Kisah Penyintas Stroke Lumpuh Peserta Jakarta International Marathon 2026 , Menyebarkan Optimisme Pemulihan Stroke Dengan Berlari

JAKARTA, suarapembaharuan.com — Penyintas stroke lumpuh tidak bisa berlari. Itu stigma yang kemudian dipatahkan.antara ribuan pelari yang memadati aspal Jakarta International Marathon (JAKIM) 2026 Sabtu (13 Juni( pagi , ada satu sosok Penyintas stroke lumpuh yang setiap langkahnya membawa optimisme semangat pemulihan stroke lumpuh lebih dari sekadar hitungan kilometer.


Alfa Adito Pratomo, penyintas stroke lumpuh bersama istrinya yang setia menunggu di Finish line ajang Jakarta internasional Marathon 2026. Ist

Pria pelari penyintas  stroke lumpuh itu adalah Alfa Pratomo. Bagi banyak orang, garis start event marathon  adalah awal dari perlombaan. Namun bagi Alfa Pratomk, berdiri di garis tersebut adalah sebuah kemenangan atas vonis medis yang hampir merenggut separuh hidupnya.


Enam tahun lalu, tepatnya pada tahun 2020, dunia  Alfa Pratomo runtuh seketika. Serangan stroke pendarahan di otak (hemorrhagic stroke) menghantamnya tanpa ampun.


Dalam sekejap, pria yang sebelumnya  aktif berlari ini harus kehilangan kendali atas tubuhnya. Sisi luar hidupnya menyusut drastis karena lumpuh dan harus memakai kursi roda. Ia mengalami kelumpuhan tubuh bagian kiri.


Pria yang kini berusia 47 tahun dulu saat terkena serangan stroke hemoragik menyisakan hari-hari yang dihabiskan di atas kursi roda dan sebelumnya dirawat di ruang perawatan ICU selama 21 hari 


Lumpuh bagi sebagian orang, kondisi itu mungkin menjadi titik akhir dari sebuah kebebasan fisik. Namun, di dalam raga yang sempat tak berdaya itu, ada api yang menolak padam.


"Saya Harus Pulih dari kelumpuhan  stroke dan Berlari Lagi", ucap pria yang pertama kali menyelesaikan ajang Half Marathon di Singapore Marathon pas tahun 2014.



Duduk di kursi roda tidak membuat pikiran Alfa terpenjara. Di tengah keterbatasan fisik dan proses rehabilitasi yang menguras air mata serta keringat, sebuah tekad baja tertanam kuat di benaknya.


"Saya harus pulih. Saya harus bisa berlari lagi. Saya harus kembali berada di start line dan merebut kembali finish line saya,"  tekadnya yang membara kala itu.


Target itu terdengar mustahil bagi seorang penyintas stroke parah. Namun, Alfa menolak tunduk pada kemustahilan. Setiap sesi fisioterapi yang menyakitkan ia lahap dengan bayangan satu hal: derap langkah kakinya sendiri di atas aspal. Langkah demi langkah kecil dikumpulkan, dari menggerakkan jari, berdiri, melangkah tertatih, hingga akhirnya—keajaiban itu datang—ia bisa berlari kembali.


Dari Half Marathon hingga Menjadi Simbol Optimisme


Proses comeback Alfa ke dunia lari bukan sekadar hobi atau pembuktian diri. Setelah berhasil pulih dan kembali mengikuti beberapa ajang lari besar seperti  Borobudur marathon tahun 2023 dan 2024, misi Alfa penyintas stroke lumpuh bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Ia membawa misi kemanusiaan: menyebarkan optimisme kesembuhan stroke melalui olahraga lari.


Tahun lalu, pada Jakarta International Marathon 2025, Alfa melakukan pembuktian luar biasa dengan menuntaskan kategori Half Marathon (21 kilometer). Sebuah pencapaian yang bahkan bagi orang sehat pun membutuhkan latihan fisik berbulan-bulan. Melalui medali yang dikalungkan di lehernya, Alfa ingin mengirimkan pesan kuat kepada jutaan penyintas stroke di luar sana bahwa stroke bukan akhir dari segalanya. Ada kehidupan, ada harapan, dan bahkan ada garis finish yang menanti jika kita menolak menyerah.


Sabtu 13 Juni di JAKIM 2026: Alfa Penyintas stroke lumpuh Merayakan Konsistensi dan Harapan


 Alfa Pratomo kembali menepati janjinya pada diri sendiri. Ia kembali turun di ajang Jakarta International Marathon 2026, kali ini menguji konsistensi dan merayakan kesehatannya di kategori 10K.


Bagi Alfa, jarak tidak lagi menjadi ukuran utama. Baik 21K maupun 10K, esensinya tetap sama: merayakan setiap detak jantung, setiap kayuhan kaki, dan setiap napas yang berembus bebas di bawah langit Jakarta.


Saat Alfa melintasi finish line di Jakarta internasional Marathon 2026, gemuruh tepuk tangan bukan hanya untuk kecepatan waktunya, melainkan untuk sebuah kemenangan mutlak atas keputusasaan. Dari seorang pria yang dahulu tak berdaya di kursi roda, kini ia menjelma menjadi simbol harapan yang bergerak, menginspirasi setiap pasang mata bahwa kelumpuhan otak bisa dikalahkan oleh kekuatan tekad yang tidak pernah lumpuh.


Alfa berlari untuk menyebarkan optimisme kesembuhan pasien stroke. "Bukan sembuh berlari seperti saya tetapi, ayo pulih dari kelumpuhan stroke, " u jar Alfa dayang aktif juga sebagai mentor pasien dan keluarga pasien stroke. 


Sebagai penutup, Alfa menyatakan dengan lantang, stroke lumpuh bukan akhir dari segalanya.


Kategori : News


Editor     : AHS

1 Komentar

  1. Tetep menyebar semangat dan optimisme. Jadi panutan bro Alfa.

    BalasHapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama