keempat, anak sebagai musuh (QS at-Taghaabun [64]: 14). Maka, sebelum terlambat segeralah melakukan tarbiyah (pendidikan) terhadap anak agar tidak menjadi penghalang dan musuh bagi orang tua.

 

Pengasuhan Anak


Selain pendidikan, orang tua hendaknya memahami prinsip-prinsip dalam pengasuhan anak. Pengasuhan adalah proses mendidik karakter, kontrol diri dan membentuk tingkah laku. Pengasuhan yang baik melahirkan anak yang berkepribadian baik, menjadi orang dewasa yang cerdas, percaya diri, bertanggung jawab, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan. 


Prinsip dalam pengasuhan anak itu adalah, pertama, anak-anakmu bukan pilihanmu, mereka menjadi anak-anakmu bukan karena keinginan mereka tetapi takdir Tuhan.


Kedua, karena apa yang takdirkan untukmu, itu adalah amanah yang harus ditunaikan. Ketiga, orang tualah yang memiliki anak akan dimintai pertanggungjawaban. Keempat, Tuhan tidak membebani melampaui kemampuanmu, maka bersungguh-sungguhlah.


Kelima, kemewajiban orang tua membentuk anak-anak mahir dalam segala hal, dan mengantarkan anak-anak menjadi saleh. Keenam, jangan berharap banyak pada anak-anak, jika orang tua tidak mengasuhnya sebagaimana mestinya. Ketujuh, jangan berharap kebaikan dari anak-anak jika tidak mampu menjadikan anak-anak yang saleh.


Kedelapan, asuhlah anak sesuai fitrahnya. Kesembilan, jangan menginginkan anak-anak sebagai insan yang saleh sebelum orang tua berusaha menjadi saleh terlebih dahulu (proses). Kesepuluh, jangan menuntut hak dari anak-anak sebelum memberikan hak kepada anak.


Kesebelas, jangan menuntut hak dari anak sampai orang tua memenuhi hak-hak Tuhan. Keduabelas, berbuat baik kepada anak sebelum mereka dilahirkan. Ketigabelas, jangan berpikir tentang hasil akhir dalam usaha mengasuh dan mendidik, tetapi bersungguh-sungguhlah dalam mendidik anak sebaik mungkin.


Bekal Mendidik Anak


Bekal orang tua dalam mendidik anak, selain bekal ilmu adalah, pertama, bekal doa. Doa adalah kekuatan tersembunyi yang tidak dapat ditangkap oleh akal manusia dan dapat terjadi secara tiba-tiba, apalagi doa itu berasal dari orang tua, akan lebih mudah dikabulkan. Tiga doa yang tidak akan tertolak, salah satunya doa orang tua (HR Baihaqi).


Kedua, bekal kasih sayang. Kasih sayang dapat meluluhkan hati anak. Sebab, jika diperlakukan sedikit kasar, anak akan menjauh dari orang tua. Jika sudah menjauh, harapan untuk mendidik anak hanya akan tinggal harapan. (QS Ali Imran [3]: 159).


Ketiga, bekal kesabaran. Kesabaran bekal yang tiada tandingannya sebagaimana sabda Nabi SAW, hendaknya engkau komitmen terhadap kesabaran, karena sesungguhnya kesabaran itu tiada tandingannya (HR an-Nasa’i). 


Seni Mendidik Anak


Anak terlahir dalam keadaan fitrah, bagaikan lembaran kertas putih yang masih bersih (HR Bukhari). Islam memerintahkan kepada orang tua untuk mendidik anak dan memikulkan tanggungjawab itu di pundaknya (QS at-Tahrim [66]: 6).


Tim Modul BPKK DPW PKS Jawa Barat dalam Modul Ketahanan Keluarga Relawan Rumah Keluarga Indonesia memberikan panduan seni dalam mendidik anak. 


Ajarkan anak dengan cinta agar terbiasa mencintai; ajarkan berdoa agar terbiasa bersandar pada Allah; ajarkan berterima kasih agar terbiasa menghargai. 


Ajarkan kata maaf agar terbiasa memperbaiki; ajarkan berbagi agar terbiasa menyayangi; ajarkan menolong agar terbiasa jauhi sombong; ajarkan kemandirian agar terbiasa bermental kuat; ajarkan keberanian agar terbiasa membela kebenaran; ajarkan berkata lembut agar terbiasa santun.


Ajarkan kejujuran agar terbiasa siap menanggung resiko; ajarkan kesederhanaan agar terbiasa apa adanya; ajarkan memotivasi diri agar terbiasa tak menyerah; ajarkan jawab pertanyaan agar terbiasa mencari solusi; ajarkan cinta baca dan ilmu agar terbiasa dekat dengan kebaikan; dan ajarkan dan berikanlah cinta agar ia akan terbiasa menyintai.


Prof Sartini dalam buku Pembodohan Siswa Tersistematis yang ditulis oleh M Joko Susilo, menambahkan seni mendidik anak. Yaitu, jika anak banyak dicela, ia akan terbiasa menyalahkan; jika anak banyak dimusuhi, ia akan terbiasa menentang; jika anak dihantui ketakutan, ia akan terbiasa merasa cemas. 


Jika anak banyak dikasihani, ia akan terbiasa meratapi nasib; jika anak sering diolok-olok, ia akan terbiasa menjadi pemalu; jika anak dikitari rasa iri, ia akan terbiasa merasa bersalah; jika anak serba dimengerti, ia akan terbiasa menjadi penyabar; jika anak banyak diberi dorongan, ia akan terbiasa percaya diri. 


Jika anak banyak dipuji, ia akan terbiasa menghargai; jika anak diterima dilingkungannya, ia akan terbiasa menyayang; jika anak sering disalahkan, ia akan terbiasa senang menjadi dirinya sendiri; jika anak mendapat pengakuan dari kiri kanan, ia akan terbiasa menetapkan arah langkahnya. 


Jika anak diperlakukan dengan jujur, ia akan terbiasa melihat kebenaran; jika anak ditimang tanpa berat sebelah, ia akan terbiasa melihat keadilan; jika anak mengenyam rasa aman, ia akan terbiasa mengandalkan diri dan mempercayai orang sekitar; dan jika anak dikerumuni keramahan, ia akan terbiasa berpendirian ‘sungguh indah dunia ini’.


Dengan demikian, jika setiap keluarga dalam sebuah bangsa tumbuh menjadi kuat dan mampu melahirkan generasi (anak) hebat maka negara pun akan menjadi maju pesat sehingga disegani oleh negara-negara di dunia. Semoga.


Kategori : Opini


Editor      : ARS

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama